LOST IN BATAM

by - August 04, 2019


Reyhan Ismail, Batam

Siapa yang tidak tahu kota Batam?

Kota terbesar di Provinsi Riau yang terkenal karena katanya barang-barang elektronik di sana murah-murah. Kota yang katanya transaksi barang-barang ilegalnya cukup gmpang dan kota yang katanya bisnis prostitusinya sangat terjangkau. Terakhir sih, saya cek ada yang cuman 20.000. 

Anjaay. Itu bisnis prostitusi apa bisnis martabak markobar.

Pertama kali saya ke kota Batam waktu itu pas Kuliah Kerja Lapangan. Sehabis ke Malaysia dan Singapura, saya dan teman-teman angkatan yang berjumlah kurang lebih 50-an orang naik kapal laut menuju Batam pada sore harinya. Sampai Batam malam hari, kami langsung istirahat di hotel.


Sempat terbesit ide iseng salah satu teman saya, sebut saja si Bangkai. Dia mengajak buat mengunjungi tempat hiburan malam di Batam. Teman-teman cowok yang lain pun meng-iya-kan ajakan si Bangkai. Sebagai orang yang suci, saya tentu tidak langsung tergoda dengan ajakannya. 

Tidak lama kemudian salah satu teman menelpon. Sebut saja namanya Beno.

"Bikin apa di kamar bung? mau bertelur? sini keluar sama anak-anak"

Tanpa berpikir panjang, saya pun khilaf, lalu dengan senang hati ikutan.

Singkat cerita, strategi yang kurang matang dari cowok-cowok Geng Pembuat Dosa malam itu ternyata harus hancur berantakan. Beberapa dari kami harus dengan terpaksa ikut menemani Geng Cewek-cewek yang malam itu nongkrong di MCD sekitar Hotel. Soalnya mereka takut jalan bergerombol tanpa ada cowok yang menemani. 

Sebagian menunggu beberapa teman-teman yang ikut ke MCD di depan hotel sambil cerita-cerita. Dan sebagian lagi terpaksa balik lagi ke kamar karna tidak jadi ikutan. Saya termasuk yang menunggu di depan hotel.

Sampai jam dua pagi, saya akhirnya menyerah menunggu mereka. Jadwal jalan-jalan hiburan malam itu pun harus di batalkan karena ketidakjelasan rencana dan strategi. Di tambah lagi, kami sama-sama saling mengharapkan untuk mentraktir satu sama lain. Sungguh kere! 

Padahal cuman 20.000.


___

Besok paginya kira-kira pukul 9 pagi, kami menuju kawasan toko souvenir di sekitaran Mall Nagoya menggunakan bus. Saya lupa nama tempatnya apa. Daerah itu terdiri dari ruko-ruko yang saling berdempet. Ada yang menjual aksesoris perempuan, aksesoris laki-laki, oleh-oleh, parfum, alat elektronik dan masih banyak lagi dengan harga yang cukup murah.

Semua teman-teman yang ikut waktu itu mulai turun dari bus. Semuanya ada dua bus. Masing-masing berpencar untuk berbelanja dan mencari toko yang menjual apa yang mereka cari. Saya sendiri waktu itu berkelana bersama Haikal dan Beno untuk mencari toko aksesoris perempuan. Saya mencari tas Vicci titipan Ibu yang waktu itu tidak sempat terbeli di Malaysia. Beno mencari parfum untuk Ibunya. Sedangkan Haikal mencari arti dalam hidupnya.

Kami diberi waktu dua jam untuk berbelanja oleh sang Supir Bus sebelum berangkat mencari tempat makan siang. Yang berarti kami semua harus sudah kumpul di bus jam 11. Saat perjalanan berpindah dari ruko ke ruko, kami kerap kali bersembunyi saat bertemu rombongan teman laki-laki lain . Soalnya laki-laki jantan seperti kami masuk ke toko aksesoris perempuan buat apa!?

Butuh waktu satu jam lebih berkeliling untuk mencari tas yang sesuai selera dan budget. Setelah dapat tas yang di inginkan, kami bertiga sempat singgah buat makan dan membeli beberapa oleh-oleh yang lumayan murah. Seperti parfum, makanan, dan baju bertuliskan Singapura dan Malaysia. Biar dikira baju itu di belinya dari Malaysia dan Singapura, padahal cuman di Batam.

Sebelum kami memasukkan baju-baju itu ke kantong plastik, kami mencabut label harga dan toko yang bertuliskan "Batam Clothes, Rp. 25.000" itu biar harganya bisa di manipulasi dengan harga mahal waktu di kasih ke keluarga dengan bilang :

"Itu abang belinya di Singapura. Harganya 50 dollar. Kainnya berkualitas. Dari kulit singa"

Saat belanjaan di rasa sudah lengkap kami bertiga kembali menuju bus. Saya melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 11.40. Masih ada 10 menit lagi untuk berbelanja.

Sampai di dalam bus, kami melihat ternyata bus masih kosong. Bahkan supirnya juga belum datang. Teman-teman yang lain masih asik berkeliaran berbelanja. Kami menyimpan barang belanjaan di kursi masing-masing sambil duduk beristirahat sebentar. Setelah itu seorang teman baru masuk ke dalam bus.

"Anak-anak yang lain di mana?" tanya Beno

"Masih keliaran belanja" kata teman itu.

"Kamu darimana?" saya ikutan bertanya

"Dari Mall"

"Hah? memangnya di sini ada mall?"

"Ya, iyalah ada. Kamu tadi tidak kesana?"

Saya hanya menggelengkan kepala.

"Terus kalian tadi ke mana saja?"

"Keliling di bagian sana" saya menunjuk kawasan souvenir tmpat kami tadi berkeliling.

"Malahan tadi anak-anak banyak yang jalan ke mall loh"

"Ohiya? Mall-nya di mana?" Beno balik bertanya

"Namanya Mall Nagoya" dia pun langsung menjelaskan secara detail jalan yang harus dilewati untuk menuju Mall Nagoya.

"Ayo deh, masih ada waktu 10 menit" ajak saya ke Beno.

Tidak menunggu waktu yang lama saya dan Beno pun menuju ke Mall Nagoya dengan berjalan kaki santai. Beno berjalan sambil menghisap rokok. Saya berjalan sambil menghisap sisa asap dari mulut Beno.

Beberapa kali kami sempat salah jalan. 

"Eh, perasaan kita tadi sudah lewat sini deh."

"Nda, nda. Ini sudah cocok" Beno dengan intuisinya yang tinggi yakin kami berjalan sesuai dengan instruksi teman tadi.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. 

"Eh, ketemu ini lagi. Perasaan sudah dua kali kita lewat sini." kata saya kembali mengulangi kata yang sama setelah berjalan beberapa putaran.

"Iya juga ya..." 

"Ini sih namanya kita cuman berputar-putar bngst"

Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 11 pas. Saya dan Beno masih belum juga sampai di Mall Nagoya. 

"Santai...Teman-teman yang lain juga pasti masih pada belanja" Beno mencoba menenangkan.

Tidak mau membuang-buang waktu terlalu lama dengan mempercayai intuisi, saya langsung membuka GPS dan mengetikkan Mall Nagoya. 

Dengan bantuan GPS, kami akhirnya sampai di dalam Mall Nagoya. Dari GPS itu juga kami baru sadar, ternyata kerjaan kami daritadi cuman keliling kompleks ruko. Pantas tidak sampai-sampai.

Sampai di dalam kami masih sibuk berbelanja dengan santainya. Beno dan saya bahkan masih sempat beli dompet baru di sana. Saat sementara menawar barang yang harganya 100 ribu dapat 3 barang. Ponsel saya tiba-tiba berbunyi. Saya mengambil ponsel dari kantong celana. Salah seorang teman perempuan  menelpon. 

"Halo?"

"Heh? kamu sama Beno di mana? bus sudah mau berangkat ini. TInggal tunggu kalian berdua" suara Rezqi panik.

"Eh..iya..iya. I...ini, masih di Mall Nagoya. Baru mau balik"

"Sudah cepat ke sini! bus sudah mau jalan. Supir sudah marah-marah loh ini, jadwalnya ngaret!"

"I..iya, iya. Saya sama Beno sudah mau balik. Suruh supirnya tunggu"

Saya mematikan ponsel itu. Lalu segera mendekati Beno yang masih menawar harga ikat pinggang berbahan kulit buaya KW 2 itu.

"Ssst. Bus sudah mau berangkat. Tinggal tunggu kita. Ayo balik!"

"Sabar, saya selesaikan dulu negosiasi" 

Setelah memakan waktu beberapa menit, Beno akhirnya membeli barang itu. Kami keluar mall dengan berlari terburu-buru. Menyeberangi jalan, berlari di trotoar dan melewati gang-gang.

Sampai di sekitaran kawasan ruko. Beno memperlambat langkah. Saya menoleh kebelakang melihat Beno yang berjalan pelan, mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya.

"Singgah dulu Rey. Capek. Jangan terlalu buru-buru" Beno mengusap keringatnya di dahi.

"Kau mau ditinggal bus kah?" saya berbicara sambil ngos-ngosan.

"Ah, tidak itu. Masa mereka mau ninggalin kita. Kita ini teknik bro. Solidaritas harga mati!"

Tiba-tiba ponsel saya kembali berbunyi. Fajar, salah satu teman laki-laki menelpon.

"Halo? Iya, kenapa Fajar?"

"Kalian sudah ditinggalkan...." 

Suaranya dingin, seperti suara penjahat yang baru saja menyandera bocah perempuan.

"Hah? jangan bercanda bro. Ini kita sudah di jalan pulang ini. Kami sudah lari ini"

"Sudah tidak bisa. Kalian sudah ditinggalkan bus...."

"...."

"Semuanya sia-sia....Kalian tinggal saja di Batam. Fufufufu"

"Suruh supirnya tunggu Fajar. Ini kami sudah dekat" saya tidak menyerah membujuknya.

"Tttuuuuttt...ttuutttt" tiba-tiba Fajar mematikan telepon.

"Halo? Fajar?" 

"Itu siapa Rey?" Beno masih berjalan cepat sambil menghisap rokok.

"Fajar. Katanya mobil sudah berangkat. Katanya kita ditinggalkan"

"Ah, bohong itu. Ini teknik bro. Tidak ada kultur begitu di teknik"

"Iya, juga ya" saya mengikuti petuah dari Beno yang ada betulnya juga. Kami berdua akhirnya berhenti berlari dan memutuskan untuk berjalan santai saja. Sambil berjalan saya masih tetap berusaha menghubungi Fajar.

Kami sampai di jalan tempat bus terpakir kurang lebih pukul setengah 12. Sungguh sangat telat dari jadwal keberangkatan sebelumnya yaitu pukul 11. Dan kabar baiknya beberapa meter di depan kami, ternyata mobil bus masih menunggu dengan setia.

"Itu kan, apa saya bilang. Tidak mungkin kita ditinggalkan. Paling cuman kena marah" 

Kami semakin mendekat ke belakang bus selangkah demi selangkah. 10 meter, 9 meter, 8 meter, 7 meter, 6 meter dan sampai 5 meter tepat di depan kami, tiba-tiba bus berjalan maju pelan-pelan.

"E'ehh, ehh. Kenapa mobilnya jalan?" saya langsung panik.

"Eh, iyaa. Lari Rey, ketuk belakangnya" Beno juga panik.

Dalamm situasi seperti itu saya malah ragu untuk berlari mengejar. Hati saya berkata :

"Ah, pasti si supir lagi iseng, supaya kita panik terus mereka ketawa-ketawa di dalam sana liat kami mengejar bus. Dikira kami tidak tau apa"

Saya melihat jendela belakang mobil yang gelap dan tidak tembus pandang sambil membayangkan teman-teman yang lain ketawa puas di dalam sana ngerjain kami. Saya memutuskan untuk tetap berjalan sambil melihat bus tersebut semakin menjauh. Semakin menjauh dan menjauh sampai saya baru sadar dan memaki dalam hati 

BNGSAT, KITA DITINGGAL BENERAN!

"WOI BEN. LARI!!!!" saya memukul pundak Beno lalu berlari secepat mungkin.

Saya dan Beno langsung berlari mengejar mobil sambil berteriak.

"PAAAAKKKK!!!! TUNGGUUUUU!!!! WOOOOOIIIII!!!! ADA ORANG DI BELAKANG!!!"

Tapi bus tetap tidak berhenti-berhenti. Saya semakin mempercepat langkah untuk berlari. Tapi bus malah berjalan semakin cepat....

Wah, gila. Kalo mereka waktu itu iseng sih, isengnya sudah kelewatan. Kami dibiarkan berlari mengejar bus sampai puluhan meter.

Saya lalu berhenti berlari melihat bus itu sudah sangat menjauh dan tidak mungkin lagi untuk terkejar. Saya menoleh kebelakang melihat Beno yang masih berlari dengan nafas yang memburu. Saya membungkuk dan menekuk lutut untuk mengambil nafas menunggu Beno.

"Waduh, bagaimana ini. Kita ditinggalkan" saya mengusap keringat di dahi.

"Coba telpon Fajar.." Beno memberi saran.

Sambil menelpon Fajar, saya dan Beno masih tetap berjalan cepat mengikuti arah Bus yang keliatan kecil di depan kami.

"Halo!? Fajar?" akhirnya Fajar mengangkat telpon kami.

"Iya, kenapa?"

"Fajar. suruh supirnya berhenti, kami ada dibelakang bus, haaaah, haaaaah. Kami dibelakang mengejar ini, haaahh, haaah" saya berbicara dengan nafas tak teratur. Dan Fajar waktu itu hanya menjawab :

"Sudah, kalian sudah ditinggalkan, tidak usah mengejar. Kalian tinggal saja di Batam"

"Tttuuuuttt....tttuuutttt" telpon di matikan lagi oleh Fajar.

"Taaaiiii" saya memaki dalam hati.

"REY, LAMPU MERAH! LARI REY! BUSNYA BERHENTI! LAMPU MERAH! KEJAR CEPAT!" Beno menunjuk ke depan. 



Secara bersamaan kami berlari secepat mungkin mengejar Bus tersebut. Semua orang-orang dipinggir jalan melihat kami penuh keheranan. Kami berlari hampir pas ditengah lajur kiri jalan. Berlari sangat kencang melewati motor yang berjalan dengan kecepatan 40-50 meter/jam. Semakin mendekati Bus, harapan kami mulai muncul kembali. Nafas saya mulai habis namun saya masih berlari sekuat tenaga.

Waktu saya sudah hampir sampai di belakang bus. Barangkali cuman membutuhkan 10-15 langkah lagi. Dengan bangsatnya lampu lalu lintas berganti berwarna Hijau....


Bus kembali berjalan pelan-pelan lalu melaju dengan cepat. Sedangkan saya hanya berlari makin melambat memandangi pantat bus dari belakang sambil menghisap asap knalpotnya yang hitam.

"PAAAAAKKKKK! TOLOOOONG..........!!!" 

Nafas saya habis. Tubuh saya tak bertenaga dan saya kembali kehilangan harapan. Dibelakang sana saya sudah sangat jauh meninggalkan Beno yang berjalan lunglai. Sedangkan di depan, Bus berjalan menjauh dengan kecepatan sedang, tidak cepat seperti sebelumnya karena Bus sudah sampai di jalan poros yang agak padat. Tapi apa daya. Saya sudah tidak kuat mengejar. Otot-otot betis kaki saya sudah terasa menegang. Keringat membasahi wajah saya dan baju saya basah berkeringat.

"Bagaimana tadi kata Fajar?" Beno mulai menyusul sambil tetap berjalan mengikuti arah Bus.

"Tidak tau. Katanya kita tidak usah mengejar"

Beno mulai memaki-maki dan emosi tidak karuan. Sedangkan di depan, kembali lagi Bus berhenti karena terjebak macet. Saya melihat Beno. Beno melihat saya. Kami saling bertatap-tatapan. Tatapan itu seakan-akan berkata 'Ayo, lari kawan. Aku sudah tidak kuat'

Beno tiba-tiba memukul pundak saya dan berkata :

"Lari Rey. Tinggal kamu harapan satu-satunya yang saya miliki"

Mendengar kata-kata itu. Semangat saya terbakar. Saya pun dengan sisa kekuatan yang masih ada, perlahan berlari kembali mengejar Bus yang berjalan sangat pelan itu.



Semua tenaga, semua nafas, dan seluruh massa otot saya kerahkan saat itu juga. Ini adalah harapan terakhir yang kami miliki sebelum Bus itu kemballi melaju semakin cepat. Saya berlari sambil membayangkan ekspresi wajah Beno memegang pundak saya barusan. Beno sudah mempercayai saya. Saya tidak boleh membuatnya kecewa. Dan intinya, SAYA TIDAK BOLEH KESASAR DI BATAM ANJIRRR!1!!1!!!

Saya berlari menghabiskan sisa tenaga yang ada sambil berteriak sekencang mungkin.

"PAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK!!!!! TOOOLOOOOOOOONNGG!!!! BERHENTIIIII!!!!!!"

Semua pengendara jalan mulai menatap saya. Seorang pengendara motor yang berboncengan dengan nenek-nenek pelan-pelan melewati saya, sambil si nenek memandangi saya dan menoleh penuh rasa heran. Barangkali dia sudah menganggap saya orang gila. Tapi bodo amat lah, yang penting saya tidak kesasar.

Belum sempat sampai dekat dibelakang. Bus itu malah menyalip mobil di depannya dengan cepat. Melewati jalan padat yang ada di depannya. Lalu menghilang terhalang oleh kendaraan lain. Saya menatapnya dengan penuh rasa duka cita yang amat sangat mendalam. Semua harapan dan kepercayaan itu sirna sudah...

Saya berhenti, terduduk di trotoar tak berdaya dengan nafas yang mengejar. Keringat menetes dari dagu. Betis bergetar hebat. Menunggu Beno menyusul saya.

"Ke mana Busnya?" tak lama kemudian, Beno sampai.

"Hilang...."

Beno terduduk lemas. Saya masih berusaha menghubungi Fajar tapi tidak diangkat-angkat. Sadar harapan itu sudah tidak ada, saya dan Beno mulai menyusun rencana untuk mengumpulkan uang buat membeli tiket pesawat pulang dengan cara menjadi pengamen jalanan.

"Atau kita pergi kerumah Tanteku saja Rey. Kebetulan dia tinggal di Batam"

Semua rencana sudah kita susun untuk bertahan hidup di Batam.

Lalu tiba-tiba Fajar menelpon...

Dari obrolan itu, Fajar baru memberitahu kalo ternyata daritadi sudah ada mobil yang menunggu kami di tempat awal. Mobil itu sengaja menunggu kami yang terlambat datang untuk menyusul ke tempat perhentian Bus selanjutnya.

Saya mencoba menahan emosi. Lalu membayangkan berkilo-kilo jalan pulang yang barusan sudah kami lewati dan harus kembali kami lewati lagi.

"Bagaimana?" tanya Beno.

"Kita pulang kawan...."



PS : Tulisan #PertamaKali isinya soal pengalaman pertama kali saya melakukan sesuatu. Bakal di apdet tiap Minggu. Semoga selalu sempat. Hehe :)

You May Also Like

14 comments

  1. Permisi, mau ngakak dulu wkwkwkwkkw nda bisa than ketawa pas bacanya x)) membayangkan situasinya saat itu pasti kesal setengah mati, tapi kalau dikenang kembali jadi cerita lucu yang Tak terlupakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkw. Makasih kak.
      Dulu sih emosi. Smpat ada pikiran buat gelutt saja wkwk. Tpi klo diingat-ingat lagi cman mau ketawa.

      Delete
  2. Hahaha bangsat! Tapi memang begitu kalau mau mengerjai anggota yang nda disiplin
    siapa suruh ngaret, sudah dibilang kumpul jam 11 masih ngaret juga
    rasakan akibatnya kisanak!

    ReplyDelete
  3. you made my day! hahahah. Lucu tapi kasihan juga. Jadi mau mengumpat ke Fajar hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya lebih2 itu hari kak. Sdah hampir mau gelutt

      Delete
  4. hehe.. saking asiknya belanja2 sampe lupa pulang, dan ditinggal deh.. btw, nda ada lanjutannya ini cerita kak? bagaimana dengan wisata duapuluhribunya? jadi ji?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya untuk sekarang, sampai sini dulu kak. Klo untuk wisata dua puluh ribu,....

      Astgfirullah aladzim...

      Delete
  5. Makan ayam geprek sama minum es teh manis aja itu masih lebih mahal, Rey. Gila juga di sana harga kenikmatan diobral banget. Di Jakarta kayaknya paling murah 30 ribu yang di dekat-dekat rel kereta api (ini saya cuma dengar cerita dari teman).

    Wqwqwq. Ada-ada aja ketinggalan bus. Jadi ingat kawan saya zaman sekolah juga ada yang sampai ngejar-ngejar gitu. Bedanya, dia larinya kencang betul dan berhasil meraih bus itu. Tapi entah kenapa pas berusaha naik ke busnya, dia terpeleset, terus jatuh. Luka-luka jadinya. Baru dah akhirnya bus itu berhenti. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. 30 ribu sama 20 ribu cman beda 10 ribu yog. Masih lebih murahan di Batam. Itupun-Katanya-kalo udah larut banget dan orangnya seharian ngga dpet pelanggan, baru deh diobral.

      Sakit bnget sih itu. Ngga kebayang malunya segede apa kwkwwk

      Delete
  6. Orang mah yak udah ketinggalan bus, dikejar pula pakai kaki. Super sekali. Pengendara lain itu gak ada yang simpati kah nawarin tumpangan atau ngedahuluin bus, kasih tau adak dua butir kepala ketinggaln di belakang gitu? Wkwkwk.

    Dari kapan ingin sekali ke Batam, karena bisa langsung loncat ke Singapura, lanjut Malaysia, kemudian Thailand. Tapi waktu, dan kesempatan belum kumiliki. Mungkin lain kali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini awalnya sempet kepikiran buat minta bantuan. Tapi saya malu. Selain krna bus nya emang sdah lumayan terjangkau buat dkejar dngan lari. Makanya mikir, ngga perlu minta bantuan.

      Iya, sih emng deket. Ngga perlu makan bnyak uang transport wkwk

      Delete
  7. bacanya juga ikut capek soalnya ngebayangin lari-lari ngejar busnya, wkwkwk. Saya terakhir ke Batam pas SD. Tapi saya masih ingat memang jalan-jalan disana malam hari sama ortu terus heran kenapa ada cewek-cewek cantik pakai baju seksi berdiri di depan gedung, eeh rupanya prostitusi toh. ckckck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betull. Tpi ngga semua sih tempat yang ada cewe cntik dan seksinya di batam adalh tempat prostitusi :D

      Delete

Singgah ki' :)