IBU MAAF, SAYA TIDAK BISA WISUDA TAHUN INI
Hari itu saya sangat ingat, hari Rabu 4 Oktober
2017. Hari dimana-Kita sebut saja namanya- Pak Bambang menerima judul “calon”
tugas akhir saya dengan perasaan yang penuh dengan apresiasi.
“Nah, ini! Coba kau liat temanmu ini” Dia
nunjuk-nunjuk judul saya dengan rasa bangga.
“Apa tadi judulmu itu?”
“Pembangunan Techno Park berbasis Teknologi dan
Informasi di Makassar Pak!” Saya menyebut judul saya dengan penuh rasa bangga,
sambil nunduk malu-malu dilatin teman-teman.
Sebelum Pak Bambang membanggakan saya seperti
diatas, saya sempat menjelaskan beberapa alasan, berbagai data dan masalah yang
saya dapatkan seperti “Merujuk pada prioritas pembangunan pemerintah bla, bla,
bla”, “Di butir ke 6 Nawacita Presiden, bla, bla, bla”, “Judul saya ini
mendukung program daerah smart city, bla,bla,bla” sampai ke “Judul ini saya
dapatkan dari buku yang bapak berikan pak, jadi sederhana saja, tidak perlu
jauh-jauh” Alasan yang intinya jika saya jadi pekerja MLM, mungkin hari itu saya
sudah bisa dapat 6 pendaftar.
Begitu saja percakapan singkat dimana judul “calon”
tugas akhir saya diterima dengan penuh penyambutan oleh Pak Bambang. Setelah
itu, seperti manusia pada umumnya. Saya memamerkan keberhasilan tersebut kepada
teman-teman yang masih pusing mencari judul.
Tentunya sebagai manusia pusing pada umumnya, mereka
bertanya-tanya kepada saya, tips yang ampuh, supaya judul bisa diterima. Dan
sebagai manusia cerdas pada umumnya, saya menjawabnya dengan asal-asalan.
Skenario ini sengaja saya bikin untuk mengganjal perjuangan mereka. Begitulah
dunia kampus, kawan.
Dua minggu berlalu. Waktu yang tersisa saya pakai
untuk melengkapkan data yang saya butuhkan untuk memperkuat judul, TECHNO PARK
BERBASIS TEKNOLOGI DAN INFORMASI DI MAKASSAR. Kurang keren apalagi?
Hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari terakhir
dimana judul yang sudah distor diperiksa kembali satu persatu untuk diperiksa
datanya valid atau tidak oleh Ibu Nadia. Hari itu Pak Bambang datang terlambat.
Pemeriksaan nya memakan waktu 4 jam!. Kebanyakan
judul teman-teman yang lain tidak diterima, walaupun sudah setengah mati
menjelaskan. Ada judul yang minggu lalu diterima oleh Pak Bambang, tapi
nyatanya tidak diterima oleh Ibu Nadia. Disitu perasaan saya mulai gk enak.
Makalah judul saya kebetulan berada dibagian bawah
(sesuai urutan absen). Sementara Ibu Nadia me-review satu persatu judul
teman-teman yang lain, saya sibuk mengingat data dan melatih gaya bicara
didalam otak.
Tak berapa lama datanglah Pak Bambang.
“Maaf terlambat” sambil melangkah memasuki ruangan
kelas.
“Oiya, pak. Nda papa” Kata Ibu Nadia (padahal
daritadi nungguin) “Oiya, ini sebagian judul saya kasih ke bapak saja ya, biar
bapak yang seleksi mana yang bisa diterima. Soalnya saya sudah capek daritadi”
“Oke, Tidak ada masalah” Detik itu juga tumpukan
beberapa judul (termasuk judul saya) yang belum sempat direview oleh Ibu Nadia
diserahkan kepada Pak Bambang. Saya mulai agak lega.
Dengan cepat Pak Bambang mulai mengambil satu
persatu makalah judul. Judul pertama dia liatin sampulnya, 3, 4, 5, 6 detik
terus dia bilang “Sport Center di Makassar…”
Ruangan jadi hening.
“Ini judulnya sudah ada ini”
FYI, salah satu syarat judul diterima adalah judul
itu belum pernah diambil oleh mahasiswa sebelumnya dengan jarak sampai 5 tahun.
Contohnya, judul Pembangunan Warteg bertaraf Internasional. Jika judul itu
sudah diambil oleh angkatan 2010 maka angkatan 2011 sampai 2015 tidak boleh
mengambil judul serupa. Begitulah nasib “Sport Center di Makassar” yang kata
Pak Bambang sudah ada/ sudah ada yang ambil.
Semua judul satu persatu dilihat sampulnya lalu
dijawab dan ditolak dengan alasan yang serupa “JUDULNYA SUDAH ADA”. Disitu
perasaan saya tenang-tenang saja. Toh, minggu lalu Pak Bambang sudah menerima
judul yang saya tawarkan dengan sangat antusias.
Ibaratnya, judul yang saya
tawarkan itu adalah sebuah inovasi dalam dunia per-arsitekturan yang bahkan angkatan satu masehi sampai
sekarang belum ada yang ambil.
Perlahan namun pasti, Pak Bambang lalu memegang
makalah judul saya. Ia mengangkatnya persis didepan mukanya sehingga saya tidak
bisa melihat ekspresi bahagianya melihat judul saya.
“Techno Park Berbasis Teknologi Informasi di
Makassar…..”
"....." Hening.
“Techno Park ini juga sudah ada…….”
DEG!
Waktu itu saya cuman ketawa dua bahak “HE. HE” Pak
Bambang pasti bercanda.
Selesai menyeleksi makalah judul, dia sama sekali tidak
bilang ke saya kalo lagi bercanda. Gila.
Waktu itu rasanya mau mati saja, tapi
tidak tau Pak Bambang serius atau bercanda. Jadi matinya ditunda dulu.
Setelah selesai, saya meminta penjelasan kepada Pak
Bambang tentang maksud dari semua ini. Menjelaskan semuanya, termasuk tentang
hari itu saya tidak sedang berulang tahun. Tapi jawabannya tetap sama!. F**K!
ADA APA INI!? PADAHAL MINGGU LALU DITERIMA!!!
MINGGUU LALU DITERIMAI!!???
APAKAH HARI INI PAK BAMBANG LAGI PMS? TAPI COWOK GAK
BISA PMS YA ALLAH!!!
***
Seminggu berlalu. Saya masih tetap tidak bisa
melepas kepergian mata kuliah Kolokium ini. Sebagian teman-teman sudah pasrah
menerima nilai E karna judulnya ditolak.
Nyatanya saya belum.
Satu hari saya kembali menjelaskan kepada Pak
Bambang dengan membawa bukti bahwa judul yang saya ambil belum pernah diambil!
Itu dibuktikan dari buku pendaftaran judul administrasi angkatan sebelumnya.
Tapi jawabannya tetap sama.
Pada akhirnya, tanpa sengaja saya menemukan sebuah
judul tugas akhir yang ternyata serupa dengan judul saya. Dan anehnya judul itu tidak terdaftar secara administratif di jurusan yang menjadi acuan mahasiswa untuk menghindari judul yang sama!
Apa yang dikatakan pak Bambang memang benar. Judul
saya sudah ada yang pernah ambil. Tapi apa artinya beberapa minggu yang lalu
dia menerima judul saya tanpa mempermasalahkan sudah ada atau tidak? Kenapa
hari itu (hari terakhir) dia baru bilang kalo judul saya sudah ada?
Serius. Sampe sekarang saya masih berpikir kalo Pak
Bambang lagi bercanda. Kejadian ini 100% kayak lagi kena Jebakan Batmannya Uya
Kya. Pada satu sisi saya harus merelakannya, disisi yang satu saya tidak mau
menerimanya begitu saja. Ini kedzaliman.
Lebih baik judul saya ditolak karna sekelumit
masalah penulisan, data, dan masalah ilmiah daripada ditolak karna kelabilan
seorang dosen.
Sumpah, ini tidak sehat bagi dunia penulisan karya
ilmiah di Indonesia! Dimana kuantitas dan proses dalam melahirkan sebuah judul
seharusnya lebih kritis dalam melihat permasalahan.
Kejadian seperti diatas benar-benar sangat merusak
mental dan semangat mahasiswa. Depresi dan stress tidak terhindarkan lagi.
Judul ditolak itu berarti wisuda ditunda sampai tahun depan dan SPP sebagai
pemangkas gaji orangtua masih harus tak tergantikan. Apalagi kalo kuliahnya di
PTS yang SPP nya selangit. Ibarat, sapi perah. Semakin lama tinggal, semakin
produktif menghasilkan susu. Kalo gk bisa bayar, DO. Sarjana tinggal menjadi
angan. Nongkrong sambil ngopi dan makan bakwan pun jadi pelarian.
Bicara soal pendidikan di Indonesia bawaannya emosi
mulu ya. Hehe.
Pada akhirnya sampailah saya pada titik dimana
wisuda harus ditunda satu tahun. Apa yang bisa saya lakukan cuman bisa menulis
ketimpangan yang sebenarnya sering terulang di tiap angkatan ini. Besar harapan saya agar cacat pendidikan seperti
ini tidak terulang kembali pada adik-adik kita. Mari kita memperbaiki sistem
pendidikan mulai dari sumbernya.
Sudah. Mungkin itu saja untuk tulisan kali ini.
Sampai jumpa disemester berikutnya. Eh, maksudnya tulisan selanjutnya. Hehe.







21 comments
Skenario ini sengaja saya bikin untuk mengganjal perjuangan mereka
ReplyDeleteWah jahat sekali Anda ini Om
Itu tuh akibatnya
Mending judulnya
Teganya dosenku menjebak aku dengan judul yang sama padahal Minggu lalu dia bilang ok
Ya, begitulah nik. Persaingan di teknik emang gitu. Kmarin aja ada yang matanya hampir dicolok cotton bud gara2 dia copy gambar temen tanpa minta izin.
DeleteKayaknya itu lebih cocok buat jadi judul sinetron deh Nik.
Sabar ya Rey, kita senasib kok :')
ReplyDeleteHening cipta dimulai.
DeleteBerhenti kuliah aja, mending join ke bisnis MLM. Pasti udah dapat mobil dan bisa jalan-jalan ke luar negeri.
ReplyDeleteHm. Ide bagus.
DeleteOmmmmaleeee
ReplyDeleteOmmmmmaigot.
DeleteApakah anda mahasiswa arsitekur umi
ReplyDeleteBukan. Memangnya anda siapa?
DeleteRespect buat pak bambang dan ibu nadia yang labil
ReplyDeleteLol
Biasanya orang klo komentar begini. Judulnya juga tidak diterima
DeleteMengheningkan cipta...dimulai
Selamat sampai di tujuan sodara
ReplyDeletePak bambang? ini bapak ya>
DeleteKita tidak salah jurusan kawan-kawan.. Sepertinya kita cuma salah masuk kampus.. :v
ReplyDeleteSepertinya kita butuh resign kampus kanda.
DeleteInkonsistensi yang membuat hidup ini gak terarah. Gedek juga sih. Untung gak dibakar atau ditusuk kaya yg udah udah.
ReplyDeleteYap, bener sep. Sebagai seorang pengajar, seharusnya mereka yg lbih aktif mncari kesalahan brdasarkan knyataan yg ada. Bukan brdasarkan praduga yang akhirnya tidak konsisten.
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteSepertinya ini komentar kasar.
Deletesepertinya kita senasib di kolokium wkwk:(
ReplyDeleteSinggah ki' :)