• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail


bagaiamana cara kita tahu pilihan kita baik atau buruk ketika kita belum sampai pada jawabannya?

bagaimana kalau kita kandas sebelum tiba pada perhentian akhir?

bagaimana kita melihat kebahagiaan diujung sana, kalau dalam prosesnya saling melukai?

apa yang kita cari?

apakah hidup itu seperti naik gunung terjal?

apakah semua puncak itu indah?

apakah semua perjalanan itu melelahkan?

bagaimana jika puncak itu ternyata buruk?

bagaimana kalau kita buat perjalanannya menjadi indah dan menyenangkan?

kenapa kita tidak pernah benar-benar hidup untuk hari ini?

kenapa kita harus menunggu akhirat?

kenapa kita harus menunggu surga melalui kebaikan duniawi?

kenapa kita tidak bisa merasakannya dalam kebaikan?

dibanding berprasangka dan menjual imajinasi di akhir hayat.

saya lebih ingin melihat surga melalui kebaikan dan kebijaksanaan.

karena saya percaya, masing-masing dari kita membawa surga di hati kita masing-masing.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


malam pukul satu pagi, setelah menyantap nasi dan mi goreng.

malam ini saya kenyang akan dua hal. makanan dan drama rumah tangga.

barangkali sisa hidup saya kedepan akan banyak menghadapi bumbu-bumbu semacam ini. tapi entah kenapa kali ini rasanya membuat saya lebih kesal.

mungkin karena bertepatan dengan kondisi keuangan yang sulit. baru saja pekerjaan yang membuat saya berada di zona nyaman berakhir.

perenungan ini membuat saya kembali mengingat perenungan yang dulu-dulu. entah kenapa dari dulu saya suka merenungi hidup saya kedepan. ketika gagal lolos sekolah favorit, gagal tes masuk universitas dan kali ini karena jobless.

pada akhirnya saya kembali pada perenungan tentang bagaimana saya akan menjalani hidup kedepan dan masa depan yang kembali tidak pasti.

dibalik jendela mobil yang sedang melaju, ditengah rintik hujan dan malam yang sunyi. pikiran saya melambung seiring dengan hembusan nafas yang seringkali baru saya sadari dalam keadaan seperti ini.

jantung saya berdetak. pikiran saya bekerja tanpa perintah.

apa itu sukses dan gagal di mata orang-orang? dan kenapa pendapat akan kata sukses itu makin penting di kepala saya? ambisi yang besar saja rasa-rasanya tidak cukup.

setiap langkah rasanya menjadi lebih berhati-hati karena saya dipaksa membawa kehormatan keluarga di sana.

cemas.

kenapa kita harus bertanggung jawab terhadap hidup seseorang?

kenapa uang dan harga diri sekarang jadi jauh lebih penting?

schopenhouer mungkin benar, bahwa setiap pilihan masig-masing memiliki konsekuensi. memilih atau tidak memilih pasti akan selalu ada penyesalan dibaliknya.

tapi pertanyaannya adalah, apakah kadar penyesalannya sama?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

bagaimana rasanya tumbuh kembang dikelilingi orang tua yang suportif?
bagaimana rasanya ditemani orang tua di hari pernikahan?

bagaimana rasanya sukses atas pilihan yang kita pilih sendiri?

bagaimana rasanya hidup tanpa tuntutan siapapun?

bagaimana rasanya wisuda ditemani kedua orang tua?

bagaimana rasanya bangun pagi tanpa memikirkan kecemasan hari ini?

bagaimana rasanya didukung atas cita-citamu yang remeh itu?

bagaimana rasanya dikelilingi teman dan sahabat yang saling hormat dan mendukung satu sama lain?

bagaimana rasanya kaya raya tanpa memikirkan ketakutan akan takut gagal?

bagaimana rasanya lepas dari tanggungan orang tua?

bagaimana rasanya lebih sukses dan kaya dari orang tua?

bagaimana rasanya lepas dari kontrol si botak tua?

bagaimana rasanya punya rumah dan mobil hasil dari keringat sendiri?

bagaimana rasanya punya uang satu milyar direkening?

bagaimana rasanya jadi penyanyi dan penulis yang karyanya dikenal dan sukses?

bagaimana rasanya hidup di ibu kota?

bagaimana rasanya hidup abadi dalam karya-karya?

bagaimana rasanya membuktikan ke botak tua kalau saya bisa lebih sukses dari dia?

bagaimana rasanya berkelimpahan agar bisa membantu banyak orang?

bagaimana rasanya keliling dunia?

bagaimana rasanya naik haji dan umrah di makka?

bagaimana rasanya dekat dengan Tuhan?

bagaimana rasanya meyakinkan diri saya kalau saya bisa?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
beberapa hari setelah saya meninggalkan usaha orang tua.

mobil nabrak. mulai jualan cold pressed juice lagi. buka kelas menulis (yang sampe sekarang belum ada pendaftar). mulai aktif cari info job mc. dan makin banyak ide-ide lain yang ingin saya kerjakan. jualan es kristal, dimsum, jadi supir grab, dll. peluangnya banyak. tinggal menunggu eksekusi saja dan liat mana yang berhasil.

akhir-akhir ini entah kenapa saya selalu merasa takut. takut gagal. takut keputusan yang saya buat kemarin membuat saya menyesal di kemudian hari. takut tidak bisa lebih besar usaha orang tua saya. saya benar-benar takut mengecewakan istri saya dan diri saya sendiri.

beberapa kali kemarahan datang. ia selalu tertuju kepada si botak tua. saya benci ketika harus mengakui bahwa dia masih memiliki kendali penuh atas orang-orang rumah. dengan keadaan yang ketidak warasan yang makin hari, makin jadi. saya takut semuanya jadi hancur. ditambah lagi dengan adik saya yang sekarang jadi pengendali namun nalar nya dimatikan oleh rasa takut.

dari sini, saya masih sering memantau. beberapa keluhan mulai sering terdengar. namun lebih sering suara-suara yang meminta saya untuk bersikap dewasa dan kembali mengelola usaha.

keluarga mama saya mulai sulit memisahkan entitas antara mama saya dan usaha yang ia bangun. mereka melihat ketika saya meninggalkannya, berarti saya juga mengkhianati usaha mama saya. mereka takut ketika usaha yang dibesarkan oleh mama hancur.

selama si botak tua masih di sana, saya masih sulit melihat cahaya terang di ujung sana kecuali kabut gelap. di sisa umurnya yang makin sekarat, yang bisa saya lakukan hanya menunda kerusakan yang ia ciptakan semakin banyak.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments




baru saja saya membuat keputusan besar dalam hidup.

saya akhirnya berhenti melanjutkan usaha orang tua yang cukup mengekang dan memilih untuk berkarir di Makassar.

Rasanya?

Tidak ada satu perasaan yang menetap dalam hati saya. Semuanya campur aduk. Satu sisi saya sedih karena harus meninggalkan segala rutinitas saya selama mengelola usaha. Saya sedih harus meninggalkan pekerja dan orang-orang yang saya kenal selama lima tahun menjalankan usaha. Rutinitas saya mendadak berubah.

Saya juga takut. Takut memikirkan apa yang ada di depan saya. Jawaban dari hasil keputusan ini sebenarnya terletak di akhir cerita yang masih jadi misteri takdir. Kalau saya sukses (semoga dan saya pasti sukses) saya akan menganggap ini adalah keputusan terbaik seumur hidup saya. Tapi jika tidak, saya hanya takut menyesalinya. Satu hal yang perlu saya rayakan dari pilihan ini adalah saya berhasil melepaskan diri dari manipulasi dunia gelap si botak.

Selain itu saya juga merasakan kebebasan. Tidak lagi dikekang dan dituntut harus melaporkan segala laporan keuangan kepada si botak. Mimpi-mimpi yang dulu sempat saya kubur, sekarang pelan-pelan mulai terlihat kembali seperti matahari yang terbit di sela-sela bukit. Hasrat untuk berdiri diatas kaki sendiri itu kembali muncul lagi. Bahkan lebih besar seperti dendam yang harus saya buktikan. Bahwa saya bisa lebih besar dari apa yang si botak berikan. Dia mengira sedang memberikan saya perlindungan dan tempat yang aman. Padahal sebenarnya di sana saya merasa sedang berada dalam sangkar yang mengekang.

Hari ini saya keluar dari sangkar. Terbang bebas. Saya tidak tahu kemana hidup akan membawa saya. Satu hal yang pasti, saya akan terus berbuat baik dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada saya. Saya akan terus terbang.

Selama di sana cahaya masih terlihat, saya tidak peduli berapa kepak yang perlu saya ayunkan, saya akan menuju kesana.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

hari ini hujan lagi.

hujan selalu turun bersama kerinduan akan hari sebelum kelahiran datang.

kadang-kadang kita menunggunya reda seperti menunggu kapan kematian memeluk.

hari itu saya singgah berteduh di teras rumah orang setelah bepergian entah kemana dengan motor.

sendirian.

entah kenapa saya selalu tersadar bahwa kita memang sendirian ketika hujan.

ya, kita memang sendirian.

tidak punya apa-apa untuk dipeluk selain kematian.

pencipta kehidupan menghamburkan sisa-sisa kebahagian.

manusia hidup hanya untuk memunguti kebahagiaan yang berserakan.

kadang yang kita temui kebahagiaan. kadang penderitaan.

seperti ayam yang menunggu untuk disembelih.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

menjelang tahun 2025 hidup saya resmi memasuki babak baru. saya merasa akan ada banyak keputusan-keputusan besar yang saya buat dalam episode ini. saya kira setelah menikah saya akan diberi kesempatan untuk sedikit istirahat dan menghirup nafas panjang sebelum berlari lebih jauh lagi. tapi nyatanya menjadi tulang punggung di dua keluarga itu tidak mudah.

berhadapan dengan seorang bapak yang tidak bisa berkompromi dengan pendapat anaknya itu rasanya berat sekali. tidak ada celah bagi saya untuk mempengaruhi dan memberi masukan terhadap keputusan-keputusan tolol yang sudah dia buat. keputusan yang bebannya ia lemparkan ke pundak saya.

orang bilang 'enak ya kamu, punya orang tua yang sudah punya banyak aset untuk diwariskan ke anak-anaknya'. awalnya saya juga mengira akan begitu. tapi setelah dijalani, rasanya lebih baik berdiri di kaki sendiri, lepas dari bayang-bayang orang tua yang merasa dirinya punya hak atas hidup anak-anaknya yang sudah bisa memilih jalan hidupnya sendiri. dengan menerima dan hidup atas semua aset yang dia teruskan kepada saya, rasanya seperti berenang di kolam air asam yang pelan-pelan mengikis kulit saya hingga ke tulang belulang.

belum lama ancaman akan pertikaian dengan saudara ketika kelak mereka beranjak dewasa. sering sekali terjadi ikatan persaudaraan antara kakak beradik pecah hanya karena memperebutkan warisan.

meneruskan usaha keluarga memang terlihat menyenangkan. usaha yang sudah besar dan dikenal serta sistem yang sudah jadi, saya memang hanya meneruskan dan membuat semuanya menjadi lebih baik lagi. tapi tetap saja, saya tidak pernah tenang.

kelihatannya ini semua mudah di awalnya saja. besok-besok mungkin hidup akan jauh lebih berat lagi.

pilihannya hanya pergi dengan rasa berdosa, atau tetap tinggal dengan hati yang terjajah.

kedua pilihan itu terdengar tidak ada yang masuk akal dikepala saya.

satu-satunya yang masuk akal hanya menghilang atau mati.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 Saya percaya bahwa suatu saat saya akan menulis postingan seperti ini di blog. Postingan yang isinya tulisan mengenai buku pertama saya.

Yes, finally my first book is born!

Seneng? Pastinya. Bertahun-tahun yang lalu cuman bisa mimpi kalo suatu saat pengen punya buku sendiri. Dan akhirnya itu terwujud hari ini.

Buku pertama saya berjudul Architecture 034. Berisi kumpulan jurnal/ catatan harian selama kuliah di arsiktektur. Banyak tulisan-tulisan di dalamnya yang pernah saya muat di blog sebelumnya. Tentunya semua cerita di dalamnya di kemas dalam kacamata komedi yang hopefully, lucu.


Buat kamu yang mau beli, buku ini bisa di dapatkan di Tokopedia dan Shopee penerbit One Peach Media.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Reyhan Ismail, Batam

Siapa yang tidak tahu kota Batam?

