Sepenggal kisah di Ujung Tanah
Hari ini kembali diwarkop yang sama, kegantengan yang sama dan kejombloan yang sama, kembali menulis dan update di blog ini. Kali ini saya akan merajut kembali pengalaman sewaktu melakukan observasi di suatu kelurahan dalam salah satu tahap di UKM Seni UMI.. Untuk selebihnya silahkan dibaca tragedi dibawah ini. Hehe. Cekidot!
***
Sore itu
adalah kesekian kalinya kami berkunjung ketempat tersebut. Nama tempatnya
adalah Ujung Tanah, salah satu Kelurahan yang berada di sekitar pesisir
pelabuhan Makassar. Disana aku melakukan sebuah proses, melihat dunia luar, dan
menyadari sebuah cerita lain yang tak disadari orang-orang hedonis. Untuk
melakukan penelitian observasi dalam rangka menjalani salah satu tahap menjadi
anggota penuh UKM Seni UMI secara perkelompok atau pertim.
Awalnya aku
berfikir kegiatan ini dikemudian hari mungkin akan beresiko, entah orang-orang
seperti apa yang akan kami hadapi, mengingat Kelurahan ini berada disamping Jl.
Nusantara yang tak asing lagi aku dengar. tetapi hari demi hari berlalu, kami
seakan larut dalam suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh warga disana,
mereka begitu ramah dan welcome
terhadap tamu-tamu dari luar. Tujuan kami disini hanya satu, memperbaiki
masalah yang ada ditempat tersebut dengan media kesenian, maka dari itu kami
selalu membuat suasana yang ceria dan penuh dengan persaudaraan untuk membantu
masyarakat disana ataupun meringankan pekerjaan mereka semampu kami.
Aku kemudian
berjalan menemui Arma partner sejalan yang telah ditentukan di rapat kemarin
dan kami pun berjalan menuju taman milik pabrik tepung yang ada di Kel. Ujung
Tanah, lokasi yang dipilih untuk kemudian kami pantau bagaimana keadaannya.
Sesampainya disana kami melihat beberapa orang sedang berkumpul dan duduk
dibawah pohon sambil melingkar, mereka tertawa satu sama lain. Sepertinya
mereka adalah pekerja pabrik.
Kemudian
kami berinisiatif untuk mewawancarai mereka, kami pun melangkah mendekati
tempat mereka, mereka secara tiba-tiba kaget dengan kedatangan kami. Awalnya
saya meminta izin untuk bergabung bersama mereka untuk sekedar mewawancarai
terkait pabrik tersebut dengan taman ini, kemudian kami memperkenalkan diri,
setelah itu kami dipersilahkan duduk. Aku yang mewawancarai mereka sedangkan
Arma yang mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan merekamnya. Selama hidup
aku tidak pernah melakukan kegiatan jurnalistik wawancara atau semacamnya.
Tanganku dingin dan aku agak gugup dalam mewawancarai mereka.
Pertanyaan
pertama dengan sangat hat-hati dan jelas aku lontarkan, mereka menatapku dengan
aneh kemudian mereka saling bertatapan. Sepertinya mereka agak kebingungan
dengan pertanyaan ku. Aku ulangi dengan bahasa yang agak baku, ditambah gerakan
visual yang jelas dan keras dari tadi, mereka tetap tidak menjawab. Aku
menggaruk kepala mulai kebingungan, entah apalagi yang harus kuperbuat.
Sejenak kami diam saling menatap. Salah satu
dari mereka menjawab kepadaku “Mas, coba tanya saja sama dia” menunjuk pekerja
yang tertawa sambil sandar dipohon “Kami
orang jawa mas, tidak mengerti bahasa Makassar” aku dan Arma tertawa mendengar
hal tersebut. Aku menghela nafas, akhirnya ada jawaban atas semua ini. “Dari
tadi, mereka tidak mengerti apa yang kalian katakan” kata pekerja yang sandar
tersebut. Ternyata dari tadi dia hanya menertawakan kami saat bertanya pada
sekelompok pekerja yang berasal dari jawa tersebut. Akhirnya kami mewawancarai
pekerja yang berasal dari Makassar ini. Kemudian kami catat hal pentingnya
untuk dibahas di evaluasi nanti.
Senja hari
itu semakin larut, burung-burung mulai beterbangan diatas taman tempat kami
berpijak dan pabrik masih tetap berbunyi. Bunyi berdenging mesin untuk
menghasilkan tepung. Esok atau lusa, masih banyak penggalan cerita yang akan
ditawarkan di Ujung Tanah ini, sayang untuk tidak ditulis, sayang untuk tidak
diingat dan sayang untuk dilewatkan.





0 comments
Singgah ki' :)