• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail

 beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman kuliah saya di salah satu hotel di makassar. dua bulan lalu dia baru saja menikah. sebagai senior yang sudah lebih dulu menikah dua tahun, saya menanyakan bagaimana rasanya pernikahan. dia cerita bahwa sumber utama keributannya akhir-akhir ini selalu bersumber pada pembahasan soal mantan.

saya sempat terdiam saat dia bilang "kamu enak, tidak punya mantan. pasti tidak ada bahan yang bisa jadi objek keributan" sesaat kemudian saya bertanya kepada diri sendiri. iya juga ya, kok dulu saya tidak punya mantan? perasaan itu kemudian hadir kembali pada saat saya menulis tulisan ini.

waktu menurutku adalah sebuah konsep perjalanan hidup yang kerap kali mengambil dan mempertemukan manusia kepada banyak hal. diantara semua penemuan-penemuan modern, barangkali waktu adalah salah satu yang memakan umur kita namun sama sekali tidak pernah bisa kita sentuh.

ada perasaan aneh ketika saya membuka kembali riwayat chat facebook yang sudah hampir bertahun-tahun tidak pernah saya sentuh itu. obrolan-obrolan lama yang keluar dari kepala yang masih kosong. dan tentang banyaknya bunga-bunga yang terlewatkan.

ada banyak perasaan yang terbesit di hati saya setelah membaca semua obrolan-obrolan itu. kalau saja dulu perpektif dan kepekaan saya seperti sekarang, bisa jadi mereka tidak hanya lewat. tapi beberapa bisa saya pastikan singgah. barangkali diantara semua kemungkinan, ada yang menetap dan merubah jalan hidup saya sampai sekarang.

entah kenapa satu-satunya kesan yang tertinggal di ingatan saya tentang saya di masa lalu adalah jomlo, jelek dan tidak laku. sampai setelah saya membuka banyaknya obrolan dari orang satu ke orang yang lain, membuat saya berkesimpulan bahwa saya yang dulu adalah orang yang sok cakep, tidak peka, dan cuek. Beberapa kali diri saya yang hari ini membatin "SOK CAKEP LU ANJINGG"

mungkin akan ada banyak kemungkinan yang terbuka jika saya memilih sedikit lebih berani dan membuka diri. tapi saya juga bingung, entah apa yang membuat saya bersikap se=sok cakep itu? kurang bergaul kah? kurang pengalaman? atau masih polos?

saya sempat kaget, ternyata ada yang pernah mengaku bahwa dia mengidolakan saya. ada juga yang diam-diam memotret saya dari jauh, lalu mengoleksi foto saya. sumpah, ini sedikit memperbaiki pandangan saya tentang memori saya di masa lalu bahwa saya jelek dan tidak laku. ada juga yang setiap hari menyapa, namun sayangnya tidak pernah saya respon. ternyata saya tidak se worth it yang saya kira.

kalau ditanya apakah ujung dari cerita ini adalah penyesalan? jawabannya adalah tidak sama sekali. saya hanya merasa penasaran. penasaran, kenapa pada waktu itu saya bersikap seperti itu. penasaran, kenapa saya sangat cuek dan menutup diri. penasaran, yang ada di kepala saya waktu itu apa?

per hari ini, beberapa diantara mereka saya lihat sudah menikah. 

mungkin, kalau saya mau melihat dari sudut pandang yang lebih menenangkan, jawabannya begini ; saya berperilaku seperti itu, bisa jadi untuk menyelamatkan mereka untuk tidak salah menjatuhkan hati kepada orang yang ternyata bukan jodoh mereka. kalau saja saya bisa sedikit lebih peka dan menerima mereka, barangkali keberanian itu hanya akan berakhir pada gejolak hasrat yang sementara dan buang-buang waktu.

dan ya, saya perlu bersyukur untuk makna yang terakhir ini; dengan bersikap seperti itu di masa lalu, saya tidak perlu membuat daftar mantan yang pada akhirnya jadi bahan keributan dengan istri saya hari ini.