Kota terbesar di Provinsi Riau yang terkenal karena katanya barang-barang elektronik di sana murah-murah. Kota yang katanya transaksi barang-barang ilegalnya cukup gmpang dan kota yang katanya bisnis prostitusinya sangat terjangkau. Terakhir sih, saya cek ada yang cuman 20.000. 

Anjaay. Itu bisnis prostitusi apa bisnis martabak markobar.

Pertama kali saya ke kota Batam waktu itu pas Kuliah Kerja Lapangan. Sehabis ke Malaysia dan Singapura, saya dan teman-teman angkatan yang berjumlah kurang lebih 50-an orang naik kapal laut menuju Batam pada sore harinya. Sampai Batam malam hari, kami langsung istirahat di hotel.

Share
Tweet
Pin
Share
14 comments


Reyhan Ismail

Woiiiiyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy. 

Apa kabar!???????? T_T

Baik.

Allhamdulillah.

Kangn bgnt ngeblog anjeerrrr.

Sekarang saya lagi sibuk mikirin kapan waktu yang tepat buat negrjain skripsi. 

Dulu saya pikir apa si susahnya kerja skripsi. Itu dulu waktu saya masih sekolah. Waktu masih sering baca-baca konten soal skripsi di medsos. Akhrinya sekarang saya tahu susahnya skripsi itu apa. 

Yaitu...

Ngumpulin mood T_T

Padahal one step closer, Ya Allah.

Ternyata hal-hal yang terlihat mudah itu yang paling susah dilakuin. Soalnya kalo kita melihat sesuatu terlalu mudah, yang ada bawaannya diremehin mulu. Ujung-ujungnya, nanti-nanti, gampang ituu, besok aja deh, tahu-tahu udah lewat lagi satu semester, tahu-tahu ditunda lagi sidangnya, tahu-tahu udh 7 tahun kuliah, tapi blum wisuda. wdawwwww.

Saya menulis tulisan ini pas mau kerja skripsi. Tapi entah kenapa yang kepikiran malah menulis blog. Ini apa yang salah dengan saya Ya Allah....

Minggu depan terakhir ada ujian buat hasil. Kalo nda ikut ujian hasil, berarti harus ditunda sampe semester depan lagi. T_T

Maaf kalo tulisan ini terlalu banyak bacott nya. Maaf kalo tidak berfaedah. Saya Rey mohon pamit undur diri.


Share
Tweet
Pin
Share
12 comments

Reyhan Ismail, Magang, Mall Nipah Makassar

KKN versi anak teknik di kampus saya itu ada tiga pilihan, pertama KKN Reguler. Ini KKN versi yang sering kita liat. Di mana mahasiswanya disebar ke kampung-kampung terpencil untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat.

Kedua, ada KKN PPMD. Saya lupa kepanjangannya apa. Hampir sama dengan KKN Reguler. Bedanya, daerah yang ditempati adalah daerah atau desa yang di bina oleh Universitas.

Terakhir, itu tadi yang saya maksud ; KKN Profesi. Kalo bahasa awamnya, magang. Magangnya di perusahaan-perusahaan atau biro arsitektur. Bisa perusahaan konsultan, bisa perusahaan kontraktor, yang jelas bukan di perusahaan jual beli followers.

Share
Tweet
Pin
Share
35 comments


Davincioners, KP Pelaksanaan, Kerja Praktek Pelaksanaan, Magang, Aristektur

Menuai kesuksesan dengan laporan yang paling cepat di-ACC di KP Perencanaan semester lalu, ditambah dengan satu-satunya satu-satunya kelompok yang dapat ‘uang saku’ di KP Pelaksanaan, maka saya tidak perlu mati-matian mencari teman kelompok lagi. Beberapa teman-teman diam-diam menghubungi saya, ada yang chat, ada yang kasih kode dan ada yang bersyukur kalo saya panggil satu kelompok. Termasuk Tiwi yang sekali lagi tidak kapok satu kelompok dengan saya, walaupun saya sudah mengkhianatinya di KP Perencanaan kemarin, Dan di KP Pelaksanaan kali ini, saya tetap melakukan hal yang sama.

Kali ini bukan karna tergoda untuk masuk di kelompok Kak Johan kembali. Lagian Kak Johan dan Kak Adi waktu itu juga sudah dapat kelompok. Tapi karna panggilan dua perempuan yang  di kucilkan dari pergaulan. Namanya Amel dan Dewi.

Share
Tweet
Pin
Share
26 comments



Reyhan Ismail, Wisuda, Sarjana, Skripsi, Universitas Muslim Indonesia, Arsitektur
Kalo saya sudah jadi raja Wakanda..

Setiap Ibu menelpon. Pasti pertanyaan itu selalu terselip di tengah-tengah atau diakhir pembicaraan. Pertanyaannya adalah :

“Jadi kamu kapan selesai?”

Kadang-kadang baru dua hari yang lalu dia nelpon buat bertanya hal itu, hari ini dia juga menanyakan hal yang sama. Dipikiran saya, mana ada sih orang yang mau lama-lama selesai? Jujur, saya juga sudah mulai bosan kuliah. Satu-satunya tujuan untuk datang ke kampus itu cuman satu. Yaitu : BUAT SELESAI KULIAH.

Semangat kuliah di awal-awal itu tidak seprti dulu. Kalo dulu, awal-awal semester kita
Share
Tweet
Pin
Share
10 comments





“Setiap kelompok berisi tiga orang. Terakhir penunjukan SPK (Surat Perintah Kerja) dua minggu, mulai hari ini.”

Begitulah pengantar yang diberikan Ibu Suba sebelum kami mulai mencari tempat Kerja Praktek. Nama lengkap Ibu Suba adalah Ibu Subaidah.

KP atau Kerja Praktek Perencanaan adalah magang yang berfungsi untuk menambah pengalaman kerja mahasiswa arsitek dengan terjun langsung di kantor konsultan perencanaan arsitektur. Mulainya semester 6.

Semua mahasiswa mulai sibuk mencari kelompok yang bermutu demi menyelamatkan dirinya masing-masing. Dalam proses mencari kelompok seperti ini, mahasiswa pintar dan rajin biasanya cepat laku, sedangkan mahasiswa yang terkenal malas dan kurang pintar biasanya harap-harap cemas mencari kelompok secepat mungkin. Dan yang paling parah adalah mahasiswa  goblok yang tidak tahu diri. Biasanya kalo momen rebut-rebutan teman kelompok seperti ini mereka cuman diam dan sok jual mahal, nunggu dipanggilin atau menunggu di kasihani.



Saya dengan sigap, mulai mencari-cari teman yang diperkirakan belum punya kelompok namun cerdas nan rajin, supaya bisa saling melengkapi. Tanpa merendahkan kualitas diri dan tetap jual mahal, mata saya langsung mencari Ulla. Orang yang termasuk pintar dan rajin di angkatan.

“Ehm, bro, kau sudah punya kelompok kah?”
“Iya rey, sudah ada, saya satu kelompok sama Aziz dan Aris”
“Oh, sudah cukup 3 berarti”
“Coba tanya Agus, dia belum punya teman kelompok kayaknya”

Ulla benar-benar tidak tau bagaimana si Agus. Satu kelompok dengan dia sama saja dengan bunuh diri. Dia memang ramah dan bersahabat, kalo sampai di kampus dia selalu menyapa “Selamat pagi” pada teman-teman. Walaupun hari sudah sore.

Ditambah saya yang cepat terpengaruh dengan pergaulan. Kalo kita satu kelompok, mungkin yang datang ke kantor cuman harapan yang menunggu kepastian.

Selesai kuliah saya langsung berjalan menuju jurusan sambil meneriman kenyataan bahwa semua teman sudah punya kelompok. Bahkan si Agus katanya juga sudah punya. 

Tunggu dulu. Kelompok dermawan mana yang mau menerima si Agus?.

Sambil berjalan menuruni tangga, saya bertanya ke group angkatan. Barangkali masih ada teman yang belum dapat kelompok. Tiba-tiba pesan masuk. Dari Tiwi.

Tiwi : Kita satu kelompok saja.
Rey : Satunya siapa lagi?
Tiwi : Satunya Masrurah. Cukup kan bertiga?
Rey : Oiya, kalo begitu saya masuk dikelompokmu.

Satu kelompok dengan Tiwi dan Masrurah bukanlah ide yang buruk. Walaupun cuman saya yang cowok. Tapi setidaknya mereka berdua termasuk teman yang rajin.
Seminggu berlalu, berbekal google maps dan link dari senior, saya sudah hampir mendatangi lima kantor yang ada di list. Diantaranya adalah ;

1.      PT. Terserah Kamu
Saya dapat kontak kantor ini dari salah satu senior. Kantor ini adalah prioritas utama. Karna katanya, bos yang ada diperusahaan ini baik sekali, karna walaupun tidak pernah masuk kantor, bosnya tetap kasih nilai A buat mahasiswa yang magang disana. Sungguh kantor idaman orang seperti Agus.

2.      PT. Konsultan Geografis
Ini salah masuk kantor…

3.      PT. Punya Teman Om
Saya dapat kantor ini dari Om yang kebetulan punya banyak teman konsultan perumahan. Katanya proyeknya banyak. Perumahan. Anggarannya besar-besar semua. Tapi sampai sekarang belum ada kabar. Kayaknya proyeknya perumahan wallet.

4.      PT. Jangan Main-Main
Kantor ini pernah ditempati juga sama senior. Saya dapat alamatnya juga langsung dari senior. Waktu itu saya datang sendiri. Pas habis ketuk-ketuk pintu, tiba-tiba om-om keluar dari garasi mobil sambil menelpon.

“Iya, kenapa?”
“Saya mau tanya om, di sini PT. Jangan Main-Main ya?”
Tangan om itu langsung menggeleng-geleng. Memberi isyarat ‘bukan’.
“Oiya, makasih om”

Tangan om itu masih menggeleng-menggeleng. Saya baru mengerti waktu dia menunjuk handphone di telinga kanannya dan bilang :

“Sorry, bukan kamu. Ini lagi nelpon”



Masih sambil menelpon, si om langsung menyuruh saya masuk lewat garasi kantor itu. 

Melewati koridor, saya sampai di kantor tempat kerjanya. Di ruangan kantor itu, semua orang pada sibuk, ada yang mendesain lewat komputer, sketsa gambar, menghitung RAB dan ada yang diskusi gambar. Sedangkan saya memperhatikan semuanya dari luar kantor sambil gemetaran. Ini saya belum memperkenalkan diri dan menjelaskan niat datang kesini, tiba-tiba langsung di suruh masuk.

“Kamu duduk di sini dulu, nanti saya panggilkan Pak Taufik”

Bermodalkan tekad dan rasa tidak punya malu yang tinggi, beberapa menit kemudian saya langsung disuruh bicara sama pemilik biro konsultan tersebut.

“Jadi, kamu anak yang mau magang di sini?” Saya heran, tiba-tiba Pak Taufik langsung tau maksud kedatangn saya ke sini, walaupun belum pernah saya kasih tau.

Belakangan, saya baru tau, ternyata anak magang yang di maksud Pak Taufik itu adalah Kak Adi dan Kak Johan, dua senior yang kebetulan mau magang di sana juga. Mereka yang lebih dulu menghubungi Pak Taufik secara langsung buat datang ke sana, minta izin. Tapi secara kebetulan yang datang secara membabi buta malah saya.

FYI, mata kuliah Kerja Praktek Perencanaan ini membatasi mahasiswanya magang minimal satu kelompok di satu biro konsultan. Lebih dari satu kelompok di satu biro konsultan tidak di perbolehkan. Bisa di simpulkan salah satu kelompok kami, yaitu kelompok saya dan kelompok Kak Johan harus mengalah salah satunya untuk bisa magang di tempat Pak Taufik. Pilihan ke duanya jika tidak ada yang mau mengalah adalah perang skill siapa yang lebih layak. Setelah dilihat-lihat ke dua teman kelompok saya (Tiwi dan Masrurah) ternyata tidak terlalu memiliki skill mumpuni, begitupun saya. Maka saya memilih opsi ketiga ; Bikin perusahaan sendiri.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap bertahan di tempat Pak Taufik, menunggu kelompok Kak Johan mengalah. Seminggu setelahnya saya mencium bau-bau keguguran dari kelompok kami. Masrurah di duga tidak memenuhi syarat untuk mengikuti Kerja Praktek Perencanaan ini, beberapa nilainya di vonis masih ada yang bermasalah. Sekarang tinggal ada saya dan Tiwi. Melihat kemampuan kami yang tidak seberapa dan dibayang-bayangi oleh pertanyaan Pak Taufik waktu itu

“Kamu bisa pake Sketchup sama AutoCad kan?
Dan dengan sombongnya saya berkata “Iya, bisa pak”
“Hitung anggaran bangunan bisa?”
Dengan sombongnya lagi saya berkata “Bisa, bisa pak. Di kampus sering belajar itu, hehe”
Kenyataannya nilai mata kuliah Manajemen Proyek ku waktu itu dapat nilai E.

