![]() |
| Background sumber |
Setelah itu saya menuju loket pembayaran dengan motor. Motor sudah terparkir dengan ciamik.
Saya lalu berlari kearah loket yang keliatan antriannya masih kosong.
Tanpa pikir panjang saya langsung mengambil seperangkat uang tunai sebesar Rp. 3.500.000,- dikantung celana sebelah kiri lalu saya serahkan lewat lubang kaca loket tanpa terlebih dahulu menghitung uangnya ke bapak2 penjaga loket sebut saja ia Pak Mukidi yang kumisnya agak lebat.
Selang beberapa detik. Tidak ada sesuatu yang mengganjal dikantong saya lagi.
Memasuki lima detik saya bertanya pada diri sendirI “Kan tadi ada?”
Sepuluh detik, saya memeriksa semua kantong celana saya, mulai masuk ke kantong baju lalu berangkat menuju kantong ajaib.
Hingga sampai satu menit kemudian saya periksa dan jadilah saya pada suatu kesimpulan bahwa :
“UANG JAJAN YANG DIKASIH SAMA IBU JUGA IKUTAN!!!!”
![]() |
| Sumber |
Dia cuma mengangguk-angguk bilang “Pas” trus menyimpan uangnya dilaci dan memberikan saya kwitansi pembayaran spp.
Saya tambah panik, sambil mengambil kwitansi nya saya bilang lagi
“Pak, bisa uangnya dihitung ulang lagi? Soalnya perasaan, ada uang jajan saya yang ngikut”
“Saya hitung tadi sudah pas dek”
MAMPUS!!! Sejenak saya diam.
“Umm.. Tapi pak, perasaan saya tadi ga’ salah pak, uangnya saya simpan dikantong yang
sama, saya lupa tadi ngitung nya pak”
“Hmm” Pak Mukidi malah tidak menanggapi.
“Pak…” Saya mulai gemes liat kumisnya yang lebat. Mungkin uang saya nanti dipakai buat beli wak doyok buat melestarikan kumisnya.
“Nanti saya hitung kalo semua mahasiswa hari ini sudah tidak ada lagi yang membayar, tulis nomormu disini sama nama kamu” sambil memberi saya secarcik kertas dan pulpen. Saya akhirnya mulai lega, akhirnya masih ada harapan uang jajan saya kembali.
Saya pun akhirnya pulang.
Nominalnya tidak banyak sih Rp. 200. 000,- cukup buat blogwalking dan kenalan sama penulisnya.
Setelah dua jam kemudian saya kembali lagi ke loket, antrian nya tinggal dua orang, saya tunggu sampe habis. Pas sampe didepan loket saya bilang “Eee’…. Pak, saya tadi orang yang uangnya ngikut di uang spp” tanganya mengambil sesuatu di bawah mejanya lalu menaruhnya didepan saya.
Saya liat dengan seksama. AKHIRNYA…..yang dia taruh adalah uang sama kertas yang saya tulis tadi.
TAPI…..Tunggu dulu…
Setelah saya hitung-hitung dengan seksama, uangnya kurang SERATUS RIBU!
![]() |
| Sumber |
“Ummm…Pak, kok uangnya kurang seratus?”
“Cuma itu lebihnya dek, saya tadi sudah hitung semua” Nada suaranya mulai naik, mulai emosi, sedangkan nada suara saya sudah kayak cewek yang ditinggal nikah sama gebetannya.
Sejenak saya diam memandangi uangnya, meratapi kemalangan hari ini. Saya jadi tidak rela dibodo2in sama Pak Mukidi kumis wak doyok ini.
“Pak, tapi saya benar2 yakin uang yang ikutan tadi disimpan dikantong yang sama jadi dia ikutan sama uang spp”
“Bagaimana caranya, kalo uang yang saya hitung tadi lebihnya Cuma seratus?” mulai kesel.
Setelah melewati perdebatan yang itu-itu saja, saya mulai diam. Meratapi lagi uang seratusan tadi. Saya mulai berjalan menjauh dari loket, pergi, pulang, lalu membusuk.
Tapi tiba-tiba saya puny ide. Entah, berhasil atau tidak tidak ada salahnya dicoba. Saya dapat ide dari sebuah film keren berjudul “Who am I”.
REKAYASA SOSIAL!!! Ilmu saya dibidang rekayasa bangunan, kenapa tidak mencoba rekayasa lain?
Saya kembali lagi ke loket dengan muka2 pengen digampar dan sedih “Paaaak, saya tidak berani pulang kalo uangnya tidak cukup pak, itu uang tante saya pak yang dia kasih ke saya buat beli
![]() |
| Sumber |
“Saya tadi salah pak, tidak menghitung uangnya terlebih dahulu baru kasih ke bapak” Kepala saya mulai sandar di kaca pembatas loket. Setelah merendahkan diri beberapa kali ke bapak itu dia menjawab
“Kan lebihnya cuma segitu dek, yang ini uang mahasiswa yang lain, kita mau ambil uang darimana?” dia lalu berdiri dan berjalan berbalik arah dari saya.
Saya mulai menyerah. Ampuuun…. Daripada kena stroke dan pingsan diloket pak Mukidi lalu dikasih nafas buatan sama dia mending saya relain uang seratus itu. Saya hanya diam didepan loketnya. Memutuskan untuk nyerah. Ternyata “Rekayasa social” ini juga gagal.
Yang saya pikirkan setelah itu
Diluar dugaan om saya menelpon. Dia bertanya tentang tiket bioskop film “Uang Panai’” apakah sudah saya beli atau belum. Akhirnya saya memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini. Saya berbicara dengannya seakan dia adalah tante saya.
“Masih dikampus” dengan muka2 pengen nangis, si Bapak masih berdiri diam.
“Ia, sedikit lagi, masih ada urusan sebentar”.
“Nanti klo selesai baru saya pergi” Saya agak mengeraskan suara supaya dia jelas mendengarnya. Si Bapak lalu membalikkan badan lalu mengambil sesuatu dilacinya kemudian menaruhnya didepan saya
“Iya, iya. Walaikum salam” si Bapak tadi lalu membalikkan badan, lalu melangkah menjauhi saya.
Benar saja, perjuangan saya tidak sia-sia. Uang sebesar seratus ribu terbaring menggoda didepan saya, tanpa pikir panjang saya mengambilnya.
“Makasih pak!” Saya lalu melangkah menjauh sambil tersenyum.
![]() |
| Sumber |
Sebuah pelajaran yang meningatkan saya bahwa:
1. Kejujuran itu langka.
2. Tidak selamanya tukang loket itu pandai berhitung!




