terima kasih, rey. kamu membuat kemungkinan rasa cemburu di rumah tangga menjadi sedikit lebih kecil. walaupun konflik kadang masih terjadi, tapi saya rasa itu hal biasa. sisanya biarkan saya yang bertanggung jawab :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

bagaimana rasanya tumbuh kembang dikelilingi orang tua yang suportif?
bagaimana rasanya ditemani orang tua di hari pernikahan?

bagaimana rasanya sukses atas pilihan yang kita pilih sendiri?

bagaimana rasanya hidup tanpa tuntutan siapapun?

bagaimana rasanya wisuda ditemani kedua orang tua?

bagaimana rasanya bangun pagi tanpa memikirkan kecemasan hari ini?

bagaimana rasanya didukung atas cita-citamu yang remeh itu?

bagaimana rasanya dikelilingi teman dan sahabat yang saling hormat dan mendukung satu sama lain?

bagaimana rasanya kaya raya tanpa memikirkan ketakutan akan takut gagal?

bagaimana rasanya lepas dari tanggungan orang tua?

bagaimana rasanya lebih sukses dan kaya dari orang tua?

bagaimana rasanya lepas dari kontrol si botak tua?

bagaimana rasanya punya rumah dan mobil hasil dari keringat sendiri?

bagaimana rasanya punya uang satu milyar direkening?

bagaimana rasanya jadi penyanyi dan penulis yang karyanya dikenal dan sukses?

bagaimana rasanya hidup di ibu kota?

bagaimana rasanya hidup abadi dalam karya-karya?

bagaimana rasanya membuktikan ke botak tua kalau saya bisa lebih sukses dari dia?

bagaimana rasanya berkelimpahan agar bisa membantu banyak orang?

bagaimana rasanya keliling dunia?

bagaimana rasanya naik haji dan umrah di makka?

bagaimana rasanya dekat dengan Tuhan?

bagaimana rasanya meyakinkan diri saya kalau saya bisa?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
beberapa hari setelah saya meninggalkan usaha orang tua.

mobil nabrak. mulai jualan cold pressed juice lagi. buka kelas menulis (yang sampe sekarang belum ada pendaftar). mulai aktif cari info job mc. dan makin banyak ide-ide lain yang ingin saya kerjakan. jualan es kristal, dimsum, jadi supir grab, dll. peluangnya banyak. tinggal menunggu eksekusi saja dan liat mana yang berhasil.

akhir-akhir ini entah kenapa saya selalu merasa takut. takut gagal. takut keputusan yang saya buat kemarin membuat saya menyesal di kemudian hari. takut tidak bisa lebih besar usaha orang tua saya. saya benar-benar takut mengecewakan istri saya dan diri saya sendiri.

beberapa kali kemarahan datang. ia selalu tertuju kepada si botak tua. saya benci ketika harus mengakui bahwa dia masih memiliki kendali penuh atas orang-orang rumah. dengan keadaan yang ketidak warasan yang makin hari, makin jadi. saya takut semuanya jadi hancur. ditambah lagi dengan adik saya yang sekarang jadi pengendali namun nalar nya dimatikan oleh rasa takut.

dari sini, saya masih sering memantau. beberapa keluhan mulai sering terdengar. namun lebih sering suara-suara yang meminta saya untuk bersikap dewasa dan kembali mengelola usaha.

keluarga mama saya mulai sulit memisahkan entitas antara mama saya dan usaha yang ia bangun. mereka melihat ketika saya meninggalkannya, berarti saya juga mengkhianati usaha mama saya. mereka takut ketika usaha yang dibesarkan oleh mama hancur.

selama si botak tua masih di sana, saya masih sulit melihat cahaya terang di ujung sana kecuali kabut gelap. di sisa umurnya yang makin sekarat, yang bisa saya lakukan hanya menunda kerusakan yang ia ciptakan semakin banyak.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 semenjak mama meninggal setahun yang lalu, saya terpaksa harus menggantikan perannya sebagai orang tua dan tulang punggung keluarga di rumah. ini benar-benar perubahan yang sangat besar dalam hidup saya. 2020 adalah tahun terakhir saya menikmati masa muda, tanpa beban pikiran dan tanggung jawab.