Maka dengan itu, demi kemaslahatan kelompok. Saya sebagai ketua kelompok memutuskan dengan berat hati untuk membubarkan kelompok ini secara sepihak. Kemudian berkhianat ke kelompok Kak Johan. Ehehe.

Iya, saya masuk ke kelompok Kak Johan yang kurang satu orang. Disitu saya merasa egois karna mememilih keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan Tiwi. Terkadang kita memang harus memilih keputusan yang pahit karna cuman itu keputusan yang paling logis. Saya selalu berusaha berpikir logis dalam setiap mengambil keputusan. Seperti keadaan yang mengancam karir mahasiswa saya ini.

Hari-hari selama di kantor saya mengenal beberapa orang baru. Selain Pak Taufik, saya juga mengenal Kak Yudi dan Kak Fathur. Mereka berdua yang membimbing kami selama di sana. Selain itu ada juga Mba Yuni yang tidak lain adalah istri Pak Taufik, katanya asli orang Jogja. Ada juga Opa, saya tidak tau nama aslinya, yang jelas selama saya di sana, orang-orang hanya memanggilnya Opa. Umurnya sekitar 60-70-an. Selama di sana saya paling suka mendengar cerita-cerita Opa sewaktu masih muda. Dia dapat beasiswa S2 di Jerman, pernah bekerja di perusahaan Oil and Gas. Saya banyak dapat inspirasi dari Opa. Di umur yang begitu tua, dia masih tetap bekerja dan tidak mau menyusahkan orang lain, terutama anak dan cucunya.

Dan yang paling saya ingat adalah si Ade, anaknya Pak Taufik. Kalo tidak salah dia anak pertama dari dua bersaudara. Si Ade ini masih SMP. Badannya gendut. Saya perkirakan beratnya 60-70 Kg. Rambutnya keriting tidak terlalu panjang. Di minggu-minggu pertama saya masuk kantor, si Ade ini tanpa sungkan langsung menjabat tangan kami satu persatu dan bilang :

“Perkenalkan, saya Ade. Saya manajer di sini” dengan mulut berminyak sambil mengunyah pisang goreng.

Waktu itu saya langsung percaya dan langsung tunduk dan hormat sama Pak Ade ini sebelum satu hari di kantor saya menemui dirinya berseragam pake dasi dan celana panjang biru tua sambil main game dengan telinga tertutupi headset. Ternyata masih SMP!

Tahu si Ade ternyata masih SMP, saya tidak bisa langsung menaboknya begitu saja. Beliau masih saya hormati karna si Ade ini tetap anaknnya Pak Taufik. Bos kita semua. Hingga di minggu terakhir magang, saya di permalukan olehnya.

Sore itu beberapa hari sebelumnya saya tidak masuk kantor karna ada beberapa kesibukan di kampus. Setelah menghilang beberapa hari di kantor, saya mulai merasa canggung untuk datang ke sana lagi. Apalagi Kak Johan bilang saya di cari sama Pak Taufik beberapa hari terakhir. Hari itu saya memberanikan diri untuk datang ke kantor. Awalnya orang-orang kantor biasa-biasa saja dan tidak ada yang bertanya “Kemarin kamu kemana?” atau “Kok baru muncul?” bahkan Pak Taufik juga tidak bertanya apa-apa.

Hingga sore hari, dua jam sebelum pulang saya duduk di depan komputer sambil mengerjakan gambar yang ditugaskan. Tiba-tiba si Ade datang
“Wah, wah, wah. Ini nih” tangan panjang dan berlemaknya langsung nunjuk ke saya.

Saya berusaha dan pura-pura sibuk melihat computer.
“He! He! Pura-pura tidak liat lagi. Siapa lagi namanya ini?”

Sadar, daripada dia tambah ribut dan jadi perhatian orang satu ruangan saya langsung nengok ke dia

“Iya?”
“Kamu, kenapa baru datang? Kemarin-kemarin menghilang tidak ada kabar”
“Hahaha” Berusaha menahan malu.
“Ini, kemarin sibuk asistensi tugas di kampus, hehe”
“AH! Banyak alasan juga, sekalian saja besok-besok tidak usah datang (berhenti).” 
“Hehehe” waktu itu tidak tau mau ngomong apa lagi selain ngetawain diri sendiri, orang-orang satu ruangan langsung melirik ke saya. Saya malu setengah mati. Harga diri saya langsung rontok saat itu juga. Pulpen jatuh dibawah meja, saya pura-pura tunduk berlama-lama buat mengambilnya sambil menghilangkan efek ‘malu’ yang mendera. Kalo bisa sih nunduk aja terus, gak usah bangun-bangun.

Walaupun punya manajer yang ceplas ceplos seperti si Ade. Pada akhirnya kantor ini tetaplah kantor pertama dan terbaik yang pernah saya tempati. Dari semua kelompok mahasiswa yang Kerja Praktek, cuman kantor ini yang memberikan ‘uang saku’ perminggu buat mahasiswa magangnya.

KP Perencanaan, Reyhan Ismail, Magang, Arsitektur, Proyek
Salah satu mandor yang paling keren sedang berfoto di lokasi proyek.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Taufik karna sudah menghargai hasil kerja kami di sana. Tidak sekedar memanfaatkan tenaga anak magang untuk menyelesaikan semua pekerjaannya tanpa memberi pelajaran sesuai latar belakang pendidikannya (disuruh bikin kopi misalnya). Tidak banyak orang-orang seperti Pak Taufik ini diluar sana yang mau menghargai dan memahami arti sebuah desain. Kebanyakan orang-orang masih memandang sebelah mata dan menganggap desain itu adalah pekerjaan yang mudah.

Mereka hanya belum paham bagaimana rasanya mengkhianati teman kelompok sendiri dan dipermalukan anak SMP. T_T

-----

Sumber GIF : https://giphy.com/

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments


Kuliah jurusan arsitektur, Reyhan Ismail, Rumah minimalis, Desain rumah minimalis, sarjana arsitektur, wisuda, skripsi


Ditulisan ini saya sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan jurusan dan fakultas lain. Ini hanya dari hasil pengamatan saya selama dua menit, dalam membanding-bandingkan jurusan arsitektur dengan jurusan dan fakultas lain. Sungguh, tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa jurusan lain lebih mudah menjalani kuliahnya daripada jurusan kami. Saya menulis ini hanya untuk menghindari orang awam yang menyamakan semua jurusan dimuka bumi dengan bertanya “Si Mukidi (anak ekonomi) sudah selesai – 4 tahun – kamu kok belum?”, “Si Ciwang (anak hukum) sudah selesai – 3,5 tahun – kamu kapan?”, “Si Doel (anak betawi asli) sudah selesai, kamu jangan malas-malas kuliahnya dong”

Share
Tweet
Pin
Share
13 comments


Reyhan Ismail, Kolokium, Universitas Muslim Indonesia, Arsitektur


Hari itu saya sangat ingat, hari Rabu 4 Oktober 2017. Hari dimana-Kita sebut saja namanya- Pak Bambang menerima judul “calon” tugas akhir saya dengan perasaan yang penuh dengan apresiasi.

Share
Tweet
Pin
Share
21 comments


Salah satu tempat yang sering dijadikan lahan tempat parkir.
Lokasi : Jl. Boulevard Panakukang Makassar

Dalam postingan kali ini, saya akan membahas beberapa hal menyangkut etika dalam ber-arsitektur yang sering saya temui di Makassar.

Di kota-kota besar seperti Makassar, dijalan-jalan umum yang terdapat bangunan komersil disisinya, kerap kali saya menemukan sebuah ruang tempat parkir dimana tempat parkir tersebut tidak tertata dengan baik. Akibatnya seringkali ruang yang tidak tertata ini sering menimbulkan kemacetan di jam-jam yang padat lalu lintas.

Satu titik yang bisa menjadi contoh tempat parkir liar di Makassar yaitu di Jl. Boulevard (samping Mall Panakukang). Di jalan bahu ini bisa kita temui maraknya terjadi parkir liar yang mengganggu arus lalu lintas di jalan tersebut apalagi dipagi dan sore hari, dimana biasanya orang-orang berangkat dan pulang dari aktifitasnya sehari-hari.

Selain mengganggu arus lalu lintas, tempat semacam ini juga bisa dibilang sangat mengganggu pemandangan karna tempatnya biasa berada didepan ruko pedagang.

Kenapa parkir liar bisa terjadi?

Share
Tweet
Pin
Share
10 comments


Post yang telat dua minggu, yoweslah lanjut saja, krna post ini saya jadi g bisa move on. ASLI!

****

Yooo, salam.
Subuh ini saya  sedikit mau mengungkapkan kekecewaan yang terjadi terhadap makhluk yang bernama mahasiswa arsiktek. Tolong jangan remehkan arti sebuah liburan bagi kaum kami terutama mahasiswa arsitektur yang jones (silahkan angkat tangan kawan2)

Jadi ceritanya begini...

Sumber: Klik disini

Semua bermula ketika rapat yang membicarakan tentang "Studi ekskusi" yang akan diadakan oleh salah satu mata kuliah yang bernama "Perkembangan arsitektur 2" yang rencananya akan dilakukan di pantai dewata bali. Yeaaaayyyy. 

Momen ini adalah momen yang ditunggu2 bagi kaum kami, sangat ditunggu2. Terutama saya sendiri. Kemana2, dimana2 dan sampai mana, ketika dipanggil untuk refreshing baik itu ke pantai, mendaki, karaoke atau mendaki sambil karaoke, saya selalu menolak dengan alasan mau mnyelesaikan tugas secepat mungkin supaya bisa melampiaskan  hasrat dan nafsu bejat liburan nntinya ketika studi ekskusi di Bali (gw sangat berharap. SANGAT!)

Berhubung kami (angkatan 2014 arsitektur) sedang menjalani proses untuk menjadi bangkai hidup yang berjalan (dibaca; smester 3)  kami sangat antusias ketika rapat2 yg membahas tntang studi ekskusi ini, terutama rapat pembentukan panitia yang terdiri dari Ktua panitia; Sekertaris; Bendahara dan Babu-babu yang minta nyusu (Nah itu gue).

Sebelum itu kami tentunya mencari orang yang bisa menunjukkan, mengarahkan dan meng- service kami disana. Tidak lain dan tidak bukan terlebih dahulu kami harus mencari travel yang tepat dan bersahaja dalam segi uang dan pelayanan.

Sebulan sebelum keberangkatan, kami sdah menemukan travel yang tepat untuk menemani kaum kami ketika disana (Bali). Rincian yang membuat kami setuju dengan travel tersebut adalah :

1. Jumlah pembayaran keseluruhan dari travel tersebut adalah Rp. 1.900.000 (sudah               termasuk uang naik elang. Gak lah pake pesawat Garuda (pulang pergi), makan, Bus           dan hotel (salah satu hotel di Jl Legian Bali) selama 4 Hari 3 Malam.
2. Pihak travel adalah kenalan dari keluarga kaum kami. Jadi 80% kami percaya lah.
3. Sebagian dari kaum kami lebih tergiur dengan harga miring dari travel tersebut.
4. Uang Rp. 1.900.000 itu juga sudah termasuk baju Studi ekskusi supaya kami selaras.

Hari demi hari, tugas demi tugas dan penderitaan tiada henti terjadi di semester 3 kemarin, Hingga sampai tulisan ini diterbitkan bayang2nya tetap mengitari otak ini (tsahh). Pembayaran juga telah kami lakukan sesuai nominal yang ada diatas dan tak lupa pula kumpul KTP, cuci kaki, minum susu trus tidur skalian..

Dan tepatnya seminggu sebelum pemberangkatan, setelah final. Lahirlah informasi dari ketua panitia bahwa kami (Angktan 2014 yang digabung dengan angkatan 2013) akan berangkat pada tanggal 10 Februari subuh pukul 06.00 dan 06.40. (dua keberangkatan).

Tiga hari sebelum keberangkatan saya sudah membuat mind map untuk segala sesuatu yng perlu disiapkan. Kalo g percaya silahkan liat dibawah ini.


Saya buat ini dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.
(2 jam stengah, sepetiga wage)


And then, Sehari sebelum hari pemberangkatan, kami melakukan rapat lagi untuk membrikan panitia kesempatan menyampaikan jadwal tour kami ketika smpai disana, agenda kegiatan penelitian dan proses pengambilan data. yang juga dihadiri oleh dosen pembimbing mata kuliah tersebut.

Dalam rapat tersebut ketua panitia bilang "Baju nnti malam sudah selesai dan sudah bisa diambil" Kami pun menyambut kabar tersebut dengan suka cita sambil berpelukan satu sama lain lalu perasaan saling suka mncul, kami pun jadian dan hidupp bahagia (The end continue)

Hm. Setelah rapat, tekad kami semakin kuat untuk berlibur dengan suka ria di Pantai dewata Bali. Yeaaayyyy!!!

Sekira di sore hari tepatnya malam ini, kau rindukan aku...(nyanyi). Serius, tepatnya disore hari berwarna biru, sebiru hatiku (lagi). Sorry saya terlalu depresi mengingat kejadian sore itu.

Hm, Okaoke. Teptanya sore itu di group line angkatan kaum kami mncul obrolan seperti dibawah ini.

Itu artinya keberangkatan kami ditunda. Karna elang nya lagi hamil 2 stengah kliwon.

Setlah mendegar kabar miring dari harga miring tersebut. slah satu teman saya mengupload foto dari tmannya yg bekerja di maskapai tmpat kami mmsan tiket. 



Ya Allah.
Jadi ceritanya si travel ini uangnya dibawa lari sama pihak ketiga yg ia percayakan untuk memesan tiket pesawat (cerita dari versi yg saya dngar dari teman)

 Setelah itu malamnya sama2 kami berkumpul di wrkop. berdiskusi begaimana peneyelesaian nya bersama pihak travel, itupun tanpa sepengetahuan dosen bahwa keberangkatan ditunda. 

Diwarkop tersebut di putuskan bahwa keberangkatan kami yang awalnya hari Rabu, tanggal 10 Februari 2016 dipindahkan sehari setelahnya atau besoknya dihari Kamis tanggal 11 Februari 2016 dengan jadwal yang sama. Dengan catatan dosen diberangkatkan pada tnggal 10 itu. 

Ya mau bagaimana lagi nasi sudah jadi karbohidrat. Keputusan itu didasari oleh ketakutan kami kepada dosen yang sudah menyiapkan barangnya dan pamit dngan istri, anak. nenek moyang trus besoknya tidak jadi, mau dibawa kemana wajah kami? akhirnya setelah menelpon sbgaian dosen yg ramah kami mnginformasikan bahwa ada msalah dipihak travel dan mereka dberangkatkan lebih dulu. Walaupun ada juga dosen di keadaan yg gnting bgini tetap memnita layanan berkualitas "Oke, kalo begitu, tapi saya tidak mau kalo tidak naik maskapai g**uda" Wtf? Minta yg pling mewah lagi, padahal cuma naik L*on.mntanya itu.

Paginya mereka sudah berangkat dengan snang hati, walaupun tidak didampingi oleh kami.
Saya pun sedikit lega karna tetap berangkat kebali setelah sebelumnya degdugan takut g jadi berangkat. Paginya saya tertidur dngan damai, mengumpulkan tenaga untuk besok. Siangnya saya bangun mengecek kelengkapan tas dan barang bawaan , tmbah sana, tambah sini. Sambil mengecek group angkatan,menunggu informasi tntang tiket dan baju.

Maju ke sore hari, tetap mengecek cnda gurauan tman krna hampir g jadi berngkat. Setelah maghrib gw ttap setia menunggu angin membawa kabar. Jam 7, 8, 9 kok nyamuk yang datang, aku langsung (sorry, nyanyi dikit). Dan pada jam 9 perasaan gw mulai g enak. Entah panita sedang sibuk urus tiket malam itu atau ada masalah lagi, saya tdak tau. Tpi informasinya tk knjung mncul padahal besok pagi2 skali kita sudah berangkat, berangkat, berangkat, berangkat (bergema)

Dengan sisa2 harapan yang sjak kemarin sya kmpulkan, saya masih menunggu. Sampe jam stengah 11 malam pemirsa! info tiket dn baju masih tak knjung dtang hingga akhirnya....


Kabarnya sudah tidak miring. Fix Bali kini tinggal hanya angan semata :( 
Saya malu setengah mati. Orang2 drumah tntunya sebagai manusia normal ktawa2. Trima kasih trtawaan nya. Tpi dlam hati kcil saya masih brharap bisa brangkat. Dan cerita dua hari ssudahnya tepat hari senin panitia lagi2 mengadakan rapat akhir penentuan, bersama dosen yg tadinya ada dibali pulng kembali mndengar kabar kami tidak jadi menyusul.

Disana kami dimarahi stengah mati. Bacot sana bacot sini ditengah2nya pulau jawa. Malamnya, setelah maghrib, ibu2 travel baru dtang untuk mmpertanggung jwbkan apa yg ia perbuat. Awalnya ada ide dri dosen untuk ttap mmbrangkatkn kami demi mnanggung malu. Tapi saat ktua jrusan dtang, ia mmbawa kabar bhwa "Tidak boleh ada lagi Studi ekskusi ke Bali, ini teguran langsung dari Dekan" Maka berakhirlah smua. Dan lebih parahnya lagi, ternyata tmpat travel yg kami percayakan ini mnggu lalu masuk koran karena kasus pnipuan! bedanya sebgian korban sbelumnya tdak jadi brngkat ke Thailand.



Padahal semua barang sudah siap :(

Sekarang yang ada dibenak saya adalah bgaimana uang keBali bisa kembali 100%. Setelah rapat selesai, hasilnya:

Sertifikat rumah jadi jaminan pemirsa
Hasilnya sampe sekarang saya msih mnunggu pelunasan uang yg katanya smpe tnggl 5 Maret. Gara2 itu juga saya msih ttap stay di Makassar (tidak pulang kampung) mngkin di post selanjutnya akan sya critakan.

Hingga pada akhirnya smpe skarang saya blum prnah liburan atau semcamnya, paling cuma drumah baca buku, makan, tidur, rapat organisasi, ngeBlog, latihan mngetik 10 jari dan bermalam minggu ria (sendirian).

Tapi dibalik itu semua saya percaya smua ini pasti ada hikmahnya, mngkin saja kami dilarang untuk kesana krna satu alasan yang tlah ditntukan oleh Tuhan, krna jujur saja seblum hari kberangktan, perasaan saya selalu tidak enak, entahlah. 

Saya jadi ingat kata motivasi dari buku Napoleon Hill yang berjudul Menjadi kaya dengan kedamaian pikiran

"Setiap kemalangan, setiap kegagalan, setiap rasa sakit hati pasti membawa benih keberuntungan yang setimpal atau bahkan lebih besar"  -Napoleon Hill
.
Mngkin skarang waktunya menunggu keberuntungan yang setimpal atau bahkan lebih besar. Siapa yang tau? :)



Share
Tweet
Pin
Share
19 comments
Haloha! Apa kabar teman-teman pembaca. Hari ini saya sempatkan lagi waktuku untuk menulis, walaupun sekarang ini saya lagi terjepit sama yang namanya tugas yang membabi buta. Mulai dari tugas Fisika bangunan, Cad, Studio perancangan, Perkembangan arsitektur, SKB (Struktur Kontruksi Bangunan) dan tugas beres-beres rumah (Termasuk mencuci, memasak, dan ngupil).

Hujan juga sudah mulai rajin-rajin nya, sudah 4 hari berturut turut dia nangis (Mungkin dia di-php sama manusia) karna kemarin kita mintanya hujan. Pas hujan turun malah kita-nya yang mengutuk kalo hujan datang (Duh!) Karna itu juga saya yang kena imbasnya. Atap di setiap objek vital saya mengerjakan tugas bocor sehingga mengakibatkan sebagian tugas saya basah. Betul kata senior. Semester tiga itu susah karna bekerjasama dengan hujan (Romantisnya). Mungkin kita bisa bekerja sama dengan matahari dan power rangers untuk membasmi tugas dan hujan (Hehehe)

Saya mau menceritakan sesuatu teman-teman. Kejadian ini bermula ketika saya dan tim kelompok percobaan Fisbang melakukan penelitian yang namanya Artificial light as colour impact. Dalam penelitian ini kita disuruh mengamati cabe-cabean. Eh, maksudnya lampu beserta perubahan warnanya ketika terkena berbagai jenis lampu. Hari itu saya bertugas merekam, teman saya yang namanya iwan kariyono memegang luxmeter (Alat mengukur tingkat pencahayaan) beserta teman-teman yang lain yang mengamati, ada juga yang mencatat.

Prof. Iwan Kariyono sedang melakukan penelitian.
Dalam proses merekam semuanya hening dan serius memperhatikan. Setelah waktu yang ditentukan selesai (Tiiit) suara stopwach berhenti.

Saya                     : Sudah!
Teman 1               : Berapa tingkat pencahayaan nya iwan?
IwKar                    : Tunggu dulu (Sambil menggoyang-goyangkan alat)

Melihat itu saya penasaran apa yang dia buat.

Saya                       : Kenapa mu kasi begitu?

Saya melihat angka pada luxmeter hanya menunjukkan 0.00

Teman 2               : Ededeee, lamanya obet (Nama alias Iwan kariyono. Selain dipanggil                 Iwan kariyono ia juga bisa dipanggil Obet, Iwan Buton dan Muka                        beton karna kelebihannya berwajah beton)
Saya                      : Kenapa bisa 0.00.

Setelah cukup 5 menit menganalisa secara seksama dan dengan tempo yang selama-lamanya. Iwan pun angkat bicara.

IwKar                     : Hasilnya 0.00! (Dengan nada yang tegas)
Teman 1               : Ih, Kenapa bisa begitu?
Saya                     : Padalah semua lampu tadi ada semua nilainya, masa ini tidak ada.
Teman 2               : Tidak salah ji itu obet?
IwKar                    : Ini memang begini nilainya. Tulis saja! (Nada suaranya bertambahtegas)
Teman 2               : Ih, tidak boleh begitu obet, ulangi coba
IwKar                    : Saya sudah bilang 0,00 (Intonasi suaranya bertambah cepat) Tulis                                         saja....Kau tidak percaya alat kah? (Dia menggertak)

Kami pun semua tertawa mendengar celoteh atau tangisan atau gertakan atau, entahlah disebut apa gaya bicara makhluk seperti dia. Kami pun dengan bodohnya percaya dengan alat kata si Iwan Kariyono.

Minggu lalu sempat menjadi minggu yang sangat sial. Dimana motor, print, dan laptop ku bekerjasama membuat adegan sedih (Sama-sama tidak mendukung)

Diketahui :
Motor   = Kuncinya hilang (Habis dibegal) Yang pake bukan saya, tapi teman saya.
Print     = Rusak (Diduga kertasnya nyangkut terus)
Laptop  = Cas nya tidak bisa masuk (Kadang bisa, kadang tidak)

NB          : Aplikasi Autocad di laptopku juga sering error karna tersangkut dan keluar tanpa alasan yang jelas.

Penyelesaian:
Motor   = Om datang dari pinrang + Dipebaiki + Kuncinya diganti
             = Aman!
Print      = Rencana mau perbaiki sendiri - Tapi gak tau yang bermasalah apanya
              = Error
Laptop  = Casnya saya ikat2, gulung2 dan lipat2 – Tambah rusak
             = Beli laptop baru! (Muehehehh)

Apapun masalahnya saya tetap berharap semua tugas di semester ini bisa saya selesaikan dengan baik teman-teman. Selain itu saya tetap selingi dengan membaca buku dan buku yang selesai saya baca akhir-akhir ini bukunya Jefferly herlian yang judulnya tentang SEO-SEO begitu dan masih ingat buku biografi dari Andy F Noya yang di TTD langsung sama dia? Yupz, bukunya baru kemarin saya selesai baca.

Overall, mudah-mudah akhir tahun ini bisa menjadi semester yang paling berkesan baik. Dan berharap kedepannya blog ini semakin banyak pembacanya. (Hehe)
Mungkin sekian yang dapat saya sampaikan. Saya Reyhan Ismail melaporkan langsung dari tempat kejadian.

Bdw, saya sekarang ada dikamar guys, yang dingin nya bukan main. Ac tetapji jalan dan diluar tetapji juga hujan. Sambil kerja-kerja tugas CAD.


Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose