di sisa umurnya yang menunggu mati
yang ia lakukan hanya merawat emas dan api kemarahan
dibanding merawat kenangan di kebun anak-anaknya
dendam dan kebencian, ia sulut agar kelak anaknya juga menjadi api yang membakar diri sendiri.
kadang, rumah rasanya seperti tungku yang menyala beberapa kali dalam sehari.
ia tidak sedang memasak apa-apa selain kegagalannya dalam menjadi seorang bapak.
yang keluar dalam mulutnya hanya kotoran binatang
serta nasehat dan ajaran yang sudah terlambat
anaknya kini sudah bisa belajar berdiri sendiri
menghapus air mata sendiri
membahagiakan diri sendiri
menemukan makna hidup sendiri
sungguh menjadi tua semenyedihkan itu
tiap hari ia merapalkan kiat-kiat mantra agar dapat menjadi manusia materialistik pengejar emas
tapi sayangnya,
yang sampai hanya
rasa kasihan.
di sisa umurnya dan pengarainya
yang bisa saya lakukan hanya mengasihi nya..

