• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail

 

Reyhan Ismail
Fotonya ga nyambung. Tapi ga papa lah. Daripada kosong thumbnailnya


"Makanya cepet nikah biar nanti ada yang rawat"

Saya sudah muak sekali dengan kata-kata seperti ini. 

Kenapa akhir-akhir ini setiap permasalahan hidup, solusinya harus menikah?

Setiap saya cuci piring sendiri

Setiap saya memasak sendiri

Setiap saya menyapu sendiri

Pasti ada-ada saja orang lewat yang nyelutuk "Makanya nikah, biar ada yang rawat"

Kenapa kesannya laki-laki kayak tidak bisa merawat dirinya sendiri?

Kenapa laki-laki harus dirawat sama perempuan?

Stigma seperti itu sepertinya sudah mengakar di otak orang-orang. Seakan-akan seluruh urusan rumah tangga, perempuan adalah ahlinya. Padahal, siapa saja juga bisa. Tugas rumah tangga tidak cuman terpaku pada satu gender. Tapi tugas yang punya rumah, iya ngga sih?

Revolusi Prancis sudah memberikan ruang bagi perempuan untuk berekspresi dan menyuarakan hak-haknya. Di Indonesia sendiri, R.A Kartini memperjuangkan hak tiap perempuan untuk bisa bersekolah dan melakukan pekerjaan yang dulunya di dominasi laki-laki. 

Kalo jaman sekarang perempuan diberi kebebasan untuk melakukan pekerjaan laki-laki. Kenapa laki-laki malah dibatasi untuk melakukan tugas yang kebanyakan dikerjakan perempuan?

Isnt fair enough?

Menikah menurut saya tidak seharusnya berangkat dari permasalahan pembagian peran. Tidak ada aturan yang mengatur perempuan harus mencuci baju, mencuci piring, tinggal dan membereskan rumah. Tidak ada juga aturan yang mengharuskan laki-laki harus kerja banting tulang, cari uang, memperbaiki pipa air atau menambal genteng bocor. Kalo kata Jared Diamond dalam bukunya Evolusi seks; Satu-satunya aturan yang tidak bisa kita hindari adalah hakikat biologis antar laki-laki dan perempuan. Perempuan menyusui, sedangkan laki-laki berbucur mencari makan.

Modernisme dan pemikiran pasca kolonial secara tidak sadar mengkotak-kotakkan peran antar laki-laki dan perempuan. Kesannya perempuan dan laki-laki tidak akan bisa hidup jika tidak menikah dan tinggal berdua. Padahal kan we are okay, with or without couple.

Ngga perlu harus nunggu nikah untuk baik-baik aja.

Ngga perlu harus nyari pasangan buat bahagia.

U can handle ur self.

Selesaikan persoalan hidupmu sendri dulu, setelah itu cari orang yang baru. Kita tidak datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan beban hidup. Kita datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan kebahagiaan. Kita bertemu dalam keadaan sama-sama bahagia. Sama-sama menyelesaikan masa lalu kita, lalu sama-sama membangun rumah tangga. Bukannya lebih baik?


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Gatau kenapa dari kemarin pengen banget nulis lagi di blog ini. Rasanya kayak pengen ke suatu tempat yg cuman ada diri saya sendiri di sana.

Blog ini adalah salah satunya. Tempat saya bertumbuh dan menceritakan banyak hal dengan bebas.

Sebelumnya salam dari Binjai selamat tahun baru 2022.

Banyak hal yg terjadi selama 2021. 2021 adalah tahun terberat yg pernah saya jalani selama saya hidup. Saya kira hal-hal buruk akan berhenti sampai tahun 2020. Nyatanya yg terburuk masih berlanjut di tahun 2021.

Saya tidak pernah menceritakan ini sebelumnya dimanapun. Tapi setelah melewati masa-masa sulit itu, saya akhirnya memberanikan diri untuk bercerita di sini.

Siapapun yang membaca cerita ini, baik orang lain atau diri saya sendiri beberapa tahun yang akan datang, saya cuman ingin kamu tahu bahwa tulisan ini akan menjadi tulisan yg paling emosional yg pernah saya tulis di blog ini.

