di persimpangan
entah sudah berapa kali saya menulis tentang si botak tua ini.
semua persoalan hidup terberat saya saat ini rasanya berasal dari si botak tua.
dia meludahi saya dengan semua mimpi-mimpinya yang gagal terwujud.
sebagai orang yang harusnya mengarahkan saya sampai di ujung perhentian yang benar, malah menjadi orang yang selalu menyesatkan saya di tengah-tengah persimpangan antara jalan menetap atau pergi.
kali ini ceritanya berbeda, yang saya pertaruhkan bukan cuman diri saya sendiri. tapi istri dan masa depan rumah tangga saya. dari dulu saya tidak pernah menjerit, berteriak kesakitan kalau tubuh saya dikoyak habis. hati saya diracun oleh mulut berbisa nya pun saya hanya diam seperti bangkai yang sudah hilang nyawa.
terkadang saya melihat masa depan yang cerah dan lebih baik daripada tinggal menetap dan perlahan membusuk mendengar kemauan-nya yang berbau bangkai tikus.
setengah hidup saya, saya korbankan untuk berpura-pura menganggapnya bapak yang hebat. nyatanya tidak satu kali kematiannya saya jadikan fatamorgana.
beberapa hari yang lalu saya sering diperlihatkan oleh orang-orang yang rumahnya penuh dengan tumpukan emas tapi punya hati yang membumi. lalu saya melihat si botak tua dengan tumpukan emas yang hanya segenggam tapi egonya sungguh setinggi langit.
jika meminta dia dihilangkan dari bumi ini adalah dosa, maka bolehkah saya meminta agar saya saja yang pergi?
saya benar-benar capek. capek yang membuat saya berpikir bahwa kematian lebih masuk akal daripada hidup bersinggunan dengan si botak tua.
jika suatu saat saya pergi, sungguh dalam hidup ini dia tidak punya ikatan lagi dengan saya selain nama belakang.
saya bersumpah dengan nama Allah, ketika suatu hari saya pergi, saya akan pulang membawa segunung emas untuk menguburnya hidup-hidup.


1 comments
hadapi sampai bosan sendiri dengan keinginannya
ReplyDeleteSinggah ki' :)