MENGHITUNG METER LARI DI KP PELAKSANAAN
Menuai kesuksesan dengan laporan yang paling cepat
di-ACC di KP Perencanaan semester lalu, ditambah dengan satu-satunya
satu-satunya kelompok yang dapat ‘uang saku’ di KP Pelaksanaan, maka saya tidak
perlu mati-matian mencari teman kelompok lagi. Beberapa teman-teman diam-diam
menghubungi saya, ada yang chat, ada yang kasih kode dan ada yang bersyukur
kalo saya panggil satu kelompok. Termasuk Tiwi yang sekali lagi tidak kapok
satu kelompok dengan saya, walaupun saya sudah mengkhianatinya di KP
Perencanaan kemarin, Dan di KP Pelaksanaan kali ini, saya tetap melakukan hal
yang sama.
Kali ini bukan karna tergoda untuk masuk di kelompok
Kak Johan kembali. Lagian Kak Johan dan Kak Adi waktu itu juga sudah dapat
kelompok. Tapi karna panggilan dua perempuan yang di kucilkan dari pergaulan. Namanya Amel dan
Dewi.
Setelah bolak-balik cari proyek yang sesuai dengan syarat yang ditentukan. Kami akhirnya magang di proyek pembangunan Kampus Magister Sains Terapan Politeknik Kesehatan Makassar. Hari pertama di tempat proyek, saya langsung mendapatkan ucapan selamat datang dari tukang/ kuli bangunan.
Setelah memarkir motor, Amel dan Dewi berjalan masuk
ke dalam kawasan proyek dengan langkah gontai, cantik dan malu-malu. Sedangkan
di depan mereka ada saya, seorang pemimpin kelompok, berjalan dengan dada tegap
penuh rasa percaya diri. Kami berjalan ditengah-tengah tukang yang bekerja.
Terdengar samar-samar suara siulan yang menggoda di beberapa tempat. Saya tidak tau arahnya
darimana, saya tidak mau liat, karna sebenarnya saya juga takut.
Beberapa meter sebelum sampai di depan kantor
sementara atau di tempat proyek biasa di sebut direksi keet. Di depan saya ada satu tukang yang mengangkat batu
besar, di depan tukang ada becek. Sepertinya dia berniat menutupi lubang becek itu dengan batu yang dia angkat. Si tukang yang tidak diketahui namanya ini, tiba-tiba dengan enteng membuang batu besar itu ke becek tepat di depan saya.
*Crot*
Gelap. Hitam. Saya tidak bisa melihat dengan jelas. Rambut saya
basah penuh lumpur. Baju, celana, dan harga diri ikut ternodai. Di belakang terdengar
suara Dewi dan Amel ketawa puas, padahal kalo bukan saya yang berjalan di depan
menghalau lumpur-lumpur itu untuk melindungi mereka, mungkin mereka juga kena
lumpur.
Di depan para pengawas proyek juga ikut ketawa walaupun belum ada yang saya kenal. Sedangkan si Tukang langsung hilang entah kemana sebelum saya tandai. Sungguh, hari pertama magang yang terkesan heroik.
Di depan para pengawas proyek juga ikut ketawa walaupun belum ada yang saya kenal. Sedangkan si Tukang langsung hilang entah kemana sebelum saya tandai. Sungguh, hari pertama magang yang terkesan heroik.
Hari-hari selanjutnya, saya merasa terbebani. Amel
dan Dewi tidak mau ke tempat proyek kalo cuman sendiri, katanya “Namanya juga cewek,
nda enak kalo cewek datang sendiri ke sana” Intinya yang datang duluan harus
saya dulu. Setelah itu baru saling mengabari.
Di saat seperti itu, saya mulai
merindukan kelompok yang berisi sekelompok lelaki seperti Kak Johan dan Kak
Adi. Soalnya saya juga mau malas-malasan dan datang terlambat. Di kelompok ini saya malah harus jadi contoh yang baik. Tapi saya berpikir lagi, apalah daya kehadiran sosok laki-laki hidup di
muka bumi tanpa bisa jadi pemimpin dan pelindung bagi perempuan. Pemikiran ini
akhirnya ditulis setelah mengingat traktiran mereka ke saya.
Beberapa minggu berlalu. Setelah seringkali bolos
melarikan diri naik motor boncengan tiga buat tidur di masjid dengan alasan
shalat ashar, terus kembali ke tempat proyek lagi sambil makan es krim Alice,
akhirnya pemain baru datang. Mereka adalah Api, Iin dan Tri. Teman satu
angkatan yang agak terlambat menyelesaikan perizinan dan persuratan di kampus.
Akhirnya ada teman cowok juga. Jadinya cowok di tempat proyek itu ada saya dan
Api.
Hari-hari magang kerja proyek, diisi dengan menghitung meter lari. Seperti menghitung berapa progres pekerjaan dinding, batu bata, plesteran, kolom dan pekerjaan yang lain untuk kepentingan laporan mingguan. Di kesempatan magang kali ini, kami juga beruntung karna diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyaksikan beberapa kecelakaan-kecelakaan yang mengingatkan kami betapa pentingnya safety first dalam dunia kerja. Berikut uraiannya :
1. Minggu
Pertama : Jatuhnya skapolding yang menimpa jari kelingking seorang pekerja.
2. Minggu
Kedua : Seorang anak, kepalanya bocor tertimpa balok kayu ketika sedang
berjualan kue.
3. Minggu
Ketiga : Seorang pekerja jatuh dari atap ketika memasang rangka plafond. Diduga
karena mengantuk.
Dari kecelakaan-kecelakaan tersebut kami belajar
bagaimana pentingnya mengutamakan keselamatan dalam bekerja. Kecelakaan di
minggu pertama mengajarkan kita pentingnya memakai safety boot. Kecelakaan di minggu kedua mengajarkan kita pentingnya
memakai helm safety. Dan kecelakaan
di minggu ketiga mengajarkan kita pentingnya tidur yang cukup sebelum bekerja.
Selain itu, di sana saya mengenal banyak kenalan
baru. Salah satunya Pak Rusli, dia adalah orang yang menangani divisi logistik
sekaligus orang pertama yang kami ajak bicara untuk izin magang. Orangnya baik,
ramah dan suka mentraktir. Saya juga banyak belajar dari beliau. Apalagi belajar soal mentraktir.
![]() |
| Suasana ketika di traktir |
Selain Pak Rusli, di sana kami kebetulan akrab
dengan beberapa tukang. Namanya Dg. Sila, Dg. Gassing, Mas Eko, dan tukang yang
membuat Api terinspirasi, namanya Dg. Tuju atau dalam bahasa inggrisnya Dg.
Seven. Ada juga Mas Eko, salah satu tukang kusen yang mengajarkan kami apa arti dan filosofi Suket Teki.
Setelah melewati minggu-minggu dengan menghitung
meter lari, mengabsen tukang, dan di traktir Pak Rusli. Tiga sampai dua minggu
terakhir, perlahan satu persatu dari kami mulai menghilang. Ada yang tidak
masuk sampai tiga hari, lima hari, seminggu bahkan sampai dua minggu. Pak Rusli
beberapa kali bertanya ke saya “Rey, si A mana? Memangnya dia sudah selesai
magang ya?” Perasaan saya mulai tidak enak. Di tambah lagi, beberapa dokumen
perusahaan yang diminta untuk kebutuhan laporan belum di kasih sama pihak
perusahaan. Ditambah lagi, deadline asistensi laporan mingguan tinggal
seminggu. Mampus!
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari terakhir magang, bahkan cuman saya yang datang.
Semua lampiran dan surat yang butuh tanda-tandatangan direktur, saya rampungkan
selengkap mungkin. Saya pun pamit dan berterima kasih kepada Pak Rusli Dkk atas
bimbingannya di tempat proyek. Walaupun beberapa dokumen perusahaan belum di
kasih.
Beberapa hari kemudian, tepatnya H-3 pengumpulan
laporan, saya, Api dan Iin, akhirnya kembali lagi ke tempat proyek untuk
meminta dokumen yang belum lengkap. Di direksi keet kebetulan ada Direktur
Perusahaan. Namanya Pak Nawir.
Suasana agak canggung waktu itu. Kami masuk di
ruangan tanpa di gubris. Sadar suasana diruangan itu canggung, kami keluar
menunggu Pak Nawir selesai bicara dengan Pak Rusli. Selesai bicara Api langsung
maju mendekati Pak Nawir.
“Pak,
bagaimana itu soal dokumen perusahaan pak? Sudah ada?”
“Saya lupa bawa. Kau mau apakan?”
“Untuk laporan pak, terakhir lusa sudah harus di
stor, ehehe”
“Saya lupa bawa soalnya. Tidak tau kenapa saya
sering lupa”. Sambil mengisap rokoknya
“Kau mau tau kenapa?”
Api diam, satu ruangan juga diam, saya pura-pura
main handphone sedangkan Iin
menyimak.
“Hehe, tidak pak” jawab Api
“Karna kamu kurang berkesan di sini…”
Seluruh dunia seakan gonjang-ganjing seakan
kata-kata itu sudah lama mau di sampaikan Pak Nawir atas jarangnya kami hadir
di sana. Kami pulang dengan kepala tertunduk. Mengikhlaskan segalanya jika
memang nilai harus E.
Beberapa hari setelahnya, H-1 pengumpulan laporan,
setelah kami (baca: saya, Api dan Iin)
tidak berhasil mendapatkan dokumen penting tersebut. Dewi, Amel dan Tri
mencoba peruntungan untuk datang kembali ke sana setelah lama menghilang. Tapi
ujung-ujungnya hasilnya sama.
Pada akhirnya yang lulus di Kerja Praktek
Pelaksanaan ini cuman yang lulus.
Ya, iyalah.
Saya, Amel dan Tri dengan beruntung dinyatakan lulus mata kuliah satu ini dengan beberapa kebijakan yang diberikan. Sedangkan Api,
Iin dan Dewi sangat disayangkan harus pulang malam hari ini. Perjalanan karir
mereka harus terhambat karena tidak memenuhi syarat jumlah asistensi.
Sampai sekarang mereka masih tetap berjuang untuk
lulus di mata kuliah ini. Mari kita sama-sama doakan semoga mereka senantiasa
diberi kekuatan. Semoga kehadiran mereka selalu berkesan, ya walaupun dinilai
tidak berkesan. Setidaknya kita pernah berjuang menghitung meter lari
bersama-sama dan menyaksikan betapa pentingnya safety first di lapangan :)
![]() |
| Dari kiri ke kanan, Api, Dewi, Iin, Tri, Amel dan Ariel Peterpan. |








26 comments
Rey, tandai ka', nak muda ... ketika kau sudah bisa mentraktir, panggil saya. Kan kau sudah belajar banyak sama bapak dari divisi logistik itu toh?
ReplyDeleteDan, kedua teman perempuanmu benar, perempuan memang begitu, Selagi ada Rey, kenapa tidak? Tetapi justru karena merekalah, nanti mereka akan punya kesan heroik tentang dirimu. Camkan itu, nak muda! :D
Smpat kaget tdi baca komen nya kak niar. Kirain apa deh, trnyata mau ditraktir juga hahahaha. Siapp kak, smntara kmpul2nya uang dulu hahahah.
DeleteHahahaha. Iyaa kak. Sya jga mngerti kok. 😂
Aih paling tidak enaknya itu disebut, kamu kurang berkesan.
ReplyDeletejadi ingat anak PPLku, pernah juga kukatai begitu, karena pemalasnya.
Sukses ya Nak.
Iyaa kak. Dijadikan pelajaran saja hahaha.
Deletehahhaaa jadi ingat waktu kuliah, selalu di divisi perlengkapan. Apa-apa yang dicari, selalu ke saya. Saya pernah berkomentar, sory bro, saya bukan gudang.
ReplyDeleteBukan gudang, tapi toko agung. Smuanya lengkap di sana hahaha.
Deletewih bangga akutuh melihat anak-anak muda ini produktif *diiih berasa tua*. btw amel dan dewi cantik juga yaaah ehem
ReplyDeleteIya kak. Saya juga tidak kalah ganteng. Hehe.
DeleteHehehee. .. jadi inget lagi masa jaman dulu kala saat kerja praktek di proyek sana dan proyek situ. Seruu di lapangan banyak pengalaman yang sama sekali baru, yang gak pernah dipelajari di kampus. Nda ada di studio, nda juga ada di kuliah.
ReplyDeleteOh, kita jga dlu anak arsitektur ya?
DeleteDulu saya KPnya di Pembangunan Pasar Tanah Abang sama Hotel Indonesia. Suka duka di kehidupan proyek memang begitu. Temen saya yang cewe sudah kebal banget di siulin sama tukang. Tapi ini kan bagian dari proses.
ReplyDeleteTrnyata bnyak juga anak teknik yg komen di tulisan ini ya.
DeleteIya benar kak. Klo cowo sih ndada masalah.
Yaampun jlebnya rey di bagian karena kamu kurang berkesan disini. I feel you memang kalo magang lebih besar kemalasannya:") tapi rey bagus karena rame2ji magang, saya dulu sendiri jadi sangat ternotice. Jadi penasaranka rey kenapa bisa dirimu lulus sedangkan nda didapatki dokumen pentingnya?
ReplyDeleteDlu magangnya dmana samara? Kasian ya sndiri cewe, hahaha.
DeleteKreatifitas mami yg bikin lulus hahaha
sabar Rey, tak apa dianggap kurang berkesan bagi mereka.. yang ada dua gadis cantik yang mengandalkanmu.
ReplyDeleteYg ada kita sling mengandalkan kak. Biar saling memberi kesan.
DeleteAlhamdulillah lulus ya Rey, walau sampai harus dibilang 'kamu tidak berkesan di sini'. Deh sampai segitunya :(
ReplyDeleteSyukurnya waktu magang di kantor BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi NTB dulu saya lancar-lancar saja. Memang dapat banyak sekali kerjaan, tapi karena punya teman magang yang solid dan orang-orang kantornya juga baik jadi gak terasa berat deh kerjaannya.
Sukses terus kedepannya ya Rey!
Begitulah kak. Tpi memang benar sih klo dipikir-pikir.
DeleteNah, klo bgitu sih enak kak. Team worknya bgus. Klo satu tidak datang satunya menutup kehadiran yg satu.
Aamiin kak.
Alhamdulillah.... Rey sdh lulus di mata kuliah ini. Usaha gak menghianati hasil kan? Sukses terus ya... dan semangat juang jangan pernah surut dalam mengejar mimoi mimpimu.
ReplyDeleteAlhamdulillah. Iyaa, terima kasih kak Abby 🙏
DeleteAhahahha hahahha. Maaf kak keketawaka dulu. Eh masa dibilangki kurang berkesan 🤣 padahal ceritata peterpan mi yang paling berkesan 🤣
ReplyDeleteSerunya masa-masa magang begini yang bakalan dirindukan nanti-nanti.
Spertinya sya tidak bkalan mrindukan momen seperti ini. Terlalu pahit.
Deleteserunya di, jadi teringatka momen-momen magangku dua tahun yang lalu, btw nd adaji yang terlibat cinlok? hhahah kepoku deh.
ReplyDeleteHmm. Klo itu sya kurang tau hahaha
DeleteHai ariel tatum peterpan
ReplyDeleteNgg nganu, itu kenapa mesti crot ya bunyinya haduh
Alhamdulillah udah lulus di matkul ini yak.
Btw, aq jd kangen masa magang:( serunya emang beda.
Ya klo cret kan nnti dikira mencret lagi.
DeleteSinggah ki' :)