Semuanya terjadi begitu cepat. Masa-masa sebelum wisuda S1 adalah masa-masa indah terakhir saya, sebelum permasalahan hidup yg sesungguhnya datang satu persatu.

Bulan Desember, saya akhirnya wisuda dan resmi menyandang gelar ST di belakang nama. Saya berjalan keluar gedung dengan beban berat yg tidak terlihat di pundak. Hidup saya tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Ada sebuah bisikan kecil yg membuat saya percaya bahwa kedepan, hidup akan berubah jauh dari sebelumnya.

Akhir bulan Januari, firasat saya benar terjadi. Setelah scan sinar X-ray di ruang dokter syaraf, bapak saya di vonis memiliki tumor di otaknya. Dokter tidak tahu, itu tumor jinak atau ganas. Dokter kasih saran buat operasi. Tapi bapak tidak mau. Kebanyakan kasus operasi otak, jarang sekali yg berhasil. Taruhannya adalah nyawa. Untuk tetap bertahan hidup, bapak cuman minum obat pereda kejang tiap hari. Iya, salah satu efek benjolan yg ada di kepala itu adalah karna tekanan tumor di kepalanya.

Saya masih ingat Ibu menangis di kamar waktu itu. Dia cerita ke dua adik saya, kalo bapak di vonis kena tumor. Pikiran saya kacau. Untuk bicara saja saya tidak sanggup dan bingung harus melakukan apa.

Beberapa bulan berlalu, kami kembali menyibukkan diri masing2. Ibu sibuk kerja, saya sibuk cari lowongan kerja, adik2 sibuk sekolah. Kami berusaha menenangkan diri bahwa Bapak akan baik-baik saja, walaupun di beberapa momen saya tahu hal-hal baik tidak akan terjadi jika dibiarkan begini saja.

Bulan Februari, pandemi virus Corona di Wuhan lahir. Bulan Maret, kasus pertama di Indonesia mulai masuk. Pemerintah melarang masyarakat keluar rumah. PSBB, PPKM, Dll. Banyak usaha gulung tikar, aktifitas diluar rumah ditiadakan, ekonomi lumpuh, banyak karyawan dipecat. Rencana saya untuk cari kerja makin sulit. Satu-satunya yg bisa dilakukan hanya bertahan hidup di rumah. 

Bulan demi bulan dihabiskan di rumah. Orang tua stress melihat saya nganggur. Stress melihat adik-adik saya cuman main ponsel. Dan saya stress memikirkan apa yg harus saya lakukan biar orang tua saya tidak stress.

Bapak masih rutin minum obat. Badannya makin kurus. Emosinya makin tidak stabil. Obat yg dikonsumsi hanya menenangkan, tapi tidak menyembuhkan.

Bulan November, Ibu tiba-tiba mengeluh nyeri di perut. Mungkin cuman penyakit maag/ asam lambung, pikir saya waktu itu. Ibu selama ini tidak pernah sakit. Mulai dari saya kecil, saya tidak pernah melihat ibu saya sakit karna penyakit. Saya juga seumur hidup tidak pernah merawatnya. Baru kali ini dia mengeluh sampai menjerit kesakitan di perut.

Sudah coba berbagai macam obat, tapi tidak kunjung sembuh. Sudah keliling konsultasi dari satu dokter, ke dokter lain dan mereka kompak, sama2 tidak tahu penyakit Ibu sebenarnya apa. Sudah coba berbagai macam obat tradisional, tapi tdak ada perubahan.

Dibagian bawah kiri perut Ibu, jika ditekan seperti ada daging yg keras didalamnya. Dugaan salah satu dokter; itu Kista atau Benjolan nanah di lambung (abses). Solusinya: Operasi Biopsi dengan tujuan untuk mengangkat sel dan meneliti jenis benjolan.


Operasi adalah tindakan yg mengerikan bagi sebagian orang. Termasuk Ibu saya. Berminggu-minggu dilewati dengan menahan sakit dan masih terus konsultasi di berbagai macam dokter dengan keahlian berbeda-beda. Mulai dari dokter umum, pencernaan, penyakit dalam, dll. Tapi mereka semua tetap menganjurkan untuk operasi.

Bulan Februari, 2021. Ibu akhirnya memutuskan untuk operasi di Makassar. Langkah dan solusi akhir yg saya harap akan memberi dampak kesembuhan yg signifikan. Dokter hanya perlu mengangkat benjolan nanah atau kista itu keluar dari perut, lalu bimsalabim Ibu saya akhirnya sembuh.


Operasi berlangsung 7 jam. Semua keluarga menunggu dari luar ruang operasi dengan ekspektasi yang sama; Dokter hanya perlu mengangkat benjolan, lalu Ibu saya sembuh.

Operasi selesai jam 3 sore. Setelah operasi, Ibu saya dibawa ke ruang ICU. Saya orang pertama yg masuk ke ruangan itu dan untuk pertama kali seumur hidup saya melihat Ibu saya menjerit seperti menahan rasa sakit yg tidak tertahankan. Saya melihat dia memakai alat bantu pernafasan dengan alis mengerut menahan sakit bekas operasi. Kaki saya bergetar, mata saya panas tidak bisa menahan air mata. 

Saya memegang pundaknya lalu mencium dahinya. Dia perlahan membuka mata, lalu menatap saya.

"Sudah diangkat, kista-nya nak?"
"Iyaa Ma, sudah. Mama sudah sembuh"

Ibu saya dirawat di ruang ICU selama sehari. Besok sorenya, dia sudah bisa dibawa ke kamar rawat inap. Semua orang lega, operasinya berjalan lancar. Tapi ternyata, kabar buruk tidak berhenti sampai situ.

Setelah pindah ke kamar rawat inap, seorang dokter tiba-tiba masuk ke kamar membawa kabar yg tidak ingin saya dengar dan tidak ingin saya anggap ada selamanya.

Sang dokter berdiri di sana. disudutkan berbagai macam pertanyaan oleh om saya mengenai hasil operasi Ibu saya. Dokter itu akhirnya mengatakan fakta sebenarnya.

"Terdapat tumor ganas di pankreas Ibu"

Seisi ruangan mendadak hening. Ibu saya hanya bisa diam.

Dunia saya seketika berhenti saat itu juga. Dua minggu kemudian hasil patologi juga sudah menunjukkan kalo Ibu di vonis mengidap tumor ganas jenis Liposarcoma di Pankreas. Tingkat harapan hidup tumor jenis ini sangat sedikit. 90% kasus bahkan berujung kematian. Kalaupun bertahan, paling lama hanya setahun.

Entah kenapa saya berusaha untuk tidak percaya. Setiap hari saya mati-matian menolak realita yang ada. Ibu saya akan sembuh. Ibu saya pasti sembuh. Ibu saya pasti akan sembuh. Tidak ada kenyataan yang bisa saya terima selain percaya bahwa Ibu saya pasti sembuh.

Keluar dari rumah sakit. Ibu saya berjuang mencari pengobatan terbaik. Dari pengobatan tradisional, medis, maupun non-medis.

Dua bulan dihabiskan untuk melakukan segala macam cara demi kesembuhan Ibu saya.

Sayangnya, kondisinya makin memburuk. Satu-satunya solusi akhir yg ditawarkan oleh dokter adalah kemoterapi. Pengobatan melelahkan yg menghabiskan banyak energi. Bahkan sebenarnya tidak pantas disebut pengobatan, karna kemoterapi hanya memperpanjang usia. Bukan mengobati.

Hingga bulan Mei 2021, Ibu saya sudah memasuki 2 tahap kemo yang menghabiskan banyak waktu, tenaga, harapan, doa dan biaya.

Dan tepat tanggal 24 Mei, pukul 06.15 adalah hari perjuangan terakhir Ibu saya. Dia pergi tanpa pamit untuk selamanya.


Saya hancur. 

Saya terpuruk. 

Tidak ada lagi yang tersisa. 

Dunia seakan kehilangan nyawanya. 

Ibu saya pergi dan tidak akan kembali lagi.

Ibu saya pergi meninggalkan saya, Bapak dan dua adik laki-laki saya yg masih sekolah. Selain itu dia juga meninggalkan usaha dengan banyak pekerja.


Beberapa Minggu berlalu keadaan Bapak saya makin buruk. Emosinya makin tidak stabil dan tubuhnya makin kurus. Tiap hari Bapak masih harus mengkonsumsi obat syaraf.

Bulan November 2021, Bapak saya menikah lagi. Tepat 3 hari sebelum hari 100 meninggalnya Ibu saya. 


Iya, saya tahu. Semuanya terjadi begitu cepat. Masalah hidup benar-benar datang bertubi-tubi. Beberapa yang saya tulis di sini hanya berupa potongan kecil. Masih banyak masalah yang tidak saya tulis dan saya simpan sendiri.

Di tahun 2021 tidak ada lagi yang tersisa selain duka.

Hari ini. Setelah semua yg berlalu. Saya akhirnya sampai pada tanggung jawab besar; Melanjutkan usaha orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga. Banyak rencana dan mimpi yg harus ditunda. Perkara cita-cita, sepertinya harus dikubur untuk sementara.

Setiap orang pasti akan melewati fase tersulit dalam hidup mereka. Kadarnya saja yg beda-beda.

Hidup ini seperti lari marathon. Ada yg berhasil sampai garis finish ada juga yang berhenti ditengah jalan. Dan saya memilih untuk terus berlari.

Tahun 2021 yang bisa saya lakukan hanya bertahan. Bertahan melewati banyak guncangan kehidupan. Jatuh, berdiri lagi. Jatuh, berdiri lagi. Masalah demi masalah datang silih berganti. Selama saya tidak berhenti, kejutan hidup masih layak untuk dinanti.

Di tahun 2022 saya tidak berharap terlalu banyak. Saya takut kecewa. Banyak hal yg terjadi secara tidak terduga. Barangkali masalah yg lebih berat menunggu di depan. 

Mungkin suatu saat saya akan kembali membaca tulisan ini dengan keadaan yg jauh lebih baik.

Jadi..

Untuk diri saya beberapa tahun yg akan datang: Tahun 2020-2021 adalah tahun terberat buat kita. Tapi kita berhasil ngelewatin ini bareng2. Ingat ini, kamu hebat dan kamu kuat. Tidak ada yg bisa membuat kamu menyerah. U're unstopable.

Ketika beerapa tahun yg akan datang, kamu berhasil dan jauh lebih bahagia dari hari ini, jangan lupa berterima kasih untuk kita di tahun ini. Tanpa masa-masa sulit seperti ini, mungkin kita tidak akan sekuat sekarang.

Terima kasih sudah bertahan!
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

malam ini saya nemu akun cewek yang cakep banget. adik kelas sih. tapi dulu dia biasa aja. tapi udah cakep, tapi nggak cakep banget. dan sekarang tuh pas stalking akunnya, gila sampai bikin gemes sendiri saking cakepnya.

sayangnya perasaan gemes kayak gitu selalu diiringi dengan perasaan pesimis dan rasa "mustahil lah dia tertarik sama saya". dan saat itu juga saya tiba-tiba tersadar kenapa ya, kenapa tiap kali ngelihat dan tertarik sama seorang cewek, kenapa perasaan pertama kali yang muncul dari dalam diri saya adalah rasa pesimis. dan ini nggak terjadi sekali dua kali doang. tapi sering. usaha saya selalu berhenti di perasaan mengagumi.

saya jadi mikir, layak nggak sih saya bisa ngedapetin perempuan yang bisa bikin saya terpana kayak perempuan-perempuan itu. yang bisa bikin saya gemes dan ngomong dalam hati "anjir pacar gue kenapa cakep banget". 

saya jadi sering ngerasa nggak layak. enggak layak ngedapetin apa yang saya mau. ekspektasi saya sih mungkin pasangan saya nanti kedepannya biasa-biasa saja.

kadang saya mau mau ntar pasangan saya dia yg saya harapkan. tapi sekali lagi layak nggak sih, bisa nggak sih saya ngedapetin apa yang saya mau dengan keadaan saya yang sekarang?

karena ya selama ini jujur setiap saya berjuang dapetin apa yang saya mau, seringkali dia malah makin jauh. nggak pernah sekalipun saya ngedapetin satupun. saya kayak ngerasa pengecut dan gak worth it buat siapapun. rasanya kayak capek aja gitu. capek mengejar sesuatu yang makin dikejar malah makin lari. akhirnya saya berhenti, dari sekian banyak sesuatu yang saya kejar semuanya malah pergi makin menjauh.

saya kembali nyoba bayangin keberhasilan apa yang bisa saya banggakan dalam hidup saya. terkhusus dalam hal relationship.

nggak ada rupanya...




Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

umur 24, 25, keatas tuh adalah fase dimana kita lagi capek-capeknya buat memulai hubungan dengan orang yang baru. bayangin gimana caranya nemu pasangan di mana kita lagi capek kenalan sama orang dan ditambah lagi sirkel pertemanan kita yang makin mengecil. 

jujur akhir-akhir ini saya ngerasa kaya frustasi. bulan februari tahun depan umur saya udah 25 tahun dan apa ya, udah mulai pasrah aja gitu soal perkara jodoh. saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi emang kayaknya jodoh tuh datangnya nggak bisa dipaksain deh. sekeras apapun kamu berusaha, sekencang apapun tangan kamu menggenggam, dan selama apapun kamu mempertahankan. Kalau dia bukan jodoh kamu, dia bakal pergi apapun caranya.

saya udah beberapa kali nyoba, buat memulai hubungan dengan seseorang. tapi nggak tahu kenapa apa gagal mulu dah. pasti kayak ada aja gitu hambatannya. mulai dari cuman nganggep kakak, tiba-tiba dia punya pacar baru, dan kebanyakan karena responnya nggak baik. contohnya kayak cewek tercuek yang saya deketin akhir-akhir ini. lihat aja nih, lihat dan nilai gimana responnya :


gila nggak tuh? gimana enggak frustasi.

bayangin udah susah-susah nyari topik obrolan. hh, responnya malah kayak gitu. "Hahaha", "Hehehe", Haheho". Saya jadi curiga ini orang isi keyboard-nya kayaknya cuman h sama a deh.

setelah berusaha selama beberapa minggu, tapi responnya masih kayak gitu-gitu aja. Malam ini saya mutusin buat berhenti ngejar dan berhenti nge-chat lagi.

terakhir saya nge-chat dia, pas saya ngajak dia buat makan bareng. eh tapi malah dicuekin. nggak dibales. tapi dia masih aktif upload story. lucu nggak tuh. kayaknya emang dari sononya dia nggak tertarik deh hahaha. its okey. mending kayak gitu daripada nanti saya berharap lebih.

apa ya..

makin kesini saya itu makin capek buat basa-basi ngejar dan jadi sok asik sama seseorang. jadinya sekarang kalau saya tertarik sama orang tuh kayak ya udah, males buat ngejar gitu. saya cuman bisa kayak anjir cakep banget abis itu ya udah skip. soalnya udah bener-bener putus asa dan nggak yakin kalau it's worth it. bukannya pesimis, tapi lebih ke realistis. jadi orang dewasa itu bikin kita makin sadar diri. cinta di usia dewasa tuh udah bukan 100% pakai feeling lagi. jatuh cinta tuh bukan cuman pakai hati lagi. Tapi lebih ke pertimbangan otak. tentang mencari yang sepadan dan yang saling menguntungkan. 

saling mencintai doang mah nggak cukup.

untuk sekarang kayaknya saya mau fokus karir dan nyari duit yg banyak dulu. mau fokus nyari pasangan juga udah capek. siapapun jodoh yang telah dipilihkan sang pencipta buat saya, pasti itu itu yang terbaik.

dan barangkali jodoh itu nggak perlu dicari tapi dipertemukan. cepat atau lambat dia akan datang tepat waktu.

semoga aja.

semoga aja dia lisa blackpink.

hehehe. hehehe.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 


salah satu yang bikin saya males buat ngedeketin seseorang adalah saat di mana kita tuh harus memulai semuanya dari awal lagi. pada dasarnya kalau kita ngedeketin seseorang harapan kita pasti gimana caranya supaya orang itu suka dengan kita.

dan itu sebenarnya sah-sah aja. cuman yang bikin saya males adalah ketika respon yang kita harapin tuh nggak sesuai. misalnya kamu udah ngeluarin usaha yang lebih tapi malah nggak dihargai. atau udah susah susah nyari topik buat ngobrol eh tapi malah nggak direspon. atau pas kamu udah nanya-nanya banyak hal tentang dia, eh kamu malah dicuekin. kesel ga sih kalau kayak gitu.

sebulan terakhir ini saya ngedeketin seorang cewek yang cueeek banget. asli. saya beberapa kali sempet modus ngomentarin storynya. ya biasalah kayak sok asik gitu. cuman tuh dia sama sekali nggak pernah bales. padahal masih tetap aktif upload story. dan yang paling ngeselinnya adalah giliran dia bales, cuman "hahaha", "hehehe" doang. asli dah, cowok mana yang nggak prustasi kalo digituin.

saya nggak tahu apakah dia emang sibuk, cuek, atau emang nggak tertarik. padahal kan belum tentu saya ya ngechat dia dengan tujuan buat PDKT kan (padahal emang iya). bisa aja mungkin karena saya pengen kenalan aja sama dia. pengen temenan.

tapi nggak tahu kenapa ya, jujur tuh memulai hubungan dengan seseorang dengan niat buat temenan tuh lebih gampang daripada memulai hubungan dengan seseorang dengan niat menjadikan dia pasangan. 

soalnya kalau kamu niatnya pengen temenan sama orang tuh nggak ada harapan yang lebih buat disukai balik. Beda kalau niatnya pengen ngejadiin dia pasangan, itu harapannya biar dia suka sama kamu tuh pasti tinggi banget. Makanya mungkin itu yang bikin kita jadi kaku dan nggak santai.

ngejadiin temen sebagai pasangan sebenarnya modalnya tuh udah ada. udah nggak perlu basa-basi kenalan mulai dari awal lagi, soalnya pasti dia udah kenal sama kamu. beda kalau kita kenalan sama orang yang baru buat ngejadiin dia pasangan, pasti butuh effort yang lebih buat kenalan dan pdkt lagi.

cuman kenapa ya saya tuh kalo udah temenan sama cewek tuh mau secantik, sebaik dan semanis apapun dia, tapi kalau saya udah nganggep dia sebagai temen, kemungkinannya saya bakal ngejadiin dia sebagai pasangan tuh 0%. karena udah nyaman sebagai temen dan udah cukup sampai situ.

respon tiap orang kalau kenalan sama orang baru pasti beda-beda. sama aja kayak kamu tiba-tiba diajak ngobrol sama seseorang di tempat umum terus ya pasti nggak bakal bisa langsung akrab. naluri kita justru bakal berusaha defensif dan ngerespon seformal mungkin. Itu yang bikin saya males. buat bikin orang yang terbuka sama kita tuh butuh waktu dan butuh usaha yang lebih besar. dan ketika dia udah terbuka sama kita belum tentu juga dia suka sama kita.

bayangin udah usaha sekeras mungkin, udah ngeluangin waktu sebanyak mungkin, taunya di ending nanti dia malah nganggap kamu temen. kan tai ya.

kalau kita mikir buruk buruknya tuh pasti nggak bakal ada habisnya. saya sampai titik ini jadi mikir, kalau yang namanya usaha tuh pasti enggak selamanya bakal berhasil. bahkan banyak yang gagal. dan barangkali sebenarnya bukan masalah berhasil atau gagalnya. tapi tentang mencari tahu jawabannya. 

kayaknya gagal setelah berusaha dulu lebih mendingan deh daripada gagal tanpa nyoba sama sekali. iya nggak sih?

mungkin yang saya butuhin cuman nyari tahu sebanyak mungkin. nyobain berbagai macam penolakan. jodoh emang gak bakal kemana, tapi sampai kapan kita nunggu? kita selalu punya pilihan buat mencari jalan menuju pelukan pasangan kita masing-masing, kan?





Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose