BERKHIANAT DI KERJA PRAKTEK PERENCANAAN
“Setiap kelompok berisi tiga orang. Terakhir penunjukan SPK (Surat Perintah Kerja) dua minggu, mulai hari ini.”
Begitulah pengantar yang diberikan Ibu Suba sebelum
kami mulai mencari tempat Kerja Praktek. Nama lengkap Ibu Suba adalah Ibu
Subaidah.
KP atau Kerja Praktek Perencanaan adalah magang yang berfungsi untuk
menambah pengalaman kerja mahasiswa arsitek dengan terjun langsung di kantor
konsultan perencanaan arsitektur. Mulainya semester
6.
Semua mahasiswa mulai sibuk mencari kelompok yang
bermutu demi menyelamatkan dirinya masing-masing. Dalam proses mencari kelompok
seperti ini, mahasiswa pintar dan rajin biasanya cepat laku, sedangkan
mahasiswa yang terkenal malas dan kurang pintar biasanya harap-harap cemas mencari
kelompok secepat mungkin. Dan yang paling parah adalah mahasiswa goblok yang tidak tahu diri. Biasanya kalo
momen rebut-rebutan teman kelompok seperti ini mereka cuman diam dan sok jual
mahal, nunggu dipanggilin atau menunggu di kasihani.
Saya dengan sigap, mulai mencari-cari teman yang diperkirakan
belum punya kelompok namun cerdas nan rajin, supaya bisa saling melengkapi.
Tanpa merendahkan kualitas diri dan tetap jual mahal, mata saya langsung
mencari Ulla. Orang yang termasuk pintar dan rajin di angkatan.
“Ehm, bro, kau sudah punya kelompok kah?”
“Iya rey, sudah ada, saya satu kelompok sama Aziz
dan Aris”
“Oh, sudah cukup 3 berarti”
“Coba tanya Agus, dia belum punya teman kelompok
kayaknya”
Ulla benar-benar tidak tau bagaimana si Agus. Satu
kelompok dengan dia sama saja dengan bunuh diri. Dia memang ramah dan
bersahabat, kalo sampai di kampus dia selalu menyapa “Selamat pagi” pada
teman-teman. Walaupun hari sudah sore.
Ditambah saya yang cepat terpengaruh dengan
pergaulan. Kalo kita satu kelompok, mungkin yang datang ke kantor cuman harapan yang menunggu kepastian.
Selesai kuliah saya langsung berjalan menuju jurusan
sambil meneriman kenyataan bahwa semua teman sudah punya kelompok. Bahkan si
Agus katanya juga sudah punya.
Tunggu dulu. Kelompok dermawan mana yang mau
menerima si Agus?.
Sambil berjalan menuruni tangga, saya bertanya ke
group angkatan. Barangkali masih ada teman yang belum dapat kelompok. Tiba-tiba
pesan masuk. Dari Tiwi.
Tiwi : Kita satu kelompok saja.
Rey : Satunya siapa lagi?
Tiwi : Satunya Masrurah. Cukup kan bertiga?
Rey : Oiya, kalo begitu saya masuk dikelompokmu.
Satu kelompok dengan Tiwi dan Masrurah bukanlah ide
yang buruk. Walaupun cuman saya yang cowok. Tapi setidaknya mereka berdua
termasuk teman yang rajin.
Seminggu berlalu, berbekal google maps dan link dari
senior, saya sudah hampir mendatangi lima kantor yang ada di list. Diantaranya
adalah ;
1. PT.
Terserah Kamu
Saya dapat kontak kantor ini dari
salah satu senior. Kantor ini adalah prioritas utama. Karna katanya, bos yang
ada diperusahaan ini baik sekali, karna walaupun tidak pernah masuk kantor,
bosnya tetap kasih nilai A buat mahasiswa yang magang disana. Sungguh kantor
idaman orang seperti Agus.
2. PT.
Konsultan Geografis
Ini salah masuk kantor…
3. PT.
Punya Teman Om
Saya dapat kantor ini dari Om yang
kebetulan punya banyak teman konsultan perumahan. Katanya proyeknya banyak.
Perumahan. Anggarannya besar-besar semua. Tapi sampai sekarang belum ada kabar.
Kayaknya proyeknya perumahan wallet.
4. PT.
Jangan Main-Main
Kantor ini pernah ditempati juga
sama senior. Saya dapat alamatnya juga langsung dari senior. Waktu itu saya
datang sendiri. Pas habis ketuk-ketuk pintu, tiba-tiba om-om keluar dari garasi
mobil sambil menelpon.
“Iya, kenapa?”
“Saya mau tanya om, di sini PT.
Jangan Main-Main ya?”
Tangan om itu langsung
menggeleng-geleng. Memberi isyarat ‘bukan’.
“Oiya, makasih om”
Tangan om itu masih
menggeleng-menggeleng. Saya baru mengerti waktu dia menunjuk handphone di
telinga kanannya dan bilang :
“Sorry, bukan kamu. Ini lagi
nelpon”
Masih sambil menelpon, si om
langsung menyuruh saya masuk lewat garasi kantor itu.
Melewati koridor, saya
sampai di kantor tempat kerjanya. Di ruangan kantor itu, semua orang pada
sibuk, ada yang mendesain lewat komputer, sketsa gambar, menghitung RAB dan ada
yang diskusi gambar. Sedangkan saya memperhatikan semuanya dari luar kantor
sambil gemetaran. Ini saya belum memperkenalkan diri dan menjelaskan niat
datang kesini, tiba-tiba langsung di suruh masuk.
“Kamu duduk di sini dulu, nanti
saya panggilkan Pak Taufik”
Bermodalkan tekad dan rasa tidak
punya malu yang tinggi, beberapa menit kemudian saya langsung disuruh bicara
sama pemilik biro konsultan tersebut.
“Jadi, kamu anak yang mau magang di
sini?” Saya heran, tiba-tiba Pak Taufik langsung tau maksud kedatangn saya ke
sini, walaupun belum pernah saya kasih tau.
Belakangan, saya baru tau, ternyata
anak magang yang di maksud Pak Taufik itu adalah Kak Adi dan Kak Johan, dua
senior yang kebetulan mau magang di sana juga. Mereka yang lebih dulu
menghubungi Pak Taufik secara langsung buat datang ke sana, minta izin. Tapi
secara kebetulan yang datang secara membabi buta malah saya.
FYI, mata kuliah Kerja Praktek
Perencanaan ini membatasi mahasiswanya magang minimal satu kelompok di satu
biro konsultan. Lebih dari satu kelompok di satu biro konsultan tidak di
perbolehkan. Bisa di simpulkan salah satu kelompok kami, yaitu kelompok saya
dan kelompok Kak Johan harus mengalah salah satunya untuk bisa magang di tempat
Pak Taufik. Pilihan ke duanya jika tidak ada yang mau mengalah adalah perang
skill siapa yang lebih layak. Setelah dilihat-lihat ke dua teman kelompok saya
(Tiwi dan Masrurah) ternyata tidak terlalu memiliki skill mumpuni, begitupun
saya. Maka saya memilih opsi ketiga ; Bikin perusahaan sendiri.
Akhirnya kami memutuskan untuk
tetap bertahan di tempat Pak Taufik, menunggu kelompok Kak Johan mengalah.
Seminggu setelahnya saya mencium bau-bau keguguran dari kelompok kami. Masrurah
di duga tidak memenuhi syarat untuk mengikuti Kerja Praktek Perencanaan ini,
beberapa nilainya di vonis masih ada yang bermasalah. Sekarang tinggal ada saya
dan Tiwi. Melihat kemampuan kami yang tidak seberapa dan dibayang-bayangi oleh
pertanyaan Pak Taufik waktu itu
“Kamu bisa pake Sketchup sama
AutoCad kan?
Dan dengan sombongnya saya berkata
“Iya, bisa pak”
“Hitung anggaran bangunan bisa?”
Dengan sombongnya lagi saya berkata
“Bisa, bisa pak. Di kampus sering belajar itu, hehe”
Kenyataannya nilai mata kuliah
Manajemen Proyek ku waktu itu dapat nilai E.
Maka dengan itu, demi kemaslahatan
kelompok. Saya sebagai ketua kelompok memutuskan dengan berat hati untuk membubarkan
kelompok ini secara sepihak. Kemudian berkhianat ke kelompok Kak Johan. Ehehe.
Iya, saya masuk ke kelompok Kak
Johan yang kurang satu orang. Disitu saya merasa egois karna mememilih
keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan Tiwi. Terkadang kita memang harus
memilih keputusan yang pahit karna cuman itu keputusan yang paling logis. Saya selalu
berusaha berpikir logis dalam setiap mengambil keputusan. Seperti keadaan yang
mengancam karir mahasiswa saya ini.
Hari-hari selama di kantor saya
mengenal beberapa orang baru. Selain Pak Taufik, saya juga mengenal Kak Yudi
dan Kak Fathur. Mereka berdua yang membimbing kami selama di sana. Selain itu
ada juga Mba Yuni yang tidak lain adalah istri Pak Taufik, katanya asli orang
Jogja. Ada juga Opa, saya tidak tau nama aslinya, yang jelas selama saya di
sana, orang-orang hanya memanggilnya Opa. Umurnya sekitar 60-70-an. Selama di
sana saya paling suka mendengar cerita-cerita Opa sewaktu masih muda. Dia dapat
beasiswa S2 di Jerman, pernah bekerja di perusahaan Oil and Gas. Saya banyak dapat inspirasi dari Opa. Di umur yang
begitu tua, dia masih tetap bekerja dan tidak mau menyusahkan orang lain,
terutama anak dan cucunya.
Dan yang paling saya ingat adalah
si Ade, anaknya Pak Taufik. Kalo tidak salah dia anak pertama dari dua
bersaudara. Si Ade ini masih SMP. Badannya gendut. Saya perkirakan beratnya 60-70
Kg. Rambutnya keriting tidak terlalu panjang. Di minggu-minggu pertama saya
masuk kantor, si Ade ini tanpa sungkan langsung menjabat tangan kami satu
persatu dan bilang :
“Perkenalkan, saya Ade. Saya
manajer di sini” dengan mulut berminyak sambil mengunyah pisang goreng.
Waktu itu saya langsung percaya dan
langsung tunduk dan hormat sama Pak Ade ini sebelum satu hari di kantor saya
menemui dirinya berseragam pake dasi dan celana panjang biru tua sambil main
game dengan telinga tertutupi headset. Ternyata masih SMP!
Tahu si Ade ternyata masih SMP, saya
tidak bisa langsung menaboknya begitu saja. Beliau masih saya hormati karna si
Ade ini tetap anaknnya Pak Taufik. Bos kita semua. Hingga di minggu terakhir
magang, saya di permalukan olehnya.
Sore itu beberapa hari sebelumnya
saya tidak masuk kantor karna ada beberapa kesibukan di kampus. Setelah
menghilang beberapa hari di kantor, saya mulai merasa canggung untuk datang ke
sana lagi. Apalagi Kak Johan bilang saya di cari sama Pak Taufik beberapa hari
terakhir. Hari itu saya memberanikan diri untuk datang ke kantor. Awalnya
orang-orang kantor biasa-biasa saja dan tidak ada yang bertanya “Kemarin kamu
kemana?” atau “Kok baru muncul?” bahkan Pak Taufik juga tidak bertanya apa-apa.
Hingga sore hari, dua jam sebelum
pulang saya duduk di depan komputer sambil mengerjakan gambar yang ditugaskan.
Tiba-tiba si Ade datang
“Wah, wah, wah. Ini nih” tangan
panjang dan berlemaknya langsung nunjuk ke saya.
Saya berusaha dan pura-pura sibuk
melihat computer.
“He! He! Pura-pura tidak liat lagi.
Siapa lagi namanya ini?”
Sadar, daripada dia tambah ribut
dan jadi perhatian orang satu ruangan saya langsung nengok ke dia
“Iya?”
“Kamu, kenapa baru datang?
Kemarin-kemarin menghilang tidak ada kabar”
“Hahaha” Berusaha menahan malu.
“Ini, kemarin sibuk asistensi tugas
di kampus, hehe”
“AH! Banyak alasan juga, sekalian
saja besok-besok tidak usah datang (berhenti).”
“Hehehe” waktu itu tidak tau mau
ngomong apa lagi selain ngetawain diri sendiri, orang-orang satu ruangan
langsung melirik ke saya. Saya malu setengah mati. Harga diri saya langsung
rontok saat itu juga. Pulpen jatuh dibawah meja, saya pura-pura tunduk
berlama-lama buat mengambilnya sambil menghilangkan efek ‘malu’ yang mendera. Kalo bisa sih nunduk aja terus, gak usah bangun-bangun.
Walaupun punya manajer yang ceplas
ceplos seperti si Ade. Pada akhirnya kantor ini tetaplah kantor pertama dan
terbaik yang pernah saya tempati. Dari semua kelompok mahasiswa yang Kerja
Praktek, cuman kantor ini yang memberikan ‘uang saku’ perminggu buat mahasiswa
magangnya.
Saya sangat berterima kasih kepada
Pak Taufik karna sudah menghargai hasil kerja kami di sana. Tidak sekedar
memanfaatkan tenaga anak magang untuk menyelesaikan semua pekerjaannya tanpa
memberi pelajaran sesuai latar belakang pendidikannya (disuruh bikin kopi
misalnya). Tidak banyak orang-orang seperti Pak Taufik ini diluar sana yang mau
menghargai dan memahami arti sebuah desain. Kebanyakan orang-orang masih
memandang sebelah mata dan menganggap desain itu adalah pekerjaan yang mudah.
Mereka hanya belum paham bagaimana
rasanya mengkhianati teman kelompok sendiri dan dipermalukan anak SMP. T_T
-----
-----
Sumber GIF : https://giphy.com/






8 comments
Bagaimana mi kodong nasibnya masrurohh 😂
ReplyDeleteAllhamdulillah, lolos ji tawwa.
DeleteSaya kayaknya mulai mengerti mengapa harus mengkhianati teman dalam urusan seperti ini. Kalau tetap bertahan sama temenmu yang cewek kira-kira akan semakin menunda urusan magangnya, terus nilai temenmu bisa jadi penghalang lagi ketika mau diterima di kantor lainnya. Haha. Tapi hubunganmu sama mereka jadi berjarak nggak gara-gara ini, Rey?
ReplyDeleteAlhamdulillah dapat uang saku. Saya dulu pas magang 2 bulan nggak dikasih apa-apa sama pihak kantornya, kecuali di hari terakhir diajak makan-makan. Tapi intinya tetep mengeluarkan banyak uang, daripada pemasukan yang nggak dapat itu. Mana nilainya B, kagak A. -___-
Allhamdulillah dia orangnya gak ngambekan Yog. Sampai sekarang hubungan gw sama dia masih baik-baik saja. Kebetulan dia juga lulus mata kuliah magang ini, dengan kelompok yang berbeda. Gak tau kalo dia gak lulus. Mungkin yg disalahkan gw ya, whahaha.
DeleteKalo dari kantor gw, jstru yang kasih nilai kita sendiri. Trserah mau kasih nilai berapa, kata mereka, yang penting masih bisa dipertanggung jawabkan pas persentase. Ya, gw kasih A smua dong. Hahahaha. Dan allhmdulillah pas persentase gak ada hmbatan apapun.
Dapat kantor buat magang emang untung-untungan ya yog. Syukur kalo orang2 kantornya baik2 dan ramah2 sama anak2 magang.
Gue mangap-mangap waktu baca peralatan yang dipake. Gila. Dari namanya aja udah gokil. Pasti cara pakenya juga gokil ya. Hahahaha
ReplyDeleteBy the way gue setuju sama prinsipnya. Kadang emang harus gitu. Akan ada masanya di mana kita dipaksa pilih-pilih rekan. Soalnya kalau tetap sama yang gitu bakal susah berkembang. Bisa, tapi sedikit menghambat.
Tumben tulisannya jadi agak serius gini. Diksi-diksi puitisnya ke mana? :p
Itu nama aplikasi desain yg sering dipakai buat ngedesain bangunan yog. Kalo yang autoCad biasanya dipakai kalo mau gambar 2D (gambar kerja/blue print) kalo yg sketchup biasanya buat gmbar 3D.
DeleteIya, gip. Wlaupun bgitu bukan berarti harus lepas tanggung jawab. Hrus tetep mikirin/ bantu temen yg ditinggalin itu.
Bwahah. Emang aslinya tulisan saya gini gip. Kalo di twitter seringnya lbih puitis sih.
Hahaha ketawa2 geli baca pengalamannya
ReplyDeletehidup memang berat anak muda! sesekali memang harus "berhianat" demi kehidupan yang lebih bagus di masa depan.
anyway, saran saja supaya tulisanmu makin keren.
perbaiki penempatan kata depan, utamanya kata "di"
ada "di" yang harusnya dipisah tapi di tulisan ini masih disambung, seperti: dibawah, harusnya di bawah.
sebaliknya, ada juga "di" yang harusnya disambung, tapi di tulisan ini masih dipisah, seperti: di duga, yang seharusnya "diduga".
penempatan kata sambung ini penting sekali, karena menunjukkan kapabilitas penulisnya.
selamat belajar dan jangan pernah bosan belajar!
Whoaaaa. Blog ku di komen blogger kondangnya Makassar, whahaha. Sbuah pencapaian yg perlu dicatat. Trima kasih sudah berkunjung daeng Ipul.
DeleteUntuk beberapa kata masih sulit membedakan sih, mana yg 'di' nya dipisah dan mana yang disambung. Tapi saya usahakan untuk terus memperbaiki dan belajar penulisan PEBI yg baik dan benar dg. Terima kasih atas koreksi nya.
Singgah ki' :)