• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail

 beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman kuliah saya di salah satu hotel di makassar. dua bulan lalu dia baru saja menikah. sebagai senior yang sudah lebih dulu menikah dua tahun, saya menanyakan bagaimana rasanya pernikahan. dia cerita bahwa sumber utama keributannya akhir-akhir ini selalu bersumber pada pembahasan soal mantan.

saya sempat terdiam saat dia bilang "kamu enak, tidak punya mantan. pasti tidak ada bahan yang bisa jadi objek keributan" sesaat kemudian saya bertanya kepada diri sendiri. iya juga ya, kok dulu saya tidak punya mantan? perasaan itu kemudian hadir kembali pada saat saya menulis tulisan ini.

waktu menurutku adalah sebuah konsep perjalanan hidup yang kerap kali mengambil dan mempertemukan manusia kepada banyak hal. diantara semua penemuan-penemuan modern, barangkali waktu adalah salah satu yang memakan umur kita namun sama sekali tidak pernah bisa kita sentuh.

ada perasaan aneh ketika saya membuka kembali riwayat chat facebook yang sudah hampir bertahun-tahun tidak pernah saya sentuh itu. obrolan-obrolan lama yang keluar dari kepala yang masih kosong. dan tentang banyaknya bunga-bunga yang terlewatkan.

ada banyak perasaan yang terbesit di hati saya setelah membaca semua obrolan-obrolan itu. kalau saja dulu perpektif dan kepekaan saya seperti sekarang, bisa jadi mereka tidak hanya lewat. tapi beberapa bisa saya pastikan singgah. barangkali diantara semua kemungkinan, ada yang menetap dan merubah jalan hidup saya sampai sekarang.

entah kenapa satu-satunya kesan yang tertinggal di ingatan saya tentang saya di masa lalu adalah jomlo, jelek dan tidak laku. sampai setelah saya membuka banyaknya obrolan dari orang satu ke orang yang lain, membuat saya berkesimpulan bahwa saya yang dulu adalah orang yang sok cakep, tidak peka, dan cuek. Beberapa kali diri saya yang hari ini membatin "SOK CAKEP LU ANJINGG"

mungkin akan ada banyak kemungkinan yang terbuka jika saya memilih sedikit lebih berani dan membuka diri. tapi saya juga bingung, entah apa yang membuat saya bersikap se=sok cakep itu? kurang bergaul kah? kurang pengalaman? atau masih polos?

saya sempat kaget, ternyata ada yang pernah mengaku bahwa dia mengidolakan saya. ada juga yang diam-diam memotret saya dari jauh, lalu mengoleksi foto saya. sumpah, ini sedikit memperbaiki pandangan saya tentang memori saya di masa lalu bahwa saya jelek dan tidak laku. ada juga yang setiap hari menyapa, namun sayangnya tidak pernah saya respon. ternyata saya tidak se worth it yang saya kira.

kalau ditanya apakah ujung dari cerita ini adalah penyesalan? jawabannya adalah tidak sama sekali. saya hanya merasa penasaran. penasaran, kenapa pada waktu itu saya bersikap seperti itu. penasaran, kenapa saya sangat cuek dan menutup diri. penasaran, yang ada di kepala saya waktu itu apa?

per hari ini, beberapa diantara mereka saya lihat sudah menikah. 

mungkin, kalau saya mau melihat dari sudut pandang yang lebih menenangkan, jawabannya begini ; saya berperilaku seperti itu, bisa jadi untuk menyelamatkan mereka untuk tidak salah menjatuhkan hati kepada orang yang ternyata bukan jodoh mereka. kalau saja saya bisa sedikit lebih peka dan menerima mereka, barangkali keberanian itu hanya akan berakhir pada gejolak hasrat yang sementara dan buang-buang waktu.

dan ya, saya perlu bersyukur untuk makna yang terakhir ini; dengan bersikap seperti itu di masa lalu, saya tidak perlu membuat daftar mantan yang pada akhirnya jadi bahan keributan dengan istri saya hari ini.

terima kasih, rey. kamu membuat kemungkinan rasa cemburu di rumah tangga menjadi sedikit lebih kecil. walaupun konflik kadang masih terjadi, tapi saya rasa itu hal biasa. sisanya biarkan saya yang bertanggung jawab :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


agak sulit rasanya menjalin komunikasi dengan orang yang tidak bisa membedakan diskusi dan berdebat.
setiap ruang perbedaan pendapat selalu dianggap arena ring untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.

mungkin memang agak susah kalau objek pembahasannya adalah area sensitif yang menyangkut siapa yang diuntungkan.
tapi bukan berarti tidak bisa kan? kalau areanya masih abu-abu, kenapa kita tidak perjelas dengan diskusi dan negosiasi yang tenang tanpa melibatkan emosi?

bukannya menjalin hubungan itu tentang saling mengerti satu sama lain?

idealisme dan prinsip hidup hanya menjadi objek parafernalia yang menguntungkan diri sendiri.
kalau merugikan diri, pendiriannya sekonyong-konyong dilupakan.

kata hindia semua orang itu hipokrit.
barangkali ada benarnya juga. dibanding takut dosa, kita lebih takut berbeda dari orang-orang terdekat kita. solat hanya seminggu sekali, bukan karena taat. tapi hanya karena semua laki-laki  yang dikenalnya hari itu solat jumatnya di masjid. ada ketakutan yang aneh ketika saya sendiri tidak ke masjid saya solat jumat. ketakutan seperti dianggap pendosa dan orang jahat. padahal tolak ukur kebaikan orang, saya kira bukan karena dia taat solat jumat.

sama halnya; memasak untuk orang rumah, bukan karena ingin berbakti pada suami. tapi karena semua teman yang menjadi istri memasak untuk suaminya.

apakah sebenar-benarnya bentuk kebenaran itu? 
cuman karena ide itu dianut dan diamiini oleh keluarga dan orang-orang terdekat kita, apakah itu adalah sebuah kebenaran? 
apakah halal hukumnya menghakimi orang yang tidak sepaham dengan kita?
yang paling meresahkan adalah penghakiman orang-orang. dibanding takut neraka, kebanyakan dari kita barangkali lebih takut menjadi musuh masyarakat.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

kabar baik minggu ini :

pertama akhirnya dapat pekerjaan di salah satu studio perencana interior tempat kawan saya bekerja. gajinya cukuplah untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

kedua naskah film pendek saya dipilih untuk dikerjakan di project kelas kampus lingkar. saya menjadi penulis skenario dan suprisingly juga ditunjuk menjadi sutradara.

ketiga, saya dapat job mc lagi. dipercayakan untuk memandu event running di pare-pare.

keempat, usaha jus saya dan istri masih tetap berjalan karena masih ada orderan.

semoga apa yang saya lakukan hari ini berujung baik dan besar pada akhirnya. banyak sekali mimpi-mimpi yang ada di kepala yang ingin saya wujudkan. satu-satunya mimpi yang tidak bisa hanya mimpi melihat Mama saya lagi. 

walau akhir-akhir ini entah kenapa dia makin sering datang dalam bentuk mimpi yang memanggil ingatan di masa lalu. saya bahkan sudah hampir lupa bagaimana kehiudpan keluarga saya dulu. setelah berkeluarga, ingatan saya tentang mereka seakan-akan mulai hilang. ikatannya pelan-pelan pudar.

saya rindu dengan rumah saya dulu, di mana masih ada mama di dalamnya. saya rindu keadaan ketika bapak tidak seperti sekarang. saya rindu hening yang tenang dan aman bersama mereka. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

pulang ke pinrang. kondangan ke nikahan beebrapa teman dan keluarga. ketemu teman-teman komunitas, kadang rindu juga nongkrong sambil cerita-cerita kosong dengan mereka. balik lagi nge-mc setelah beberapa lama vakum.

hari ini keluar rumah tiba-tiba jadi hobi saya. sejak rumah jadi tempat mencekam.

dulu saya benci pulang ke kota ini. tapi semenjak saya terbiasa membuatnya jadi menyenangkan, bertemu dengan teman-teman yang sefrekuensi, teman-teman komunitas, rasanya ada rindu-rindunya.

kemarin siang, saya iseng membuka dokumentasi nikahan. melihat teman-teman saya yang datang. ternyata saya punya begitu banyak teman. bodohnya saya yang selalu berpikir teman saya hanya sedikit. imam bilang beberapa teman saya datang. saya saja yang kadang lupa menyadarinya.

sekarang saya makin punya alasan untuk tetap semangat lagi. berlari lebih kencang lagi. kalau sedih datang, saya tinggal lihat foto-foto teman saya yang datang ke nikahan lalu sadar; teman saya banyak.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

beberapa kali kadang saya merasa pesimis dengan keberuntungan keluarga ini. 
rejekinya sepertinya sudah habis di kepala. 
dari leher ke ekor jalannya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. 

kami seperti benih yang tidak dipupuk maksimal. 
tumbuh harus belajar melawan hama. 
berkenalan dengan hujan dan badai. 
setelah dewasa, saya tersadar saya tumbuh dengan riskan.

melawan kemarau mungkin tidak akan lama.
melawan hujan mungkin tidak akan sanggup.
di kiri dan kanan, semua orang bertumbuh dengan akar yang kuat.
sedang kami tumbuh di percabangan batang pohon di tubuh orang tua kami.

mereka seperti pohon mangga yang kokoh tumbuh berpuluh tahun.
buahnya menjadi manfaat untuk orang banyak
kami pun ikut kena getahnya

mereka kira mungkin kami akan baik-baik saja.
yang mereka tidak tahu adalah
di saat mereka mati
kami juga.

sesaat saya berpikir bahwa orang tua harusnya menjadi 
tanah dan matahari untuk anak-anaknya.
yang memeluk akar 
agar kokoh tumbuh meneduhkan kehidupan
yang menyinari tubuh 
seperti rumah yang menanti kepulangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose