DIKEJAR ANJING

by - January 04, 2020





Salah satu ketakutan terbesar saya adalah di kejar sama Anjing. 



Bukannya takut di gigit (walaupun emang iya). Saya hanya berusaha untuk menghindari yang namanya najis. Ketakutan ini juga yang membuat saya sulit menghadapi situasi di mana ketika suatu saat saya jalan kaki berdua sama pacar, terus di hadapkan dengan seekor anjing. Sebagai laki-laki gentle pelindung pasangan, saya lebih baik memilih lari meninggalkan pacar daripada harus terkena rabies kena gigitan anjing. 

Sungguh lelaki cemen.

Semua ketakutan ini bermula dari sini...


-R-

Suatu hari tetangga saya, Bu Irma punya anjing. Sebut saja nama anjing itu Selly. Warnanya coklat. Setiap orang yang lewat di depan rumah Bu Irma pasti akan di gonggong sama Selly. Kadang-kadang Selly di ikat, kadang-kadang dibiarkan bebas. Itupun kalo pagar rumah Bu Irma tertutup rapat. Biar Selly tidak sampe mengejar orang-orang yang lewat jalan kaki di depan rumah Bu Irma.

Masalahnya, jalan di depan rumah Bu Irma adalah jalan yang sering saya lewati kalo mau beli permen, snack atau biskuit. Waktu itu saya masih SD, lupa kelas berapa. 

Beberapa gosip tetangga mengatakan bahwa Selly sering mengejar orang-orang yang lewat di depan rumah Bu Irma. Beberapa diantara mereka yang dikejar ada yang selamat, ada yang sampe kecebur got, dan ada yang cuman ketawa, soalnya yang dikejar temennya.

Saya sendiri percaya Selly adalah seekor anjing yang baik. Tidak akan mengejar kalo dia tidak diganggu. 

Hingga sampai pada satu siang di hari Minggu yang cukup terik. Saya ingin membeli permen Kaki di kios. Biar enak maraton nonton kartun Dragon Ballnya.

Saya keluar rumah menggunakan sendal-sepatu Hommyped. Selangkah namun pasti saya mulai mendekati rumah Bu Irma. Rumahnya rumah kayu. Pagarnya juga pagar kayu setinggi bahu orang dewasa. Jantung saya mulai deg-degan namun saya masih berusaha untuk tenang.

Saya perlahan berjalan melwati jalanan depan rumah Bu Irma. Dan tiba-tiba suara gonggongan Selly mengagetkan saya. 

"GUKKK, GUUUKKK, RRGGHHHHHHH"

Saya tersentak lalu mendadak melirik ke sumber suara gonggongan. 

Dan benar saja, di sisi kiri saya, tepatnya halaman rumah Bu Irma sudah ada Selly yang mendorong-dorong pagar kayu menggunakan kaki depannya.

Saya masih terus berjalan santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi makin lama, suara gonggongan Selly makin nafsu. Dia seperti tidak sabar ingin menyerang saya. Dia berlarian ke kiri dan ke kanan, mendorong-dorong pagar kayu seperti sedang mencari celah. 

Lalu tibalah saat-saat celaka itu tiba. Pintu pagar kayu yang di dorong Selly ternyata tidak terkunci rapat. Saya berjalan santai, kepala saya tegak menghadap ke depan sedangkan mata hitam saya melirik ke kiri. 

Saya melihat pintu pagar kayu itu tiba-tiba terbuka perlahan, mengeluarkan Selly dengan indahnya.

Selly berlari ke arah saya dengan lidah terjulur. Sejenak saya sempat berpikir untuk tetap berjalan santai. Konon katanya, Anjing tidak akan mengejar saat kita tidak berlari. Sementara saya berpikir menimbang-nimbang mau lari atau tidak, Sally semakin mendekat ke arah saya. Otak saya mulai berpikir dengan cepat. 

Lari, tidak, lari, tidak, lari, tidak.

Melihat jarak saya dengan Sally tinggal menunggu lompatan dan terkaman dari dia.

Tanpa pikir panjang lagi, saya berlari secepat mungkin. Selly mulai mengejar saya. Saya berlari sekuat tenaga. Sendal Hommyped saya tanggal. Saya tidak peduli. Saya berlari sambil bertelanjang kaki sampai ke ujung jalan. 

"ANJEEENNNNGGGGGGG!!!!!"

Beberapa meter setelah berlari. Saya menoleh kebelakang. Selly ternyata sudah berhenti mengejar. Di sana saya melihat Bu Irma keluar rumah untuk menyuruh Selly masuk kembali ke rumah. Siang itu adalah pertama kali saya di kejar anjing. 


-R-

"Nak, tolong belikan bapak baterai ABC di belakang yang seperti ini"

Bapak menunjukkan contoh ukuran baterai hape di tangannya.

"Tapi pa, di belakang ada anjing" saya teringat hari itu. Hari di mana Sally hampir menerkam saya dan membuat saya hampir berakhir di rumah sakit disuntik rabies.

"Ah, tidak papa. Sini bapak ajar" Bapak menyuruh saya mendekat ke arahnya, dia lalu memegang pundak saya dan melanjutkan ucapannya "Kalo kamu ketemu Anjing, kepal jari jempolmu dan tetap tenang, jangan lari"

Dia memberikan instruksi tersebut sambil mencontohkan kepalan tangannya.

"Coba kamu kasih begini tangan kamu" saya mengikuti instruksinya. Saya memasukkan jempol ke dalam kepalan tangan seperti ingin meninju seseorang, dengan jari jempor tersembunyi. "Nah, bagus. Dua-duanya. Kalo kmu lewat rumah Bu Irma, langsung kepal tangan kamu, Oke?"

"Oke!"

-R-

Perasaan saya sudah mulai agak berani dari hari kemarin. Saya berjalan penuh percaya diri, seperti seorang prajurit yang baru saja diberi sebuah tugas kehormatan oleh rajanya.

Sampai saya mulai mendekat di depan rumah Bu Irma, saya melihat pintu pagar kayunya terbuka lebar. Sepertinya lupa ditutup. Saya tetap tidak takut dan tidak gentar.

Saya mengikuti instruksi bapak barusan; Mengepal tangan dengan jempol tersembunyi. Setelah itu saya lanjut berjalan memamerkan kepalan tangan itu di depan Selly yang sudah mulai menggonggong.

Saya melirik ke samping, sambil tetap terus berjalan santai dengan kepalan tangan penangkal anjing pemberian bapak. Di samping, saya melihat kepala Sally muncul berjalan keluar dari pagar. Sepertinya dia berlari ke arah saya.

Saya tetap mengepal tangan dengan erat. Dalam hati, saya berusaha menenangkan diri; Tenang, jangan lari, tenang, jangan lari. Kamu pasti bisa melewati semua ini Rey.

Kepalan tangan saya semakin erat seiring dengan mendekatnya Sally ke arah saya. Dia menghadang saya. Jarak saya dan Sally tinggal sepanjang ukuran sapu ijuk. Saya sudah tidak sempat berlari. Kalopun saya berlari, pasti dia bisa melompat menerkam kaki saya lebih dulu. 

Saya hanya memperhatikan dia dengan tangan terkepal. 

"Arrgghhhhhhh. Gukk, gukkk" Saya melihat giginya yang bergerigi dengan liur yang menetes siap menerkam. Kaki saya gemetaran. Sepertinya kepalan ini tidak berguna. Tamat sudah riwayat saya.

Dia mendekat pelan, selangkah demi selangkah. Saat itu saya sudah mau ngompol. Saya reflek mengucapkan kalimat syahadat, jaga-jaga kalo saya mati digigit anjing. Tangan saya masih tetap mengepal, walaupun itu tidak berguna.

Saat Selly melekukkan kakinya bersiap untuk melompat menerkam, saya mendengar seseorang berteriak menggertak di samping saya. 

"Husssshhh, husshhhhh" dia memungut batu di tanah, seolah-olah ingin melempar Sally dengan batu. Saat saya menoleh, saya baru tahu kalo dia adalah Ibu saya.

Sally reflek mundur lalu berbalik arah berlari memasuki rumah Ibu Irma. Sedangkan saya mulai merasa kaki saya basah oleh sesuatu.

Saya ngompol di celana dengan tangan yang masih terkepal dan kaki yang lemas.




You May Also Like

3 comments

  1. Jadi anjingnya ada dua? Selly dan Sally?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kritis sekali ya pak Firman ini. Saya butuh lebih banyak pembaca seperti bapak.

      Delete
  2. Cewenya ajak lari juga atuh mas, jangan ditinggalin gitu aja klo ada anjing :D

    ReplyDelete

Singgah ki' :)