TERSETRUM LISTRIK

by - September 15, 2019




Aliran listrik menggetarkan tubuh saya bersamaan ketika saya menyentuh kabel lampu taman yang telanjang itu. Telinga saya rasanya seperti tersumbat tidak mampu mendengarkan apa-apa. Pandangan saya kabur walaupun saya masih bisa melihat Nurul sepupu perempuan saya berteriak histeris. Saya spontan pipis di celana. Bukan, bukan karena saya memang suka ngompol di celana. Semuanya terjadi secara tiba-tiba.


Tidak lama kemudian kesadaran saya mulai redup. Pandangan saya gelap namun sekujur tubuh saya masih bergetar hebat. Saya masih bisa melihat bayangan Nurul teriak histeris lalu berlari memanggil seseorang. Ingatan saya terakhir kali merekam Bapak datang dengan panik sambil memukul tiang lampu taman tersebut dengan kayu, Selepas itu saya tidak tahu jiwa saya sudah sampai mana. Ingatan saya sudah tidak mampu merekam apa-apa lagi.


____

Setiap orang pasti pernah mendapatkan musibah dalam hidupnya. Ada yang sampai menimbulkan luka dan ada yang sampai menimbulkan trauma. Ada yang bisa sembuh dan ada yang tak mau sembuh. Ada yang bisa melupakan dan adapula yang terjebak dalam kenangan. 

Berbicara tentang musibah, saya pernah mengalami musibah yang hampir membuat saya pamit duluan ke alam barzakh. Untungnya sang pencipta masih memberikan saya kesempatan untuk tetap hidup. 

Waktu itu saya masih bocah SD. Kalo tidak salah kelas 4 atau 5. Masa di mana saya di mabuk film-film india. Soalnya hampir setiap hari saluran tv dirumah pasti sering memutar film India. Dulu saluran tv yang sering menayangkan film india kalo tidak salah TPI (yang sekarang jadi MNC TV) Berhubung remot tv cuman satu. Mau tidak mau saya terpaksa harus ikut menikmati adegan joget-joget sambil lari-larian di taman itu. Dan ternyata saya suka.

Semua film India yang dibintangi Shahrukh Khan, Salman Khan, Aamir Khan, Hrithik Roshan, Amitabh Bachaan dan Bopak Castello saya ikuti semua. Karena setiap hari masa kecil saya dicekoki film-film India, maka tidak heran saya selalu berimajinasi joget-joget, lari-larian di taman dibawah rintik hujan sambil bernyanyi Kuch-Kuch Hota Heyy.

Sampai pada satu sore, saya bermain india-india-an dengan sepupu saya, Nurul. Kami lari-lari-an seperti di film India, tentunya dengan tidak menyanyi. Soalnya saya tidak hafal liriknya. 

Saat berlari mengejar Nurul dengan sendirinya lagu india terputar di otak saya. Saya membayangkan menjadi seorang Shahrukh Khan yang mengejar seorang Kajool karena hutang kredit setrika-annya belum dibayar. 




Kami berlari mulai dari dalam rumah nenek, ruang makan, ruang tamu, ruang keluarga sampai ke taman yang ada di pekerangan rumah nenek. Saat berlari-lari di taman dengan kaki telanjang. Saya kadang tersadar.

INI KENAPA SAYA JADI NGEJAR-NGEJAR GINI YA!?!!!??.

Nurul juga tanpa sadar tidak pernah berhenti untuk berlari dan saya tanpa sadar malah terus mengejar. Ini kami kurang kerjaan sekali ya. Di saat anak-anak lain main layangan, kelereng, lompat tali, kenapa kami malah kejar-kejaran tidak jelas begini.

Kami terus berlari memutari pohon seperti di film-film India. Mengelilingi semak-semak. Menginjak sarang semut merah. Tanpa sadar kami sudah sampai di puncak gunung mahameru saking lamanya berlari-lari.

Saat mulai lelah berlari di taman, Nurul masih semangat untuk dikejar sambil tertawa-tawa. Dia kemudian berlari menuju sebuah lampu taman berwarna merah yang tidak menyala. Dia memegangi besi lampu taman itu lalu memutarinya. Tak mau kalah, saya juga ikut meniru gayanya. Saya berlari secepat mungkin, meraih batang besi lampu taman tersebut dan memegannya erat. Belum sampat memutar tubuh, tiba-tiba saya merasakan panas dibagian tangan. Sebelum tubuh saya bergetar hebat karena tersetrum, saya sempat merasakan tangan saya menggengam kebel telanjang yang cuman ditutupi selotip. Dari sana, listrik mulai mengaliri tubuh saya. 



Semuanya kemudian berlalu seperti yang saya tullis di paragraf awal tulisan ini. Saya hampir hilang kesadaran. Saya merasakan tubuh saya diangkat oleh bapak yang berlari kesana kemari dan tertawa. Eh, kok malah nyanyi.

Tubuh saya melemah, saya tidak bisa mendengar apa-apa. Pandangan saya kabur tapi saya masih bisa melihat dengan jelas teriakan Bapak yang tidak bisa terdengar.

Beberapa menit berlalu. Pendengaran saya perlahan kembali baik seperti semula, setelah sempat budek disumbat oleh aliran listrik entah berapap volt. Saya mendengar bapak teriak-teriak minta tolong sambil menggendong saya. Semua orang panik. Tetangga, nenek, tante dan keluarga keluar dari rumah mendengar teriakan tersebut.

Melihat saya sadar, Bapak kemudian membaringkan saya di tempat duduk di halaman depan rumah nenek. Semua orang shock melihat saya. Semua tatapan memandang ke arah tangan saya. Perlahan saya mulai kembali duduk. Saya sempat heran 'Ada apa ini rame-rame?' saya berusaha mengingat-ngingat kembali apa yang sudah terjadi.

Setrum. Tadi saya tersetrum listrik. Saya sempat berpikir, sehabis di setrum listrik, apakah saya akan punya kekuatan super seperti Joshua di film Anak Ajaib? atau apakah aliran listrik itu akan terpendam dalam tubuh saya sehingga saya bisa mengendalikannya seperti Raiden di Mortal Kombat?



Perlahan indera penciuman saya mulai merasakan ada bau-bau gosong. Dari situ saya baru sadar kalo ternyata jari-jari saya melepuh, gosong, dan terluka parah. Karena efek panas yang dihasilkan listrik, kulit di jari-jari saya sampai melekat satu sama lain. Di beberapa sisi, tulang jari-jari saya bahkan ada yang sampai kelihatan.

Habis itu saya langsung dibawa ke rumah sakit. Saya dibawa ke ruang UGD. Tangan saya dirawat seperti anak sendiri. 


___

Hari itu saya bersyukur musibah tersebut tidak sampai merenggut nyawa saya. Walaupun musibah itu membuat jari kelingking saya sampai hari ini tidak seperti jari kelingking orang-orang pada umumnya. Saya mengangap jari kelingking ini sebagai kado yang diberikan sang pencipta kepada saya.

Beberapa kali saya selalu berpikir, bagaimana ya kalo hari itu Bapak terlambat datang? bagaimana kalo hari itu Nurul tidak cepat meminta bantuan? apakah hari itu saya akan pergi? Barangkali iya. Barangkali tulisan ini sudah tidak ada lagi.

Tapi, saya selalu percaya. Dibalik kehidupan yang diberikan sang pencipta kepada manusia, pasti selalu ada alasan dibaliknya. Hari ini saya masih diberikan kesempatan untuk tetap hidup. Dan tugas saya sekarang adalah menjemput alasan-alasan itu dengan melakukan hal-hal yang bermafaat untuk orang di sekeliling saya. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun adalah kesempatan. Kesempatan untuk selalu memberikan yang terbaik. :)


You May Also Like

6 comments

  1. Pandangan kabur tapi masih bisa melihat dengan jelas, itu tolong dijelaskan lebih rinci, Pak Seleb. Btw ada peningkatan nih isi tulisan Abang Rey. Makin mantaplah, cocok jadi panutan memang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga ya. Bwahahaha. Saya juga baru sadar. Ada sedikit inkonsistensi yang perlu diperbaiki.

      Delete
  2. Anjiiiiir horor juga ya kesetrum lampu taman lho. Gue sikut kepentok meja terus kesetrum aja udah rasanya kayak pengen sunat lagi.

    ReplyDelete
  3. Anda positif sekali ya dalam menyikapi kejadian serem begitu... tapi saya juga pernah ngalami sih, jadi nurulnya. adik saya yg kesetrum, tau2 mulutnya kayak keluar busa, saya lari nyari kursi, buat matiin sekring listrik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus bang haw. Soalnya tragedi itu paling ngena klo dijadiin komedi.
      Anjirr. sampe keluar busa. Udah parah banget sih itu.

      Tpi masih sehatkan adiknya?

      Delete

Singgah ki' :)