sepiring mi dan pertanyaan
malam pukul satu pagi, setelah menyantap nasi dan mi goreng.
malam ini saya kenyang akan dua hal. makanan dan drama rumah tangga.
barangkali sisa hidup saya kedepan akan banyak menghadapi bumbu-bumbu semacam ini. tapi entah kenapa kali ini rasanya membuat saya lebih kesal.
mungkin karena bertepatan dengan kondisi keuangan yang sulit. baru saja pekerjaan yang membuat saya berada di zona nyaman berakhir.
perenungan ini membuat saya kembali mengingat perenungan yang dulu-dulu. entah kenapa dari dulu saya suka merenungi hidup saya kedepan. ketika gagal lolos sekolah favorit, gagal tes masuk universitas dan kali ini karena jobless.
pada akhirnya saya kembali pada perenungan tentang bagaimana saya akan menjalani hidup kedepan dan masa depan yang kembali tidak pasti.
dibalik jendela mobil yang sedang melaju, ditengah rintik hujan dan malam yang sunyi. pikiran saya melambung seiring dengan hembusan nafas yang seringkali baru saya sadari dalam keadaan seperti ini.
jantung saya berdetak. pikiran saya bekerja tanpa perintah.
apa itu sukses dan gagal di mata orang-orang? dan kenapa pendapat akan kata sukses itu makin penting di kepala saya? ambisi yang besar saja rasa-rasanya tidak cukup.
setiap langkah rasanya menjadi lebih berhati-hati karena saya dipaksa membawa kehormatan keluarga di sana.
cemas.
kenapa kita harus bertanggung jawab terhadap hidup seseorang?
kenapa uang dan harga diri sekarang jadi jauh lebih penting?
schopenhouer mungkin benar, bahwa setiap pilihan masig-masing memiliki konsekuensi. memilih atau tidak memilih pasti akan selalu ada penyesalan dibaliknya.
tapi pertanyaannya adalah, apakah kadar penyesalannya sama?


0 comments
Singgah ki' :)