sekarang, hidup tidak pernah sama lagi. sebagai anak pertama saya harus mengambil tanggung jawab untuk meneruskan usaha di rumah, membiayai adik-adik saya dan mencukupi kebutuhan bapak saya.

sulit? banget.

saya harus menyesuaikan diri. termasuk terbiasa menjadi orang tua bagi adik-adik saya. semenjak saya mengambil peran itu, saya jadi mengerti posisi mama saya dulu. saya jadi paham banyak hal yang dahulu saya tidak mengerti sewaktu saya masih jadi tanggung jawab orang tua.

dan itu rasanya aneh sekali.

saya harus bangun pagi, harus terbiasa dimintain duit, harus berani mengambil keputusan, belajar berkomunikasi dengan baik dengan banyak orang dengan segala latar belakang umur dan pekerjaan.

sebagai orang yang malas bersosialisasi dan basa basi, tentu pada awalnya ini semua sangat memuakkan.

tidak jarang saya berpikir untuk kabur dari rumah, tinggal di tempat yang jauh tanpa distraksi orang-orang dan menetap di sana. tapi setelah dipikir-pikir.

ternyata ini semua bukan tentang tanggung jawab dan keterpkasaan situasional. saya tidak takut kehilangan pemasukan karena berhenti meneruskan usaha orang tua.

saya masih muda dan masih bisa mengandalkan diri sendiri untuk bekerja.

alasan saya masih bertahan adalah karena amanah.

sebelum mama saya meninggal, dia sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk meneruskan usaha yang dia bangun selama bertahun-tahun di rumah.

satu-satunya hal terakhir yang bisa saya lakukan untuknya adalah meneruskan dengan baik apa yang sudah dia percayakan terhadap saya.

walaupun itu berarti, saya harus menunda sedikit waktu untuk mewujudkan mimpi saya karena kesibukan pekerjaan.

tapi saya percaya, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa menjadi anak yang membanggakan bagi orang tuanya. mau mereka masih hidup ataupun sudah tiada.

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

 sudah cukup setahun sudah Ibu saya meninggal. awalnya saya mengira satu tahun adalah waktu yang cukup untuk sembuh dari rasa kehilangan. nyatanya tidak sama sekali. kadang-kadang perasaan itu datang membawa luka yang menyesakkan dada.

sampai kapanpun waktu tidak akan pernah bisa membuat kita benar-benar sembuh. selalu ada momen yang membuat saya teringat kembali, yang membuat saya merindukan keberadaan ibu saya.

kadang-kadang saya merasa sendirian. satu-satunya sumber kasih sayang saya sudah hilang. mencarinya di perempuan lain pun saya selalu gagal. saya memang selalu payah dalam urusan yang menyangkut tentang perempuan. makanya dari kecil saya tidak ingin punya adik perempuan.

ohiya, 2022 sepertinya akan menjadi awal yang menyenangkan bagi rencana-rencana saya. beberapa mimpi saya satu persatu terwujud. menerbitkan buku  dan membuat lagu pertama. barusan saya sudah mengirim naskah buku kedua ke penerbit. 

banyak hal baik yang ingin saya wujudkan setelah ini. semoga tuhan memudahkan semuanya. kita ketemu ditulisan berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 


laporan beberapa hari terakhir ini. 

ikan koi saya mati kehabisan air bersih.

launching buku arhcitecture 034 di pantai akkarena yang singkat. jalan-jalan di sekitar pantai dan lagi-lagi kesepian menyerupai ombak yang menggulung masa lalu.

sedang proses menulis buku kedua. semoga bisa kelar tahun ini. gradien, wait for me!

lagu pertama masih dalam proses mastering. previewnya lumayan menarik. semoga bakal ada sesuatu yang mengejutkan.

sedang kesal-kesalnya dengan orang yang tidak menepati janji.

harapan itu menjilat seperti api yang tertiup angin. gejolak, ada sesuatu yang kembali menggebu. i found someone. seseorang yang membuat saya bertanya-tanya makin penasaran.

bagaimana bisa saya memilikinya?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

Reyhan Ismail

Hari ini saya resmi menginjak umur 25 tahun. Kalo rata-rata umur manusia berakhir di umur 50 tahun (Ibu saya meninggal di umur pas 50 tahun), bisa di bilang saya sudah setengah jalan menuju akhir kehidupan (itupun kalo dikasih umur yang panjang.

Ulang tahun ke-25 ini bisa dibilang cukup sepi. Biasanya kalo ulang tahun, saya bakal upload apapun yang ngasih tahu kalo hari ini saya ulang tahun. Biar dikasih ucapan hehe. Tapi tahun ini, entah kenapa malas aja rasanya. Malas dan bosan. 

Sudah banyak hal yang saya lewati. Dan yang paling buruk terjadi beberapa tahun belakangan ini. Kata orang proses pendewasaan. Tapi lebih tepat jika saya menyebutnya fase terberat dalam hidup.

Umur 25. Rasanya cuman pengen banyak waktu buat diri sendiri. Berkelana keliling dunia. Mendengarkan lagu The Beatles. Bertemu banyak orang. Baca banyak buku. Keinginan saya cukup sederhana. Bisa hidup tanpa beban di kepala. Tanpa mikir apa yang harus dilakuin supaya hidup lebih bermakna. 

By the way, kata orang hidup harus punya tujuan. Tapi menurut saya punya tujuan itu beban. Kenapa kita ngga hidup saja. Tanpa mikir buat cari kerja, cari uang, nabung, membesarkan anak, menjaga pasangan, membahagiakan orang tua. Why we cant just living.

Umur 25. Hidup di era modern kayak sekarang. Rasanya kayak dipaksa buat menuruti kemauan banyak orang. Menurutui ekspektasi society. Abad 21 itu kayaknya bakal jadi abad paling berisik. Damai. Tapi berisik. Terlalu banyak orang bersuara. Entah penting atau tidak penting. Why we cant just living?

Saya sebenarnya tipe orang yang cukup tidak peduli terhadap apapun yang terjadi di luar sana. Selama saya masih bisa tidur, makan, buang air dan tertawa dengan cukup, itu sudah cukup. Kenapa orang-orang di luar sana suka berdebat seakan-akan dunia sedang tidak baik-baik saja.

Umur 25. Saya sedang berada pada proses menjadi manusia pada umumnya. Belajar hidup sebagai orang dewasa. Belajar menerima seseorang. Belajar membayangkan bagaimana rasanya punya istri dan anak. Belajar berpura-pura. Belajar menuhankan uang. Belajar bagaimana rasaya punya kepentingan. Belajar menjadi manusia yang punya tujuan.

Ah, saya rindu rasanya menjadi bumi. 

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 

Reyhan Ismail
Fotonya ga nyambung. Tapi ga papa lah. Daripada kosong thumbnailnya


"Makanya cepet nikah biar nanti ada yang rawat"

Saya sudah muak sekali dengan kata-kata seperti ini. 

Kenapa akhir-akhir ini setiap permasalahan hidup, solusinya harus menikah?

Setiap saya cuci piring sendiri

Setiap saya memasak sendiri

Setiap saya menyapu sendiri

Pasti ada-ada saja orang lewat yang nyelutuk "Makanya nikah, biar ada yang rawat"

Kenapa kesannya laki-laki kayak tidak bisa merawat dirinya sendiri?

Kenapa laki-laki harus dirawat sama perempuan?

Stigma seperti itu sepertinya sudah mengakar di otak orang-orang. Seakan-akan seluruh urusan rumah tangga, perempuan adalah ahlinya. Padahal, siapa saja juga bisa. Tugas rumah tangga tidak cuman terpaku pada satu gender. Tapi tugas yang punya rumah, iya ngga sih?

Revolusi Prancis sudah memberikan ruang bagi perempuan untuk berekspresi dan menyuarakan hak-haknya. Di Indonesia sendiri, R.A Kartini memperjuangkan hak tiap perempuan untuk bisa bersekolah dan melakukan pekerjaan yang dulunya di dominasi laki-laki. 

Kalo jaman sekarang perempuan diberi kebebasan untuk melakukan pekerjaan laki-laki. Kenapa laki-laki malah dibatasi untuk melakukan tugas yang kebanyakan dikerjakan perempuan?

Isnt fair enough?

Menikah menurut saya tidak seharusnya berangkat dari permasalahan pembagian peran. Tidak ada aturan yang mengatur perempuan harus mencuci baju, mencuci piring, tinggal dan membereskan rumah. Tidak ada juga aturan yang mengharuskan laki-laki harus kerja banting tulang, cari uang, memperbaiki pipa air atau menambal genteng bocor. Kalo kata Jared Diamond dalam bukunya Evolusi seks; Satu-satunya aturan yang tidak bisa kita hindari adalah hakikat biologis antar laki-laki dan perempuan. Perempuan menyusui, sedangkan laki-laki berbucur mencari makan.

Modernisme dan pemikiran pasca kolonial secara tidak sadar mengkotak-kotakkan peran antar laki-laki dan perempuan. Kesannya perempuan dan laki-laki tidak akan bisa hidup jika tidak menikah dan tinggal berdua. Padahal kan we are okay, with or without couple.

Ngga perlu harus nunggu nikah untuk baik-baik aja.

Ngga perlu harus nyari pasangan buat bahagia.

U can handle ur self.

Selesaikan persoalan hidupmu sendri dulu, setelah itu cari orang yang baru. Kita tidak datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan beban hidup. Kita datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan kebahagiaan. Kita bertemu dalam keadaan sama-sama bahagia. Sama-sama menyelesaikan masa lalu kita, lalu sama-sama membangun rumah tangga. Bukannya lebih baik?


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

semuanya berubah semenjak mama saya pergi untuk selamanya. 

banyak rencana yang hancur berantakan. 

kiblat dan arah hidup saya mendadak berubah tujuan.

ya, semuanya berubah dengan sangat amat cepat.

saat ini saya sedang berada pada fase beradaptasi dengan kehidupan orang dewasa yang terlalu banyak kepalsuan. saya harus belajar berbohong untuk kepentingan diri sendiri, belajar ramah ke banyak orang yang tidak ingin saya kenal, belajar menolak orang yang datang cuman untuk minjem duit, dan belajar mengambil banyak tanggung jawab.

banyak hal yang baru saya sadari saat sudah sampai pada titik ini. ternyata ekspektasi saya sewaktu kecil hanya ilusi yang dibuat-buat dengan baik sekali oleh orang-orang dewasa disekitar sini.

tidak ada hidup yang baik-baik saja ketika kamu sudah dewasa. waktu berjalan. umur bertambah. kebutuhan mendesak. dan tiap hari kamu terpaksa berkata pada diri sendiri "semuanya baik-baik saja".

selamat  datang di dunia baru rey. dunia di mana kepalsuan, basa-basi, kemunafikan menjadi hal yang normal di sini.
Share
Tweet
Pin
Share
5 comments

 

Hari ini gagang pintu di kamar rusak. Saking seringnya dibuka tutup sama bapak buat masuk ke kamar nyalain lampu trus nyuruh solat. Dalam sehari ada kali 20 kali gagangnya dinaik turununin. Padahal tanpa di ingatkan, saya juga solat. Ngga tau kenapa apa-apa kalo disuruh tuh bawaannya males aja. Berasa diatur-atur. Rasanya rumah udah kayak penjara, di mana saya jadi napi yang harus diperintah. Dan orang tua kek penjaga lapas yang kerjaannya cuman nyuruh-nyuruh.

Hari ini kepala rasanya sakit. Mikirin pertanyaan-pertanyaan dan pilihan apa yang kelak akan saya ambil di masa depan. Disuruh ini. Disuruh itu. Kenapa kebanyakan orang tua terlalu suka memproyeksikan mimpi dan harapan mereka kepada anak-anaknya tanpa persetujuan ya.

Ngga ada gunanya Socrates nyiptain "diskusi" ke dalam peradaban. Toh manusia kalo sudah jadi orang tua juga jarang make tools itu buat mendengarkan dan memahami kemauan anaknya.

Makin ke sini saya jadi makin belajar bahwa kehidupan yang ideal tiap orang itu beda-beda. Ada yang pengen hidup seperti ini ada yang seperti itu. Its okey kalo kamu menaruh kehidupan ideal yang kamu yakini itu sebagai alasanmu untuk hidup. Tapi tolong jangan paksakan ide itu masuk ke dalam hidup orang lain tanpa persetujuan.

Itu sama saja kek kamu nganggap mereka binatang yang ga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Atau memang, saya selama ini cuman dianggap binatang?

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Lucu sekali rasanya ketika kamu berjuang untuk seseorang dan melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk membuktikan bahwa kamu serius dengan perasaanmu, Lalu suatu hari dia bertanya :

"Kamu serius ngga sama aku?"

Dulu saya kira selama ini Erich Fromm benar, bahwa cinta adalah sebuah tindakan. Kita mencintai seseorang melalui aktfitas. Melalui apa yang kita lakukan untuknya.

Ternyata Erich Fromm salah. Ternyata itu saja tidak cukup.

Malam ini terbukti bahwa seseorang meragukan itu. Tidak peduli seberapa banyak hal yang kamu lakukan untuknya, seberapa lama kamu bertahan dengannya dan seberapa besar perasaanmu kepadanya.

Ketika dia terpancing dengan sesuatu yang datang dari luar. Dia ragu.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Ngga kerasa udah bulan Oktober. Yang artinya tinggal dua bulan lagi 2020 udah mau selesai.

2020 ngapain aja ya, kok berasa cepet banget.

Keknya orang-orang tahun ini memang dilatih untuk menjadi introvert.

Saya takutnya abis pandemi selesai, kita jadi lupa caranya untuk bergaul. Lupa bagaimana caranya meet up dengan teman-teman. Lupa bagaimana caranya memulai obrolan dengan teman yang sudah lama tidak kita temui selama pandemi. Dan..

Lupa bagaimana caranya jatuh cinta kembali, setelah dipatahkan berkali-kali.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Ngeblog dari tahun 2014 akhirnya baru sekarang blog saya punya domain baruuuuu!

Sebagai tulisan pertama yang di publish dengan domain www.reyhanismail.com. Di tulisan ini pertama-tama saya ingin memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, yang masih mengizinkan saya untuk apdet blog sampai hari ini. Shalawat dan salam tak lupa saya curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena telah membimbing umatnya dari alam yang gelap menuju alam yang terang benderang.

Dalam kesempatan khotbah jumat kali ini saya akan membawakan ceramah berjudul..

Napa jadi khotbah jum'at...

Dah, untuk hari ini cuman itu yang pengen saya sampaikan. Kalo ada kesempatan bolehkan abang numpang mandi. Kalo ada sumur di ladang, bolehkah kita ketemu lagi.

Apasi...

Baru pertama kali nulis jadi ga jelas gini gaya nulis saya. Pokoknya ya gitu deh. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!
Share
Tweet
Pin
Share
7 comments
hai. pengen nyapa aja, mana tau ada yang kangen. 

dari tahun kemarin sampai tahun ini lagi sibuk di paltform sebelah nih. blog jadi ga keurus. rencananya pengen ngerombak templatenya dulu, sekalian beli domain kan, biar ada nuansa baru. tapi ga kesampean. 

lagi sibuk mikir juga. mikir mau kemana abis ini. biasa, kemarin baru abis wisuda. bingung mau kerja apa. bingung apa lanjut s2 aja ya. atau fokus ngeblog aja? emang bisa orang hidup dari blog doang? atau nikah duluan aja apa ya. 

gatau dah, pusing. 

gimana kabar kalian?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose