CABUT GIGI

by - September 22, 2019



Bukan. Ini bukan cerita tentang saya cabut gigi susu. Terlalu mudah. Lagian kalo cabut gigi susu waktu kecil saya bisa sendiri. Tapi ini cerita waktu saya mencabut gigi dewasa pertama, yang artinya gigi itu tidak bakal tumbuh lagi. Semuanya berawal dari sini...


___


Lulus SMA sebenarnya saya mau langsung mendaftar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Nah, salah satu syarat kelulusan tes fisiknya itu tidak boleh ada satupun gigi berlubang. Waktu itu saya punya gigi dan hati yang berlubang. Kebetulan hati tidak bisa di tambal, maka saya berpikiran untuk menambal gigi saja.


Sebelumnya saya belum pernah menambal gigi. Maka jadilah hari itu saya pertama kalinya untuk menambal gigi. Kata teman saya tambal gigi itu tidak sakit kok, cuman ngilu saja. Soalnya sebelum di tambal, gigi sedikit di amplas pake mesin amplas gigi biar bahan tambalnya bisa melekat.

Saya pergi ke dokter gigi sendirian sambil membawa uang 100 ribu. Karena kata temen, tambal gigi itu cuman bayar 50 ribu. 

Saya tidak butuh ditemani siapapun soalnya ini cuman perbaikan kecil-kecilan. Saya masuk ke ruang tunggu, mengambil nomor antrian lalu menunggu.

Antriannya cuman beberapa orang. Tidak terlalu padat. Ruangannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Klinik giginya juga cuman buka dirumah dokter gigi. Ruang tunggu nya sepertinya hasil renovasi dari ruang tamu. 

Saya menunggu sambil baca-baca majalah Gadis yang tergeletak di rak bawah meja di samping.

Setengah jam kemudian nomor saya dipanggil.

"69...? Nomor 69?" Suster di bagian administrasi itu teriak

"Iy..iya, saya mbak!" saya berdiri mengacungkan tangan lalu berjalan ke arah si Suster.

"Silahkan masuk pak" dia menunjukkan pintu yang harus saya masuki. Bapak? Saya dipanggil bapak? Sepertinya muka saya memang sudah keliatan tua sejak dini.

Saya membuka pintu perlahan, merasakan hawa dingin ruang praktek yang menyejukkan ketek, mencium aroma-aroma khas alkhol dan memandang dokter perempuan yang tidak memandang saya.

"Silahkan duduk pak" Lagi-lagi dipanggil pak. Si dokter masih sibuk mencatat resep. Sepertinya resep yang barusan dia kasih ke pasien sebelumnya.

Saya duduk. Sambil batuk. Biar dapat perhatian.

"Bapak mau apa?"

"Saya mau beternak ikan lele. dok"

"Saya mau menggrebek rumah anda dok" 

"Saya mau tambal gigi dok, ehehe" masa pake ditanyain mau apa, Ya periksa gigi lah! masa periksa usus 12 jari adeehhhh.

"Oh. Gigi yang mananya pak?" sang dokter mulai memasang masker, takut radiasi bau mulut saya membuat orang-orang di sekitar tempat itu meninggal.

"Gigi geraham atas dok, ehehe"

"Coba buka mulutnya" sang dokter mengarahkan lampu gigi ke mulut saya. Saya otomatis duduk sambil mangap.

"Gigi geraham sebelah mana pak?"

"Hwaaa, wa, waaa, waanan ook" dalam hati saya; 

INI SAYA LAGI MANGAP MALAH DI AJAK NGOBROL. YANG BENER AJA DONG DOK!!!!"

"Oh, kanan..." setelah beberapa kali mengulang mantra orang mangap, akhirnya dokternya mengerti.

Selesai memeriksa gigi yang berlobang. Sang Dokter mengambil keputusan bahwa gigi tersebut ternyata harus dicabut, karena lubangnya sudah sangat dalam dan kalo dibiarkan begitu saja bisa menganggu saraf di gigi. Selain itu beberapa gigi dibagian bawah yang mulai sedikit berlobang harus ditambal untuk mengantisipasi biar lobangnya tidak makin parah.

Setelah berdiam diri berpikir, saya akhirnya menjawab ;

"Yasudah, tidak papa dok. Cabut saja. Ehehe"

Gigi geraham tersebut akhirnya tidak bisa diselamatkan lagi. Saya berpikir daripada menunda-nunda trus nanti makin lama makin parah mending sekalian dicabut. Walaupun hati dan kaki saya bergetar karna ketakutan. Ini sakit nda ya...

Saya kemudian duduk di kursi pasien. Mungkin bentuknya seperti ini





"Coba kumur-kumur dulu" Suster yang disamping saya memberikan saya segelas (sepertinya) air. Saya menuangkannya ke mulut.

*Glbuk, glbuk, glbuk.

*Bweerrr

*Glbuk, glbuk, glbuk, nggrrrookkkkk, ngrrrroookkkkk

*Bweerrr

Sang dokter yang kemudian memeriksa kembali gigi berlubang saya dengan alat cermin gigi dan besi-besi entah apa namanya.

"Jadi, nanti gusi nya akan di suntik bius lokal, biar saraf-sarafnya tidak terlalu tegang dan tidak sakit pas giginya dicabut"

Mampus.

"Oheheh. Iy..iya dok" 

Ini pertama kali dalam seumur hidup gusi saya disuntik. Di suntik di kulit saja sakitnya sudah minta ampun. Nah, ini di gusi Ya Allah. Kuatkan hambamu T_T

Si Dokter mulai mengangkat suntik gigi itu setinggi batang hidungnya. Tidak seperti suntik kebanyakan. Bentuknya agak pendek dan kecil. Jarumnya juga tidak terlalu panjang. Saya meliahat suntiknya sambil menelan ludah.

Dokter tersebut lalu mengarahkan suntiknya ke arah sekitar gusi gigi yang ingin dicabut.

"Tahan ya..."

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Belum, belum"

"Ohehe, iya dok" Saya kembali mangap.

Dokter tersebut lalu mengarahkan suntiknya ke arah gusi atas saya. Saya menahan nafas. Jarum suntik mulai terasa di permukaan gusi saya. Perlahan menusuk masuk ke dalam. Menyisakan sakit yang menusuk sampe ke ubun-ubun. Tubuh saya tersentak sedikit. 

"Uh..."

Setelah disuntik sekali, Dokter kembali mengecek apakah sarafnya masih peka. Dia sampe menyuntiknya berkali-kali. Tapi anehnya semakin disuntik, saya makin merasa tidak merasakan apa-apa. Tidak seperti suntik yang pertama. Apakah ini yang di namakan mati rasa?

"Oke, sekarang giginya di cabut ya"

"Hu'mm dok" saya menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Mati saya.

Suster yang bertugas memegang alat penghisap iler di samping saya kemudian berganti posisi menjadi pemegang kepala saya. Di depan, saya sudah melihat dokter memegang alat pencabut gigi.



Saya merasakan gigi geraham atas saya tergigit oleh alat ini. Dingin, karna gagangnya kadang mnyentuh kulit bibir saya. Setelah tergigit, dokter menggoyang-goyangkan gigi saya. Dari putar ke kiri ke kanan. Ke kiri ke kanan. Manisee. 

Tidak ada rasa sakit apapun. Si Suster mulai bekerjasama dengan Dokter seperti sedang mencabut paku di kepala kuntilanak. Kepala saya di tekan, di tahan oleh suster. Sedangkan si Dokter menggoyang-goyangkan gigi saya. Saking susahnya dicabut, si Dokter sampai menaikkan kakinya ke muka saya sebagai penyangga untuk membantu menarik.

Yang terakhir becanda.

Sampai tiba pada satu momen di mana semua orang di ruangan itu kaget. Saya, Suster dan Dokter. Semuanya mendengar suara *Prakkk*

Gigi geraham saya bukannya tercabut malah pecah.

Saya melihat dokter. Dokter melihat saya. Suster melemaskan cengkramannya di kepala saya.

"Duh, mahkotanya pecah" kata dokter.

Saya kaget. Ada apa ini? Perasaaan, selama ini saya tidak punya mahkota. Apakah saya ternyata adalah Ratu?

Ternyata yang di makdsud Dokter yang pecah adalah mahkota gigi saya. Jika semua mahkota gigi itu pecah maka harus dilakukan operasi pembedahan gusi. Karna sudah tidak ada lagi gigi timbul yang bisa ditarik oleh tang pencabut gigi. Soalnya yang tersisa tinggal akarnya.

DIbedah? Saya keringat dingin. Sungguh saya sangat tidak siap dengan semua ini. Padahal awalnya saya kira semuanya akan mudah dan sebentar. Ternyata jadi rumit begini.

"Coba buka mulut kembali" kata dokter. Saya menuruti perintahnya. Si Dokter kembali memeriksa gigi saya dengan memakai kaca spion gigi.

"Hmm"

"Kenapa dok?" Kata suster.

"Sepertinya umurnya sudah tidak panjang lagi" kata Dokter alias becanda. Muehehe.

"Masih ada sedikit mahkota yang tersisa, semoga kali ini bisa tercabut smua" kata dokter.

Kemudian dokter kembali bergerilya dengan gigi geraham saya. Cukup lama Dokter dan Suster bergelut dengannya.

Sampai akhirnya akar yang sungguh amat panjang itu tercabut. Menyisakan rasa ngilu sampai ke otak. Tubuh saya sedikit tersentak. Saya sedikit teriak ketika akarnya sudah tercabut, saking ngilunya.

"Fiuuuhhh. Akhirnya. Ayo kumur-kumur dulu"

Rasa asin mulai terasa di lidah seiring dengan tercampurnya air kumur-kumur dengan darah. Saya membuang air kumur di sebuah wadah. Airnya jadi warna merah. Saya kira warna biru.

Setelah itu, gusi saya dijahit. Lalu lubangnya ditambal dengan kapas. Waktu di jahit, rasanya biasa-biasa saja. Mungkin karena efek bius lokal yang masih berpengaruh di gusi.

Semua prosedurnya kalo dihitung-hitung mungkin memakan waktu sampai dua jam lebih. Sekarang waktunya untuk menyelesaikan proses pembayaran. Si Dokter memberikan saya beberapa obat. Memberikan sedikit penjelasan tentang takaran obatnya.

"Semuanya 250 ribu pak"

Saya memeriksa uang di saku celana. Tiba-tiba saya baru ingat, ternyata saya cuman bawa uang 50 ribu. 

Mampus...



You May Also Like

11 comments

  1. Jadi bawa uangnya 100rb atau 50rb, Rey?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 100 ribu! hadee jeli sekali bapak firman ini T_T

      Delete
  2. Tadi pagi aku komen kok gak masuk ya ?
    Pas banget soalnya, aku juga abis cabut gigi bungsu.

    Tapi karena ini gigi bungsu (gigi geraham paling belakang). Saya jadi khususon nyari yang Spesialis bedah mulut. Takutnya ya kayak kamu gitu, kalau dokternya kurang kuat mencabut giginya yang ada malah mahkotanya pecah dan bisa menimbulkan tindakan tambahan berupa bedah gusi.

    Syukurlah aku ga pakai acara mahkota gigi pecah, langsung cabut sampai ke akarnya. Jadi nggak perlu bedah gusi / operasi.

    Tapi karena ke SPBM ya jadi agak mahal dikit.

    Wkwkwk
    tapi aku setuju sama pendapat dokter kamu, kalau udah kena syaraf gigi geraham emang mending dicabut sih. Soalnya syarafnya geraham bisa 2-3 itu PR banget kalau musti perawatan saluran akar.

    Btw. soal gaboleh punya gigi bolong untuk syarat pendaftaram. Itu kalau giginya sudah ditambal, jadi boleh daftar gitu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tdi pagi? kyaknya ga masuk deh. Soalnya klo masuk, brarti komen kamu di sini udah ada dua.
      Mantap bangett. Udah langsung di antisipasi T_T

      Iyaa, bener. Bahaya juga sih buat kesehatan. Makanya mending langsung di cabut aja.

      Ngga. Klo udah ditambal kata temenku ga masalah. Yang gabisa itu kalo giginya lubang.

      Delete
  3. Wanjeer llama juga ya itu 2 jam. Gue pikir bakal cepet kayak 15 menitan gitu. Kan deg2annya jadi lama kalo gitu. Mana sempet pecah dulu lagi mahkota giginya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli di. Lama banget. Sampe pas keluar tuh, diliatin semua orang. Saking herannya.

      Delete
  4. Terus bayarnya gimna tuh? gue malah penasaran. Apa giginya di balikin ke tempat semula?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, ga dibalikin ke tempat semula juga T_T

      Paling cuman di suruh cuci gigi.

      Delete
  5. 50 rebunya lago di kemanain woy? tadi katanya bawa 100 ribu karena biayanya cuma 50K? anda membuat cerita cabut gigi yang seram bagi beberapa orang berdasarkan pengalaman pribadi masing2. Tapi cerita hilangnya 50 ribu yang awalnya dibawa itu lebih mengherankan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bwahahaha. Baru nyadar gue. Sama kayak komen firman.

      Itu murni kesalahan saya bang haw. Adapun kalo ada yang benar, hanyalah milik Allah semata.

      Delete

Singgah ki' :)