dan sangkarnya pun terbuka
baru saja saya membuat keputusan besar dalam hidup.
saya akhirnya berhenti melanjutkan usaha orang tua yang cukup mengekang dan memilih untuk berkarir di Makassar.
Rasanya?
Tidak ada satu perasaan yang menetap dalam hati saya. Semuanya campur aduk. Satu sisi saya sedih karena harus meninggalkan segala rutinitas saya selama mengelola usaha. Saya sedih harus meninggalkan pekerja dan orang-orang yang saya kenal selama lima tahun menjalankan usaha. Rutinitas saya mendadak berubah.
Saya juga takut. Takut memikirkan apa yang ada di depan saya. Jawaban dari hasil keputusan ini sebenarnya terletak di akhir cerita yang masih jadi misteri takdir. Kalau saya sukses (semoga dan saya pasti sukses) saya akan menganggap ini adalah keputusan terbaik seumur hidup saya. Tapi jika tidak, saya hanya takut menyesalinya. Satu hal yang perlu saya rayakan dari pilihan ini adalah saya berhasil melepaskan diri dari manipulasi dunia gelap si botak.
Selain itu saya juga merasakan kebebasan. Tidak lagi dikekang dan dituntut harus melaporkan segala laporan keuangan kepada si botak. Mimpi-mimpi yang dulu sempat saya kubur, sekarang pelan-pelan mulai terlihat kembali seperti matahari yang terbit di sela-sela bukit. Hasrat untuk berdiri diatas kaki sendiri itu kembali muncul lagi. Bahkan lebih besar seperti dendam yang harus saya buktikan. Bahwa saya bisa lebih besar dari apa yang si botak berikan. Dia mengira sedang memberikan saya perlindungan dan tempat yang aman. Padahal sebenarnya di sana saya merasa sedang berada dalam sangkar yang mengekang.
Hari ini saya keluar dari sangkar. Terbang bebas. Saya tidak tahu kemana hidup akan membawa saya. Satu hal yang pasti, saya akan terus berbuat baik dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada saya. Saya akan terus terbang.
Selama di sana cahaya masih terlihat, saya tidak peduli berapa kepak yang perlu saya ayunkan, saya akan menuju kesana.


0 comments
Singgah ki' :)