• Home
  • Tentang Penulis
  • Kontak
    • Category
    • Category
    • Category
  • Buku
  • Portofolio
facebook twitter instagram youtube goodreads

Reyhan Ismail


Sehari yang lalu, tanggal 14 Februari hari tepat hari Valentine. Saya beli coklat di sebuah minimarket. Rencananya mau ngasih (sebut saja namanya) Fira. Seorang perempuan yg ngga tau kenapa hobi nanem benih buka mawar di kepala saya akhir-alhir ini. Kadang dia sering datang dalam bentuk harapan buat nyiram bunga-bunga mawar di kepala saya.

Saya pikir Fira sudah dapat coklat dari banyak cowok. Pukul 20.21 dia ngepost story yg intinya ngomong kalo dia belum dapet coklat dari siapapun. Saya inisiatif mau ngasih coklat buat dia. Tapi sayangnya pas sampai rumahnya, saya ngga tau rumah dia yang mana.

Saya nyari informasi ke temen2nya tapi slow respon. Pukul 22.30 hampir tengah malam. belum ada kabar dari siapapun. Barangkali ketiduran. Saya akhirnya pulang, dengan coklat di tangan. Saya mau ngasih coklat ini besok aja, kata saya dalam hati.

Esok hari, saya chat Fira. Tapi dia malah ngomong "Ngga usah kak, saya lagi perawatan gigi, ngga makan coklat"

"Ga papa, kasih orang rumah aja"

"Ngga usah kak, makasih 🙏"

Akhirnya, coklatnya saya makan sendiri. Rasanya? 

Pait.

***

Akhir-akhir ini saya ngerasa semesta kayak lagi banyak bercanda pas saya lagi ngedeketin seseorang. Contohnya beberapa Minggu lalu, pas abis launching buku Architecture 034 di sekitaran pantai Akkarena. Saya ngajak Inis ke pinggir pantai buat ngobrol-ngobrol doang. Inis itu salah satu junior di kampus yang kebetulan jadi panitia juga pas acara launching.

Waktu itu sekitar pukul tujuh malam. Lampu-lampu pinggir pantai Akkarena begitu syahdu. Saya jalan-jalan sendirian. Ngeliat debur ombak, cahaya bulan dan beberapa perempuan foto-foto di tulisan love di dermaga.

"Siapa yg sampai di ujung duluan, jodohnya Taehyung" perempuan-perempuan itu lomba lari sampai ke ujung dermaga.

Saya masih terus jalan sambil menghirup udara dingin malam itu. Dermaga pantai Akkarena banyak disinari lampu-lampu hias. Cocok sekali buat spot foto-foto malam hari. Di ujung dermaga, saya duduk dan berpikir seru kali ya kalo ada temen ngobrol.

Saya ngechat Inis, "Masih rapat?" 

Selesai acara, Inis dan teman-temanya memang lagi briefing di salah satu gedung pinggir pantai.

"Masih"

"Nanti kalo sudah selesai, ke sini ya. Bagus pemandangan langitnya" 

"Oh, iya kak"

Saya nunggu beberapa menit. Setelah itu Inis ngasi kabar, "Kak Rey di bagian mana?"

"Saya di dermaga yg banyak lampu hiasnya"

Dia akhirnya datang, pikir saya. Tapi sebelum sampai di dermaga dan chat itu terkirim. Seluruh lampu di pinggiran pantai Akkarena malah mati.

Gelap. 

Pantainya sudah tutup.

Saya cuman bisa ketawa dalam hati sambil ngomong ke Inis, "Kayaknya kita emang ngga ditakdirin buat ketemu deh"

***

Saya pulang dari pantai Akkarena sendiri. Sepanjang perjalanan cuman bisa ngeliatin jalan dan gedung-gedung tinggi. Momen kayak gitu biasanya menghadirkan perasaan-perasaan melankolis.

Kalo nginget kejadian tadi, Saya jadi inget momen beberapa tahun yg lalu. Kata beberapa orang, kalo lu ngga cakep dan ngga kaya, setidaknya jadilah laki-laki yg harum. Singkat cerita begini :

Saya ngedektin Ainun. Kami pdkt, basa-basi. Saya ngajakin dia jalan. Sebelum jalan sama dia, saya mesen parfum di shopee. 

Beberapa hari berlalu, Parfumnya belum sampai. Butuh waktu dua Minggu lebih, buat parfumnya sampai dirumah.

Pas parfumnya sudah sampai, Ainun akhirnya balikan sama mantannya. Akhirnya saya make parfumnya buat diri saya sendiri.

Baunya, bau-bau patah hati. Pait!


