free
setiap ruang perbedaan pendapat selalu dianggap arena ring untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.
mungkin memang agak susah kalau objek pembahasannya adalah area sensitif yang menyangkut siapa yang diuntungkan.
tapi bukan berarti tidak bisa kan? kalau areanya masih abu-abu, kenapa kita tidak perjelas dengan diskusi dan negosiasi yang tenang tanpa melibatkan emosi?
bukannya menjalin hubungan itu tentang saling mengerti satu sama lain?
idealisme dan prinsip hidup hanya menjadi objek parafernalia yang menguntungkan diri sendiri.
kalau merugikan diri, pendiriannya sekonyong-konyong dilupakan.
kata hindia semua orang itu hipokrit.
barangkali ada benarnya juga. dibanding takut dosa, kita lebih takut berbeda dari orang-orang terdekat kita. solat hanya seminggu sekali, bukan karena taat. tapi hanya karena semua laki-laki yang dikenalnya hari itu solat jumatnya di masjid. ada ketakutan yang aneh ketika saya sendiri tidak ke masjid saya solat jumat. ketakutan seperti dianggap pendosa dan orang jahat. padahal tolak ukur kebaikan orang, saya kira bukan karena dia taat solat jumat.
sama halnya; memasak untuk orang rumah, bukan karena ingin berbakti pada suami. tapi karena semua teman yang menjadi istri memasak untuk suaminya.
apakah sebenar-benarnya bentuk kebenaran itu?
cuman karena ide itu dianut dan diamiini oleh keluarga dan orang-orang terdekat kita, apakah itu adalah sebuah kebenaran?
apakah halal hukumnya menghakimi orang yang tidak sepaham dengan kita?
yang paling meresahkan adalah penghakiman orang-orang. dibanding takut neraka, kebanyakan dari kita barangkali lebih takut menjadi musuh masyarakat.


0 comments
Singgah ki' :)