after a difficult year
Gatau kenapa dari kemarin pengen banget nulis lagi di blog ini. Rasanya kayak pengen ke suatu tempat yg cuman ada diri saya sendiri di sana.
Blog ini adalah salah satunya. Tempat saya bertumbuh dan menceritakan banyak hal dengan bebas.
Sebelumnya salam dari Binjai selamat tahun baru 2022.
Banyak hal yg terjadi selama 2021. 2021 adalah tahun terberat yg pernah saya jalani selama saya hidup. Saya kira hal-hal buruk akan berhenti sampai tahun 2020. Nyatanya yg terburuk masih berlanjut di tahun 2021.
Saya tidak pernah menceritakan ini sebelumnya dimanapun. Tapi setelah melewati masa-masa sulit itu, saya akhirnya memberanikan diri untuk bercerita di sini.
Siapapun yang membaca cerita ini, baik orang lain atau diri saya sendiri beberapa tahun yang akan datang, saya cuman ingin kamu tahu bahwa tulisan ini akan menjadi tulisan yg paling emosional yg pernah saya tulis di blog ini.
Semuanya terjadi begitu cepat. Masa-masa sebelum wisuda S1 adalah masa-masa indah terakhir saya, sebelum permasalahan hidup yg sesungguhnya datang satu persatu.
Bulan Desember, saya akhirnya wisuda dan resmi menyandang gelar ST di belakang nama. Saya berjalan keluar gedung dengan beban berat yg tidak terlihat di pundak. Hidup saya tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Ada sebuah bisikan kecil yg membuat saya percaya bahwa kedepan, hidup akan berubah jauh dari sebelumnya.
Akhir bulan Januari, firasat saya benar terjadi. Setelah scan sinar X-ray di ruang dokter syaraf, bapak saya di vonis memiliki tumor di otaknya. Dokter tidak tahu, itu tumor jinak atau ganas. Dokter kasih saran buat operasi. Tapi bapak tidak mau. Kebanyakan kasus operasi otak, jarang sekali yg berhasil. Taruhannya adalah nyawa. Untuk tetap bertahan hidup, bapak cuman minum obat pereda kejang tiap hari. Iya, salah satu efek benjolan yg ada di kepala itu adalah karna tekanan tumor di kepalanya.
Saya masih ingat Ibu menangis di kamar waktu itu. Dia cerita ke dua adik saya, kalo bapak di vonis kena tumor. Pikiran saya kacau. Untuk bicara saja saya tidak sanggup dan bingung harus melakukan apa.
Beberapa bulan berlalu, kami kembali menyibukkan diri masing2. Ibu sibuk kerja, saya sibuk cari lowongan kerja, adik2 sibuk sekolah. Kami berusaha menenangkan diri bahwa Bapak akan baik-baik saja, walaupun di beberapa momen saya tahu hal-hal baik tidak akan terjadi jika dibiarkan begini saja.
Bulan Februari, pandemi virus Corona di Wuhan lahir. Bulan Maret, kasus pertama di Indonesia mulai masuk. Pemerintah melarang masyarakat keluar rumah. PSBB, PPKM, Dll. Banyak usaha gulung tikar, aktifitas diluar rumah ditiadakan, ekonomi lumpuh, banyak karyawan dipecat. Rencana saya untuk cari kerja makin sulit. Satu-satunya yg bisa dilakukan hanya bertahan hidup di rumah.
Bulan demi bulan dihabiskan di rumah. Orang tua stress melihat saya nganggur. Stress melihat adik-adik saya cuman main ponsel. Dan saya stress memikirkan apa yg harus saya lakukan biar orang tua saya tidak stress.
Bapak masih rutin minum obat. Badannya makin kurus. Emosinya makin tidak stabil. Obat yg dikonsumsi hanya menenangkan, tapi tidak menyembuhkan.
Bulan November, Ibu tiba-tiba mengeluh nyeri di perut. Mungkin cuman penyakit maag/ asam lambung, pikir saya waktu itu. Ibu selama ini tidak pernah sakit. Mulai dari saya kecil, saya tidak pernah melihat ibu saya sakit karna penyakit. Saya juga seumur hidup tidak pernah merawatnya. Baru kali ini dia mengeluh sampai menjerit kesakitan di perut.
Sudah coba berbagai macam obat, tapi tidak kunjung sembuh. Sudah keliling konsultasi dari satu dokter, ke dokter lain dan mereka kompak, sama2 tidak tahu penyakit Ibu sebenarnya apa. Sudah coba berbagai macam obat tradisional, tapi tdak ada perubahan.
Dibagian bawah kiri perut Ibu, jika ditekan seperti ada daging yg keras didalamnya. Dugaan salah satu dokter; itu Kista atau Benjolan nanah di lambung (abses). Solusinya: Operasi Biopsi dengan tujuan untuk mengangkat sel dan meneliti jenis benjolan.
Operasi adalah tindakan yg mengerikan bagi sebagian orang. Termasuk Ibu saya. Berminggu-minggu dilewati dengan menahan sakit dan masih terus konsultasi di berbagai macam dokter dengan keahlian berbeda-beda. Mulai dari dokter umum, pencernaan, penyakit dalam, dll. Tapi mereka semua tetap menganjurkan untuk operasi.
Bulan Februari, 2021. Ibu akhirnya memutuskan untuk operasi di Makassar. Langkah dan solusi akhir yg saya harap akan memberi dampak kesembuhan yg signifikan. Dokter hanya perlu mengangkat benjolan nanah atau kista itu keluar dari perut, lalu bimsalabim Ibu saya akhirnya sembuh.
Operasi berlangsung 7 jam. Semua keluarga menunggu dari luar ruang operasi dengan ekspektasi yang sama; Dokter hanya perlu mengangkat benjolan, lalu Ibu saya sembuh.
Operasi selesai jam 3 sore. Setelah operasi, Ibu saya dibawa ke ruang ICU. Saya orang pertama yg masuk ke ruangan itu dan untuk pertama kali seumur hidup saya melihat Ibu saya menjerit seperti menahan rasa sakit yg tidak tertahankan. Saya melihat dia memakai alat bantu pernafasan dengan alis mengerut menahan sakit bekas operasi. Kaki saya bergetar, mata saya panas tidak bisa menahan air mata.
Saya memegang pundaknya lalu mencium dahinya. Dia perlahan membuka mata, lalu menatap saya.
"Sudah diangkat, kista-nya nak?"
"Iyaa Ma, sudah. Mama sudah sembuh"
Ibu saya dirawat di ruang ICU selama sehari. Besok sorenya, dia sudah bisa dibawa ke kamar rawat inap. Semua orang lega, operasinya berjalan lancar. Tapi ternyata, kabar buruk tidak berhenti sampai situ.
Setelah pindah ke kamar rawat inap, seorang dokter tiba-tiba masuk ke kamar membawa kabar yg tidak ingin saya dengar dan tidak ingin saya anggap ada selamanya.
Sang dokter berdiri di sana. disudutkan berbagai macam pertanyaan oleh om saya mengenai hasil operasi Ibu saya. Dokter itu akhirnya mengatakan fakta sebenarnya.
"Terdapat tumor ganas di pankreas Ibu"
Seisi ruangan mendadak hening. Ibu saya hanya bisa diam.
Dunia saya seketika berhenti saat itu juga. Dua minggu kemudian hasil patologi juga sudah menunjukkan kalo Ibu di vonis mengidap tumor ganas jenis Liposarcoma di Pankreas. Tingkat harapan hidup tumor jenis ini sangat sedikit. 90% kasus bahkan berujung kematian. Kalaupun bertahan, paling lama hanya setahun.
Entah kenapa saya berusaha untuk tidak percaya. Setiap hari saya mati-matian menolak realita yang ada. Ibu saya akan sembuh. Ibu saya pasti sembuh. Ibu saya pasti akan sembuh. Tidak ada kenyataan yang bisa saya terima selain percaya bahwa Ibu saya pasti sembuh.
Keluar dari rumah sakit. Ibu saya berjuang mencari pengobatan terbaik. Dari pengobatan tradisional, medis, maupun non-medis.
Dua bulan dihabiskan untuk melakukan segala macam cara demi kesembuhan Ibu saya.
Sayangnya, kondisinya makin memburuk. Satu-satunya solusi akhir yg ditawarkan oleh dokter adalah kemoterapi. Pengobatan melelahkan yg menghabiskan banyak energi. Bahkan sebenarnya tidak pantas disebut pengobatan, karna kemoterapi hanya memperpanjang usia. Bukan mengobati.
Hingga bulan Mei 2021, Ibu saya sudah memasuki 2 tahap kemo yang menghabiskan banyak waktu, tenaga, harapan, doa dan biaya.
Dan tepat tanggal 24 Mei, pukul 06.15 adalah hari perjuangan terakhir Ibu saya. Dia pergi tanpa pamit untuk selamanya.
Saya hancur.
Saya terpuruk.
Tidak ada lagi yang tersisa.
Dunia seakan kehilangan nyawanya.
Ibu saya pergi dan tidak akan kembali lagi.
Ibu saya pergi meninggalkan saya, Bapak dan dua adik laki-laki saya yg masih sekolah. Selain itu dia juga meninggalkan usaha dengan banyak pekerja.
Beberapa Minggu berlalu keadaan Bapak saya makin buruk. Emosinya makin tidak stabil dan tubuhnya makin kurus. Tiap hari Bapak masih harus mengkonsumsi obat syaraf.
Bulan November 2021, Bapak saya menikah lagi. Tepat 3 hari sebelum hari 100 meninggalnya Ibu saya.
Iya, saya tahu. Semuanya terjadi begitu cepat. Masalah hidup benar-benar datang bertubi-tubi. Beberapa yang saya tulis di sini hanya berupa potongan kecil. Masih banyak masalah yang tidak saya tulis dan saya simpan sendiri.
Di tahun 2021 tidak ada lagi yang tersisa selain duka.
Hari ini. Setelah semua yg berlalu. Saya akhirnya sampai pada tanggung jawab besar; Melanjutkan usaha orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga. Banyak rencana dan mimpi yg harus ditunda. Perkara cita-cita, sepertinya harus dikubur untuk sementara.
Setiap orang pasti akan melewati fase tersulit dalam hidup mereka. Kadarnya saja yg beda-beda.
Hidup ini seperti lari marathon. Ada yg berhasil sampai garis finish ada juga yang berhenti ditengah jalan. Dan saya memilih untuk terus berlari.
Tahun 2021 yang bisa saya lakukan hanya bertahan. Bertahan melewati banyak guncangan kehidupan. Jatuh, berdiri lagi. Jatuh, berdiri lagi. Masalah demi masalah datang silih berganti. Selama saya tidak berhenti, kejutan hidup masih layak untuk dinanti.
Di tahun 2022 saya tidak berharap terlalu banyak. Saya takut kecewa. Banyak hal yg terjadi secara tidak terduga. Barangkali masalah yg lebih berat menunggu di depan.
Mungkin suatu saat saya akan kembali membaca tulisan ini dengan keadaan yg jauh lebih baik.
Jadi..
Untuk diri saya beberapa tahun yg akan datang: Tahun 2020-2021 adalah tahun terberat buat kita. Tapi kita berhasil ngelewatin ini bareng2. Ingat ini, kamu hebat dan kamu kuat. Tidak ada yg bisa membuat kamu menyerah. U're unstopable.
Ketika beerapa tahun yg akan datang, kamu berhasil dan jauh lebih bahagia dari hari ini, jangan lupa berterima kasih untuk kita di tahun ini. Tanpa masa-masa sulit seperti ini, mungkin kita tidak akan sekuat sekarang.
Terima kasih sudah bertahan!


1 comments
hai kak saya menemukan blog ini ketika sedang browsing buku menarik dan nemu buku "Architecture 034" hingga sampailah saya kesini.
ReplyDeleterasanya kata semangat sudah bosan didengar tapi saya tetap berharap kakak terus semangat melewati satu demi satu tahapan dalam hidup. saya tunggu buku selanjutnya ya kak, kapanpun itu.
Singgah ki' :)