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 


laporan beberapa hari terakhir ini. 

ikan koi saya mati kehabisan air bersih.

launching buku arhcitecture 034 di pantai akkarena yang singkat. jalan-jalan di sekitar pantai dan lagi-lagi kesepian menyerupai ombak yang menggulung masa lalu.

sedang proses menulis buku kedua. semoga bisa kelar tahun ini. gradien, wait for me!

lagu pertama masih dalam proses mastering. previewnya lumayan menarik. semoga bakal ada sesuatu yang mengejutkan.

sedang kesal-kesalnya dengan orang yang tidak menepati janji.

harapan itu menjilat seperti api yang tertiup angin. gejolak, ada sesuatu yang kembali menggebu. i found someone. seseorang yang membuat saya bertanya-tanya makin penasaran.

bagaimana bisa saya memilikinya?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

Reyhan Ismail

Hari ini saya resmi menginjak umur 25 tahun. Kalo rata-rata umur manusia berakhir di umur 50 tahun (Ibu saya meninggal di umur pas 50 tahun), bisa di bilang saya sudah setengah jalan menuju akhir kehidupan (itupun kalo dikasih umur yang panjang.

Ulang tahun ke-25 ini bisa dibilang cukup sepi. Biasanya kalo ulang tahun, saya bakal upload apapun yang ngasih tahu kalo hari ini saya ulang tahun. Biar dikasih ucapan hehe. Tapi tahun ini, entah kenapa malas aja rasanya. Malas dan bosan. 

Sudah banyak hal yang saya lewati. Dan yang paling buruk terjadi beberapa tahun belakangan ini. Kata orang proses pendewasaan. Tapi lebih tepat jika saya menyebutnya fase terberat dalam hidup.

Umur 25. Rasanya cuman pengen banyak waktu buat diri sendiri. Berkelana keliling dunia. Mendengarkan lagu The Beatles. Bertemu banyak orang. Baca banyak buku. Keinginan saya cukup sederhana. Bisa hidup tanpa beban di kepala. Tanpa mikir apa yang harus dilakuin supaya hidup lebih bermakna. 

By the way, kata orang hidup harus punya tujuan. Tapi menurut saya punya tujuan itu beban. Kenapa kita ngga hidup saja. Tanpa mikir buat cari kerja, cari uang, nabung, membesarkan anak, menjaga pasangan, membahagiakan orang tua. Why we cant just living.

Umur 25. Hidup di era modern kayak sekarang. Rasanya kayak dipaksa buat menuruti kemauan banyak orang. Menurutui ekspektasi society. Abad 21 itu kayaknya bakal jadi abad paling berisik. Damai. Tapi berisik. Terlalu banyak orang bersuara. Entah penting atau tidak penting. Why we cant just living?

Saya sebenarnya tipe orang yang cukup tidak peduli terhadap apapun yang terjadi di luar sana. Selama saya masih bisa tidur, makan, buang air dan tertawa dengan cukup, itu sudah cukup. Kenapa orang-orang di luar sana suka berdebat seakan-akan dunia sedang tidak baik-baik saja.

Umur 25. Saya sedang berada pada proses menjadi manusia pada umumnya. Belajar hidup sebagai orang dewasa. Belajar menerima seseorang. Belajar membayangkan bagaimana rasanya punya istri dan anak. Belajar berpura-pura. Belajar menuhankan uang. Belajar bagaimana rasaya punya kepentingan. Belajar menjadi manusia yang punya tujuan.

Ah, saya rindu rasanya menjadi bumi. 

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

 Saya percaya bahwa suatu saat saya akan menulis postingan seperti ini di blog. Postingan yang isinya tulisan mengenai buku pertama saya.

Yes, finally my first book is born!

Seneng? Pastinya. Bertahun-tahun yang lalu cuman bisa mimpi kalo suatu saat pengen punya buku sendiri. Dan akhirnya itu terwujud hari ini.

Buku pertama saya berjudul Architecture 034. Berisi kumpulan jurnal/ catatan harian selama kuliah di arsiktektur. Banyak tulisan-tulisan di dalamnya yang pernah saya muat di blog sebelumnya. Tentunya semua cerita di dalamnya di kemas dalam kacamata komedi yang hopefully, lucu.


Buat kamu yang mau beli, buku ini bisa di dapatkan di Tokopedia dan Shopee penerbit One Peach Media.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

Reyhan Ismail
Fotonya ga nyambung. Tapi ga papa lah. Daripada kosong thumbnailnya


"Makanya cepet nikah biar nanti ada yang rawat"

Saya sudah muak sekali dengan kata-kata seperti ini. 

Kenapa akhir-akhir ini setiap permasalahan hidup, solusinya harus menikah?

Setiap saya cuci piring sendiri

Setiap saya memasak sendiri

Setiap saya menyapu sendiri

Pasti ada-ada saja orang lewat yang nyelutuk "Makanya nikah, biar ada yang rawat"

Kenapa kesannya laki-laki kayak tidak bisa merawat dirinya sendiri?

Kenapa laki-laki harus dirawat sama perempuan?

Stigma seperti itu sepertinya sudah mengakar di otak orang-orang. Seakan-akan seluruh urusan rumah tangga, perempuan adalah ahlinya. Padahal, siapa saja juga bisa. Tugas rumah tangga tidak cuman terpaku pada satu gender. Tapi tugas yang punya rumah, iya ngga sih?

Revolusi Prancis sudah memberikan ruang bagi perempuan untuk berekspresi dan menyuarakan hak-haknya. Di Indonesia sendiri, R.A Kartini memperjuangkan hak tiap perempuan untuk bisa bersekolah dan melakukan pekerjaan yang dulunya di dominasi laki-laki. 

Kalo jaman sekarang perempuan diberi kebebasan untuk melakukan pekerjaan laki-laki. Kenapa laki-laki malah dibatasi untuk melakukan tugas yang kebanyakan dikerjakan perempuan?

Isnt fair enough?

Menikah menurut saya tidak seharusnya berangkat dari permasalahan pembagian peran. Tidak ada aturan yang mengatur perempuan harus mencuci baju, mencuci piring, tinggal dan membereskan rumah. Tidak ada juga aturan yang mengharuskan laki-laki harus kerja banting tulang, cari uang, memperbaiki pipa air atau menambal genteng bocor. Kalo kata Jared Diamond dalam bukunya Evolusi seks; Satu-satunya aturan yang tidak bisa kita hindari adalah hakikat biologis antar laki-laki dan perempuan. Perempuan menyusui, sedangkan laki-laki berbucur mencari makan.

Modernisme dan pemikiran pasca kolonial secara tidak sadar mengkotak-kotakkan peran antar laki-laki dan perempuan. Kesannya perempuan dan laki-laki tidak akan bisa hidup jika tidak menikah dan tinggal berdua. Padahal kan we are okay, with or without couple.

Ngga perlu harus nunggu nikah untuk baik-baik aja.

Ngga perlu harus nyari pasangan buat bahagia.

U can handle ur self.

Selesaikan persoalan hidupmu sendri dulu, setelah itu cari orang yang baru. Kita tidak datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan beban hidup. Kita datang ke pelukan seseorang untuk menitipkan kebahagiaan. Kita bertemu dalam keadaan sama-sama bahagia. Sama-sama menyelesaikan masa lalu kita, lalu sama-sama membangun rumah tangga. Bukannya lebih baik?


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

Tentang Reyhan Ismail

About Me

Seorang penulis blog yang bercita-cita menjadi Hokage

Follow Reyhan Ismail

  • goodreads
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Jumlah Reylovers

Categories

#curhat (17) Arsitektur (19) Award (2) Blog (13) Buku (2) Cerpen (6) chord (1) Curhat (14) Film (3) Kampus (7) Kesialan (18) Lagu (2) Liburan (4) Medsos (1) Opini (27) Pengalaman Pertama (7) Puisi (8) Review (8) Reyhan Ismail (43) Standup Comedy (1) Tips dan Trik (5)

Arsip Blog

  • ▼  2026 (14)
    • ▼  July 2026 (3)
      • waktu
      • free
      • lethologica
    • ►  June 2026 (2)
    • ►  May 2026 (7)
    • ►  April 2026 (2)
  • ►  2025 (3)
    • ►  December 2025 (2)
    • ►  September 2025 (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  April 2024 (2)
    • ►  January 2024 (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  January 2023 (1)
  • ►  2022 (15)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  October 2022 (1)
    • ►  August 2022 (1)
    • ►  July 2022 (1)
    • ►  June 2022 (2)
    • ►  May 2022 (2)
    • ►  March 2022 (1)
    • ►  February 2022 (3)
    • ►  January 2022 (3)
  • ►  2021 (10)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  September 2021 (4)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (1)
    • ►  March 2021 (1)
    • ►  January 2021 (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  October 2020 (2)
    • ►  August 2020 (2)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (10)
    • ►  October 2019 (1)
    • ►  September 2019 (3)
    • ►  August 2019 (2)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (10)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (1)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (2)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (2)
    • ►  February 2018 (1)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  July 2017 (1)
    • ►  June 2017 (2)
    • ►  May 2017 (3)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (2)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December 2016 (4)
    • ►  November 2016 (6)
    • ►  October 2016 (5)
    • ►  September 2016 (4)
    • ►  August 2016 (2)
    • ►  March 2016 (4)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (3)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  October 2015 (6)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  August 2015 (1)
    • ►  March 2015 (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July 2014 (2)

Tulisan yang viral

  • Video Call sama cewek tak dikenal
  • REVIEW FILM UANG PANAI' ; MAHAR(L)
  • My first "Dugem-dugem" (+18)

Tim Sukses

Baca buku skuy

2022 Reading Challenge

2022 Reading Challenge
Reyhan has read 1 book toward his goal of 25 books.
hide
1 of 25 (4%)
view books

Created with by ThemeXpose