• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail

Hari ini kembali diwarkop yang sama, kegantengan yang sama dan kejombloan yang sama, kembali menulis dan update di blog ini. Kali ini saya akan merajut kembali pengalaman sewaktu melakukan observasi di suatu kelurahan dalam salah satu tahap di UKM Seni UMI.. Untuk selebihnya silahkan dibaca tragedi dibawah ini. Hehe. Cekidot!

***

Sore itu adalah kesekian kalinya kami berkunjung ketempat tersebut. Nama tempatnya adalah Ujung Tanah, salah satu Kelurahan yang berada di sekitar pesisir pelabuhan Makassar. Disana aku melakukan sebuah proses, melihat dunia luar, dan menyadari sebuah cerita lain yang tak disadari orang-orang hedonis. Untuk melakukan penelitian observasi dalam rangka menjalani salah satu tahap menjadi anggota penuh UKM Seni UMI secara perkelompok atau pertim.



Awalnya aku berfikir kegiatan ini dikemudian hari mungkin akan beresiko, entah orang-orang seperti apa yang akan kami hadapi, mengingat Kelurahan ini berada disamping Jl. Nusantara yang tak asing lagi aku dengar. tetapi hari demi hari berlalu, kami seakan larut dalam suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh warga disana, mereka begitu ramah dan welcome terhadap tamu-tamu dari luar. Tujuan kami disini hanya satu, memperbaiki masalah yang ada ditempat tersebut dengan media kesenian, maka dari itu kami selalu membuat suasana yang ceria dan penuh dengan persaudaraan untuk membantu masyarakat disana ataupun meringankan pekerjaan mereka semampu kami.



Aku kemudian berjalan menemui Arma partner sejalan yang telah ditentukan di rapat kemarin dan kami pun berjalan menuju taman milik pabrik tepung yang ada di Kel. Ujung Tanah, lokasi yang dipilih untuk kemudian kami pantau bagaimana keadaannya. Sesampainya disana kami melihat beberapa orang sedang berkumpul dan duduk dibawah pohon sambil melingkar, mereka tertawa satu sama lain. Sepertinya mereka adalah pekerja pabrik.

Kemudian kami berinisiatif untuk mewawancarai mereka, kami pun melangkah mendekati tempat mereka, mereka secara tiba-tiba kaget dengan kedatangan kami. Awalnya saya meminta izin untuk bergabung bersama mereka untuk sekedar mewawancarai terkait pabrik tersebut dengan taman ini, kemudian kami memperkenalkan diri, setelah itu kami dipersilahkan duduk. Aku yang mewawancarai mereka sedangkan Arma yang mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan merekamnya. Selama hidup aku tidak pernah melakukan kegiatan jurnalistik wawancara atau semacamnya. Tanganku dingin dan aku agak gugup dalam mewawancarai mereka.


Pertanyaan pertama dengan sangat hat-hati dan jelas aku lontarkan, mereka menatapku dengan aneh kemudian mereka saling bertatapan. Sepertinya mereka agak kebingungan dengan pertanyaan ku. Aku ulangi dengan bahasa yang agak baku, ditambah gerakan visual yang jelas dan keras dari tadi, mereka tetap tidak menjawab. Aku menggaruk kepala mulai kebingungan, entah apalagi yang harus kuperbuat.

 Sejenak kami diam saling menatap. Salah satu dari mereka menjawab kepadaku “Mas, coba tanya saja sama dia” menunjuk pekerja yang tertawa sambil sandar dipohon  “Kami orang jawa mas, tidak mengerti bahasa Makassar” aku dan Arma tertawa mendengar hal tersebut. Aku menghela nafas, akhirnya ada jawaban atas semua ini. “Dari tadi, mereka tidak mengerti apa yang kalian katakan” kata pekerja yang sandar tersebut. Ternyata dari tadi dia hanya menertawakan kami saat bertanya pada sekelompok pekerja yang berasal dari jawa tersebut. Akhirnya kami mewawancarai pekerja yang berasal dari Makassar ini. Kemudian kami catat hal pentingnya untuk dibahas di evaluasi nanti.
Senja hari itu semakin larut, burung-burung mulai beterbangan diatas taman tempat kami berpijak dan pabrik masih tetap berbunyi. Bunyi berdenging mesin untuk menghasilkan tepung. Esok atau lusa, masih banyak penggalan cerita yang akan ditawarkan di Ujung Tanah ini, sayang untuk tidak ditulis, sayang untuk tidak diingat dan sayang untuk dilewatkan.



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tak terasa satu tahun lebih saya bergelut di blog ini, walaupun sempat vakum beberapa bulan tetapi saya akan terus berusaha menulis dan menulis agar dapat memotivasi atau menghibur pembaca sekalian yang saya hormati (walaupun pembaca tidak jelas, Ada atau tidak).

Akhir-akhir ini saya berencana membuat cerita atau kisah saya sendiri. Based on true story. Tentang bagaimana cara saya mengeyam pendidikan mulai dari TK hingga sekarang ini.

Banyak hal-hal aneh yang saya rasakan sebagai siswa. Mulai dari kenakalan, kebodohan, cinta monyet, atau apapun itu bentuknya. Semua akan saya beri label "Mengejar ranking 1" 

Dan tulisannya akan saya upload setiap hari minggu. Ikutin terus yaa ;)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hari yang dinantikan telah tiba, yaitu penerimaan anggota penuh UKM Seni UMI. Sore hari jam tiga aku berangkat dari rumah kekampus setelah sebelumnya membuat surat yang telah rampung sejak tadi pagi dengan materai yang tertempel bernilai 6000. Aku berangkat dengan kuda mesin beroda dua menuju kampus, spesifiknya lagi ke sekretariat UKM Seni UMI untuk melakukan pendaftaran anggota penuh yang sudah di informasikan jauh-jauh hari melalui via sms yang aku terima.
Nampak dari jauh, suasana yang tak asing lagi tempat itu berada disamping belokan menuju auditorium Al-Jibra. Sebuah bangunan yang penuh dengan canda tawa. Tempat berkarya seluruh insan UPKSBS UMI.

Senja mulai menampakkan lekukan siluet hitamnya, cahayanya menembus sela daun pepohonan. Aku kemudian memberhentikan motor berangkat dan menuju sekretariat. Disana aku melihat teman yang lain. Dia Elis dan Arma. Mereka juga ingin melakukan pendfataran ulang sama sepertiku.
Kami pun bersama melangkah masuk di beranda secretariat. Mencari kak DK yang menangani proses pendftaran ulang. Cukup lama kami duduk menunggu sambil bercengkrama satu sama lain. Mengingat proses yang pernah kita alami sebelumnya. Tak lama kemudian dari kejauhan, tepat di depan Fakultas Fikom sudah tampak Kak DK baru dating entah darimana.
Arma kemudian berinisiatif untuk memanggilnya berbicara bahwa di secret ada beberapa teman yang ingin mendaftar ulang.

Tak lama kemudian mereka mendekat. Teman yang lain ada yang baru membuat dan mengedit surat pernyataannya di sebuah laptop yang dia pangku. Sedang Elis sudah siap, suratnya pas berada ditangan nya.

Dan aku mengeluarkan surat itu dari tas yang ku pikul dari tadi. Kak DK pun merespon seakan tahu apa yang akan kami berikan.

Dia kemudian mengeluarkan surat. Semacam absen. Setelah kami mengumpul surat itu dia menyuruh kami untuk mengisi surat itu. Tercantum nama, alamat, nomor hp dan tandatangan. aku mengisinya dengan lugas tanpa kebingngan apapun. Hal ini sudah wajar bagiku dalam setiap proses pendaftaran.
Setelah itu. Sebelum pulang aku duduk di secret berbagi cerita dan mendengarkan teman yang lain beserta senior yang ada di UKM Seni.
Senja semakin larut. Suara radio Masjid dari kejauhan Pampang sana sudah mulai terdengar. Aku kemudian pamit untuk pulang kepada orang yang berada disekret. Bersiap menunggu informasi kegiatan selanjutnya.

***

Sebulan berlalu, kami diinformasikan untuk berkumpul kembali membicarakan prosedur dan tahap pengambilan anggota penuh via sms. Dan tanggal 21 agustus akan diadakan workshop kekaryaan. Sebelum workshop kekaryaan tersebut kami harus melakukan kegiatan olah tubuh setiap sorenya hingga waktu workshop tiba, agar kebugaran tubuh tetap terjaga dalam proses nanti.


Hari demi hari berlalu, aku hanya tidak menghadiri dua kali olah tubuh karena kepentingan tertentu. Dan dihari terakhir olah tubuh kami diinformasikan alat-alat apa saja yang akan dibawa saat workshop tiga hari nanti. Setelah adzan Maghrib kami baru pulang, bersiap untuk berangkat besok malamnya.

***

Malam itu kami berkumpul bersama di depan sekretariat untuk bedoa sebelum berangkat ke Benteng Somba Opu, tempat diadakannya workshop. Waktu menunjukkan pukul  19.37 kami baru meninggalkan sekretariat menuju tempat lokasi.



Dalam proses workshop aku mendapatkan banyak pelajaran dan ilmu yang mungkin tidak akan saya dapatkna diluar. Bahwa seni itu bukan sekedar seni seperti yang ada di tv kebanyakan. Seni harus berkesinambungan dengan seluruh golongan masyarakat. Seni harus bermanfaat bagi banyak orang. Dan untuk menjadi seniman dan artis itu tidak mudah berbeda dengan penghibur-penghibur yang ada di tv.

Hingga sampai di penghujung acara saya berharap pelajaran yang saya dapatkan di workshop ini dapat berguna dan bisa menjadi bekal untuk menghadapi proses selanjutnya. Amin.


Share
Tweet
Pin
Share
5 comments


Akhir-akhir ini saya sering kali menjumpai beberapa slogan atau  kutipan dari beberapa orang di media sosial yang menyangkut tentang keamanan kota kita tercinta ini. Iya, Makassar. banyak orang mengatakan bahwa keadaan di kota ini sangat tidak aman, berhubung karena banyaknya kasus tentang perampokan dan penikaman yang dilakukan oleh begal atau dikota ini biasa disebut dengan  geng motor. 


Masyarakat seakan menuntut kepada pemerintah atau lembaga keamanan kota untuk mengamankan kota ini dari jaringan geng motor. Dengan slogan #MakassarTidakAman yang beredar di media sosial, membuat saya sebagai mahasiswa warga daerah yang melanjutkan pendidikan kekota ini menjadi was-was untuk kembali ke Makassar. Namun saat saya kembali, keadaan dikota ini cukup kondusif, tidak seperti yang saya bayangkan. 


Masyarakat kota atau pengguna media sosial seharusnya tidak perlu sibuk membuat status bahwa Makassar tidak aman dengan begitu berlebihan, karena akan merugikan sendiri citra kota ini. Bahkan yang tinggal dikota ini juga akan merasa ketakutan. Dan hasilnya hanya akan menciptakan ketakutan bukan kewaspadaan.


Berharap kepada pemerintah dan lembaga keamanan kota juga tidak terlalu banyak membantu. Karena itulah kita sebagai masyakat yang mempunyai jumlah lebih besar seharusnya ikut campur tangan membasmi dan mengamankan geng motor yang kerap meresahkan masyarakat ini. Bukan dengan menulis slogan yang menimbulkan ketakutan, tetapi mengawalinya dengan tindakan.


Menurut saya, tindakan yang perlu dilakukan oleh warga Makassar adalah membentuk pos jaga ditiap-tiap daerah yang rawan aksi geng motor, cara ini agar memperkecil ruang gerak pelaku. 


Selain itu, kita harus saling membantu dan peduli mana kala ada sesorang yang kita curigai diberhentikan atau mulai diancam oleh pelaku dipinggir jalan atau tempat lain. Hal ini karena, saya pernah melihat video cctv yang merekam aksi pelaku. Disana saya melihat si korban ditikam, padahal dijalan masih banyak kendaraan yang lalu lalang hanya melihat kejadian tersebut, saya kurang tau bahwa mereka melihat atau tidak, tetapi yang saya sebutkan disini respon masyarakat melihat disekeliling, bukan sikap tidak peduli sebagai pengguna jalan.


Mungkin dengan adanya campur tangan dari masyarakat diharapkan dapat mencegah aksi-aksi yang tidak diinginkan ketika dijalan. Pemerintah juga seharusnya tidak boleh lalai dalam menjaga kemanan kota, hal ini supaya terjadi kerjasama yang kuat antara pemerintah atau lembaga kemanan seperti polisi, TNI, dll dan masyarakat dapat terjalin agar terciptanya kota Makassar yang aman dan sama-sama kita cintai ini.

Saya akan menuliskan sedikit sajak puisi tentang kota ini, selamat membaca :)

Takut rembulan
Matahari berakhir menyibak terik
Gelap setelah melonjak naik
Mata badik bersiap hanya tertarik
Garis busur terkantung  jadi budak awak

Aku melihat orang bodoh tak tau berita
Berdarah darah dipinggir panggung
Dia ditikam dirampok perut kendaraannya
Oleh orang buta diberi bersuluh  

Kemana daeng prajurit tengah malam
Yang menjaga jalan dari uang lapar
Aku tak tau siapa lawan teman jalan
Kota ini penuh keraguan dalam jalan rembulan




Didepan tempat ini adalah tempat dibusurnya bos polisi


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


“Kamu mau kemana?” tanpa menjawab pertanyaan itu aku bergegas ke toko yang menjual beberapa boneka dipinggir jalan. Dari tadi sore hingga pukul setengah lima aku berada dirumahnya. Dia Zul temanku. Hanya berbnicang tentang persiapan besok dalam pertandingan Pencak silat yang telah kami impikan jauh-jauh hari.

Sebenarnya rencana ini telah lama berada dalam otakku, tapi nyatanya belum berani aku lakukan. Dan besok pikiran ini harus bersih dari hal-hal luar yang dapat mengganggu pertandingan. Setelah menanyakan dimana dia berada di jejaring sosial, aku langsung pamit dari rumah Zul, bergegas ke tempat  itu. Perlahan aku turun dari motor, dengan baju yang agak basah hasil dari latihan tadi sore. Pura-pura menanyakan harganya, padahal sebelumnya aku sudah tau berapa uang yang harus kukeluarkan dan kukumpulkan sebelum membelinya, karna tidak mungkin aku minta dengan orang tua lantas berbicara bahwa aku ingin membeli boneka untuk seorang gadis.

Rumahnya searah dari rumahku ketika pulang dan berangkat sekolah. Sampai disana tepat didepan rumah itu. Aku bingung harus berbuat apa? Sungguh, hal yang memalukan. Beberapa kali aku singgah kemudian melewatinya lagi, singgah kemudian melewatinya lagi.  Entah berapa kali hal yang sama kulakukan. Kini aku berhenti tepat dirumahnya lagi. Aku berdalih menarik lengan panjang dari sweaterku yang menampakkan jam tangan yang sudah menununjukkan pukul setengah enam. Mengapa tidak. Dari tadi aku selalu diperhatikan oleh penjual warung sop saudara yang berada di depan rumahnya seperti perampok yang bersedia menghabiskan seisi rumah yang ada didepanku ini. Dia selalu berdiri didepan warung  itu. Mengipas ikan bakar yang ada didepannya, sambil pura-pura melirik satiap gerakanku. Sungguh, pemandangan yang sangat bodoh. 

Adzan maghrib telah bergema menelusri langit-langit bumi. Kini aku benar-benar benci dengan keberanianku. Setelah beberapa kali melakukan hal yang sama. Aku memutuskan untuk menyerah, menghapus seluruh rencana bodoh itu. Aku melewati rumahnya memandangi  teras depan rumahnya yang selalu kosong saat sore kedatangan ku. Kemudian menoleh ke arah warung itu, penjual itu tetap disana menatapku seakan berkata  aman, akhirnya si perampok pulang....

***

Malam ini adalah malam hasil kepengecutan ku dari senja tadi. Bulir-bulir hujan perlahan mengenai genteng rumah. Aku berbaring diatas kasur menatap langit-langit kamar dan meratapi kegagalanku. Besok aku akan berangkat. Apakah aku harus memikirkan kegagalan ini setiap saat bertanding? Ini hanya akan menjadi hambatan. Aku harus menyelesaikan urusan senja tadi malam ini. Tiba-tiba sebuah ide melintas dalam benakku.

 Diluar hujan dan waktu kini menunjukkan pukul 20.35. Kini aku kembali keluar melanjutkan kegagalan senja tadi. Dengan memakai jaket hitam. Boneka itu aku masukkan kedalam tas agar tidak basah. Tubuhku basah, jalanan sangat gelap malam ini dan helm ku penuh dengan butiran-butiran hujan.

Kini aku berhenti tepat didepan rumahnya. Suasana senja tadi sama sekali tidak berubah. Didepan rumahnya tetap berdiri seorang penjaga warung yang mengipas ikan bakarnya, aku tidak menoleh. Takut dia akan menyadari kedatanganku. Aku mengeluarkan Handphone mengirim sebuah pesan.

*Pengirim           : Kamu dimana?
(beberapa menit kemudian)
*Q                     : Dirumah.
*Pengirim           : Bisa tidak kamu keluar sebentar?
(beberapa menit kemudian)
*Q                      : Keluar darimana, untuk apa?
*Pengirim           : Rumah, aku ada diluar (Pesan gagal terkirim)

Sungguh. Tuhan sepertinya memberi banyak cobaan. Percakapan itu berhenti tepat saat pulsaku habis. Sang penjaga warung sekarang menatapku, menyadari keberadaanku selarut ini. Dia kini benar-benar curiga.

Hujan bertambah deras membasahi seluruh tubuh membuat rambutku menguntai basah. Tasku kupeluk dan kulindungi dengan tubuhku. Tidak ada cara lain, aku melangkah turun dari motor. Melangkah  perlahan memasuki pekarangan rumahnya. Sampai diteras. Kukeluarkan boneka itu dari dalam tas. Menaruhnya tepat di teras itu, tanpa terkena hujan. Aku kemudian melangkah kembali. Melihat Si penjaga warung yang menatapku sayup-sayup, aku kembali menatapnya tersenyum...

Saat pulang, aku segera mengisi pulsa Handphone  yang sempat habis tadi. Memberanikan diri menelponnya untuk pertama kalinya. Kemudian aku duduk diluar rumah menunggu panggilanku diangkat, tanpa sadar masih memaki seragam yang masih basah. Tanganku bergetar, jantungku berdetak kencang sekali. Bukan karna kedinginan. Hanya karna dia mengangkat telponku untuk pertama kalinya.

Aku        : Ha...Halo?
Q            : Iya?
Aku        : Kamu dimana?
Q            : Di kamar sama sepupu.
Aku        : Bisa tidak kamu keluar sebentar, ada makhluk lain yang menunggu kamu diluar...
                 (aku tersenyum)
Q             : Ahh, takut
Aku        : Hehehe, bercanda kok, keluar aja sebentar
Q             : Oiya, tunggu...
Aku        : Bilang klo sudah didepan pintu yaa
Q             : Hmm..

Hujan mulai mereda, tapi tubuhku malah bertambah dingin. Belum pernah aku menelpon orang yang benar-benar aku cintai selama ini. Aku melihat timernya sudah lewat satu menit. Ini sejarah!

Q             : Ini sudah didepan pintu
Aku        : Buka pintunya
Q             : Iyaa,..
Aku        : Sudah?
Q             : Iyaa, trus?
Aku        : Hadap kiri, trus maju ke teras kamu
(Seketika dia tidak menjawab apa-apa)
Q             : Astaga,...
Aku        : Sudah dapat?
Q             : Iyaa, tapi ini untuk apa?
Aku        : Entahlah, anggap saja sebagai hadiah dari orang yang kesurupan, hehehe
Q             : Oo, hahahh, makasih kak
Aku        : Sama-sama
(aku tersenyum sendiri, entah karna apa)

Aku kemudian menutup telpon dan mengirim sebuah pesan singkat Namanya Mrs Pinky di jaga baik-baik yaa :)
Malam itu perasaanku buncah akan kebahagian, hatiku sempurna layaknya seorang pemuda yang benar-benar jatuh cinta. Besok aku siap berangkat.







Share
Tweet
Pin
Share
10 comments
Newer Posts
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose